Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Keracunan Matahari

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 13/10/2022

Keracunan Matahari

Terpapar matahari bisa menyebabkan kulit terbakar. Namun, apa jadinya bila Anda juga mengalami keracunan akibat paparan matahari?

Apa itu keracunan matahari?

Keracunan matahari adalah kondisi yang menimbulkan bercak merah menonjol akibat paparan matahari langsung.

Kondisi ini juga bisa membuat Anda sangat haus dan mengalami beberapa gejala keracunan, seperti menggigil dan mual.

Kondisi yang disebut dengan polymorphous light eruption ini rentan muncul pada usia remaja atau umur 20-an.

Penyakit kulit ini biasanya hilang dengan sendirinya dalam waktu 10 hari tanpa adanya bekas luka atau jaringan parut.

Bila kondisinya sudah parah atau berkepanjangan, dokter mungkin akan memberikan tindakan atau pengobatan.

Gejala keracunan matahari

Beberapa gejala yang timbul bila Anda mengalami keracunan matahari, yaitu:

  • gatal,
  • kulit kering,
  • bercak kemerahan yang menonjol,
  • lepuhan kecil,
  • penebalan kulit seperti plak,
  • sensasi panas dan terbakar,
  • biduran,
  • demam,
  • pusing,
  • mual,
  • muntah,
  • kebingungan,
  • pusing,
  • napas pendek, dan
  • pingsan.

Gejala bisa timbul setelah beberapa jam setelah berada di luar ruangan.

Namun, ada pula beberapa orang yang mengalami gejala ini ketika terpapar sinar matahari dalam jangka waktu 20 menit saja.

Penyebab dan faktor risiko keracunan matahari

Hingga saat ini, belum diketahui penyebab pasti polymorphous light eruption.

Ruam yang menonjol biasanya timbul pada orang yang lebih sensitif terhadap paparan sinar matahari, terutama sinar ultraviolet (UV).

Sinar UV nantinya merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan ruam.

Sementara itu, gejala keracunan seperti mual dan pusing muncul karena tubuh mengalami dehidrasi parah.

Pasalnya, paparan sinar matahari yang intens bisa membuat tubuh mengeluarkan keringat dalam jumlah besar.

Akibatnya, tubuh kekurangan air dan elektrolit. Hal inilah yang menyebabkan dehidrasi dan muncul mual dan pusing.

Beberapa orang lebih rentan keracunan matahari ini bila memiliki faktor risiko berikut.

  • Kulit berwarna terang.
  • Riwayat keluarga dengan kanker kulit.
  • Hidup di wilayah ekuator sehingga cahaya matahari tepat di atas Anda.
  • Lupus.
  • Konsumsi antibiotik atau obat oles tertentu.
  • Kontak dengan tanaman yang mengiritasi.

Diagnosis keracunan matahari

Dokter akan mendiagnosis polymorphous light eruption berdasarkan pemeriksaan fisik dan evaluasi riwayat kesehatan.

Anda mungkin akan menjalani tes laboratorium berikut.

  • Biopsi: untuk mengambil sampel jaringan kulit yang ruam.
  • Tes darah: untuk mengetahui dugaan lupus dan jumlah antibodi pemicu respon ruam.
  • Phototesting: memaparkan sebagian kecil kulit ke paparan sinar UV untuk melihat seberapa sensitif kulit terhadap cahaya matahari.

Pengobatan dan pencegahan keracunan matahari

pengobatan keracunan matahari

Gejala bisa reda dan hilang tanpa bekas selama 2 minggu, tergantung pada keparahannya.

Namun, kondisi mungkin lebih parah bila Anda tetap terpapar matahari meskipun ruam belum mereda.

Bila mengorek atau menggaruk kulit yang terbakar, luka rentan mengalami infeksi yang juga bisa memperlambat penyembuhan.

Untuk meredakan polymorphous light eruption, dokter mungkin akan memberikan pengobatan penyakit kulit atau perawatan berikut.

  • Krim steroid atau dalam bentuk obat minum untuk meredakan gatal.
  • Obat pereda nyeri dengan resep untuk mengurangi peradangan.
  • Antibiotik oles.
  • Cairan infus untuk atasi dehidrasi.
  • Vitamin D, orang yang rentan keracunan matahari biasanya memiliki vitamin D yang rendah.

Bila gejala yang muncul membuat Anda sulit beraktivitas, dokter mungkin menyarankan fototerapi untuk mencegah kekambuhan.

Terapi ini dilakukan dengan cara memberikan paparan sinar UV pada kulit dalam intensitas yang rendah.

Prosedur ini diharapkan membuat kulit Anda tak lagi terlalu sensitif terhadap paparan sinar matahari.

Pencegahan bisa dilakukan dengan pemberian obat minum steroid jangka pendek dan hydroxychloroquine di bawah pengawasan dokter.

Mengutip buku terbitan StatPearls (2022), dokter mungkin memberikan asupan antioksidan, seperti ekstrak tanaman Polypodium leucotomos, suplemen likopen, beta-karoten, nicotinamide, dan astaxanthin.

Perawatan keracunan matahari

Perawatan di rumah bisa membantu mengurangi gejala keracunan matahari. Berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan.

  • Gunakan kompres dingin atau berendam dengan air dingin.
  • Hindari menyentuh lepuhan agar mempercepat proses penyembuhan dan mencegah infeksi.
  • Gunakan baju tertutup pilih dengan bahan jahitan kain yang rapat.
  • Pakai tabir surya, pilih produk dengan SPF 50+ berspektrum luas (broad spectrum) dan tahan air, oles setiap 2 jam pada kulit yang tak tertutup pakaian.
  • Kurangi beraktivitas pada pukul 10.00 – 14.00, saat ini bumi mendapatkan paparan sinar UV dalam jumlah besar.

Komplikasi keracunan matahari

Keracunan yang parah biasanya menimbulkan masalah emosional, seperti kecemasan, depresi, dan stres.

Selain itu, Anda rentan mengisolasi diri karena khawatir akan kambuh bila terpapar matahari.

Ada pula risiko kekurangan vitamin D bila terus menghindari sinar matahari.

Keracunan matahari terjadi ketika muncul ruam dengan tonjolan dan lepuhan kecil di kulit akibat paparan sinar UV.

Untuk mencegahnya, pastikan Anda kenakan pakaian tertutup di bawah paparan matahari langsung dan rutin oles tabir surya.

Rangkuman

  • Gejala keracunan matahari yaitu ruam melepuh di kulit serta mual dan muntah akibat dehidrasi.
  • Penyebab kondisi ini belum diketahui pasti, tetapi kemungkinan berkaitan dengan respons kekebalan tubuh terhadap sinar UV.
  • Pengobatan dilakukan untuk meredakan gatal, peradangan, dan mengembalikan cairan tubuh.

Disclaimer

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Patricia Lukas Goentoro

General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 13/10/2022

Iklan

Apakah artikel ini membantu?

Iklan
Iklan