9 Pilihan Obat Kutil, dari Obat Medis hingga Bahan Alami

    9 Pilihan Obat Kutil, dari Obat Medis hingga Bahan Alami

    Kutil di kulit biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, ada juga kutil yang bisa menimbulkan gatal dan rasa tidak nyaman. Terlebih, kutil yang kentara bisa mengganggu penampilan. Kabar baiknya, ada beragam obat kutil yang dapat Anda coba.

    Obat penghilang kutil

    Kutil adalah penyakit kulit menular yang tergolong ringan. Meski demikian, tentu ada beberapa kasus yang lebih parah sehingga membutuhkan penanganan dari dokter.

    Kebanyakan penyebab dari kutil adalah Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini menginfeksi lapisan atas kulit dan pertumbuhannya cepat.

    Anda bisa terinfeksi virus ini bila bersentuhan dengan seseorang yang terinfeksi HPV dan virus ini masuk lewat luka di kulit Anda.

    Lantas, apa saja pilihan pengobatan untuk mengatasi kutil?

    1. Asam salisilat

    asam salisilat untuk menghilangkan kutil

    Asam salisilat (salicylic acid) merupakan zat yang diyakini dapat menghilangkan berbagai penyakit kulit, termasuk jerawat, psoriasis, dermatitis, dan kutil.

    Bahan ini sangat mudah digunakan, terutama untuk kutil pada kaki dan tangan. Bentuknya bermacam-macam, ada yang cair, salep, atau krim.

    Oleskan asam salisilat secara langsung pada kutil. Anda juga bisa meneteskannya pada perban, kapas, atau cotton bud terlebih dulu, lalu tempelkan pada kutil.

    Biarkan asam salisilat menyerap dan bekerja pada kutil. Diamkan selama 24 – 48 jam.

    Setelah itu, rendam atau kompres bagian kulit yang terdampak kutil dengan air hangat selama kurang lebih 10 menit.

    2. Cantharidin

    Cantharidin merupakan zat yang berasal dari kumbang lepuh bernama Cantharis vesicatoria.

    Obat ini bekerja dengan melepuhkan jaringan yang baru tumbuh di lapisan terluar kulit. Lapisan kulit ini kemudian akan mengering dan terlepas.

    Kutil pun bisa terangkat bersamaan dengan lapisan kulit tersebut.

    Cara penggunaannya, cantharidin dioles di atas kutil lalu dibiarkan sampai mengering sebelum ditutup dengan plester selama 4 – 6 jam.

    Setelah itu, plester dilepas dan area yang dioleskan obat dicuci dengan air dan sabun.

    Luka lepuhnya kemudian akan terbentuk dalam 24–48 jam. Selama beberapa hari ke depan, lepuhan akan mengering bersama dengan lepasnya kutil.

    Obat ini tidak akan menembus lapisan kulit terluar sehingga tidak akan menimbulkan bekas luka.

    3. Dibekukan (cryotherapy)

    Selain kutil di area genital (penis atau vagina), kebanyakan kutil yang terdapat di bagian tubuh lainnya dapat dihilangkan dengan cryotherapy.

    Prosedur ini direkomendasikan sebagai cara menghilangkan kutil yang cukup efektif dan cepat, terutama untuk kutil di area tangan dan kaki.

    Cryotherapy biasa dilakukan bila pengobatan dengan asam salisilat tidak berhasil.

    Prosedur ini hanya bisa dilakukan oleh dokter. Selama prosedur berlangsung, dokter akan memotong kutil Anda dengan pisau yang kecil dan tajam.

    Dokter lalu akan mengaplikasikan zat pembeku, seperti nitrogen cair, dengan lidi kapas atau disemprotkan.

    Cryotherapy dilakukan dengan pemberian bius lokal (anastesi lokal) untuk mencegah terjadinya rasa nyeri selama prosedur berjalan.

    4. Eksisi

    Eksisi adalah prosedur menghilangkan kutil dengan memotong atau mengangkat kutil dari atas kulit.

    Dokter akan memeriksa area kutil terlebih dahulu, kemudian menyuntikkan bius lokal, dan memotong kutil. Prosedur ini mungkin akan meninggalkan bekas di kulit karena luka yang dijahit.

    Eksisi sendiri tidak menimbulkan rasa sakit karena bius lokal, tetapi Anda mungkin memerlukan obat pereda nyeri setelah proses pengangkatan kutil.

    Pemulihan dari eksisi kutil tergantung pada ukuran, bentuk, dan lokasi kutil.

    Anda mungkin disarankan untuk menghindari aktivitas berat selama 2 – 4 minggu untuk menghindari trauma pada lokasi jahitan.

    5. Bedah listrik dan kuretase

    strictureplasty

    Bedah listrik adalah prosedur pembakaran kulit yang bisa dilakukan untuk menghancurkan jaringan kutil.

    Bedah listrik dapat digunakan untuk satu kutil atau beberapa kutil, tetapi tidak untuk area kutil yang luas.

    Prosedur ini sering meninggalkan bekas luka, dan kutil dapat kembali setelah perawatan.

    Nah, kuretase bisa dilakukan untuk mengangkat kutil yang kambuh setelah melakukan bedah listrik.

    Kuretase sendiri adalah operasi pengikisan atau pemotongan jaringan kutil menggunakan pisau bedah.

    Prosedur ini mungkin menyakitkan dan dapat menyebabkan jaringan parut (luka). Kuretase biasanya memerlukan bius lokal.

    Bedah listrik dan kuretase kadang-kadang digunakan bersama untuk mengobati kutil yang besar.

    6. Cuka apel

    Ada juga pengobatan alami yang bisa Anda coba untuk menghilangkan kutil, salah satunya dengan cuka sari apel yang cara kerjanya seperti asam salisilat.

    Cuka apel juga memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu melawan HPV.

    Untuk mencobanya, campurkan cuka sari apel ke dalam air dengan perbandingan 1:2, misalnya 50 ml cuka apel di dalam 100 ml air.

    Rendam kapas dalam larutan cuka apel, tempelkan di atas kutil, lalu tutupi dengan perban. Biarkan selama 3 – 4 jam.

    Selalu encerkan cuka sari apel dengan air. Keasamannya dapat menyebabkan iritasi dan luka bakar pada kulit. Hindari mengoleskannya pada luka terbuka.

    7. Lidah buaya

    Gel lidah buaya biasanya digunakan untuk mengatasi masalah kulit, seperti luka bakar dan psoriasis.

    Jika kutil Anda gatal atau nyeri, maka gel lidah buaya mungkin dapat meredakannya. Gel lidah buaya juga dikenal dapat melawan patogen, termasuk virus.

    Sebuah studi dari dalam Journal of dentistry (2016) mencoba mengamati efek antivirus dari gel lidah buaya.

    Studi ini menggunakan metode uji laboratorium in vitro (pada sel virus). Hasil studi menemukan bahwa lidah buaya bekerja melawan virus herpes simpleks tipe 1.

    Namun, belum ada penelitian tentang efektivitasnya melawan HSV penyebab kutil.

    Untuk menggunakan lidah buaya, ambil daun dari tanaman lidah buaya dan potong. Oleskan gel lidah buaya ke kutil.

    Anda juga bisa menggunakan produk gel tanaman ini dengan kandungan lidah buaya murni.

    8. Vitamin C

    Vitamin C memiliki potensi untuk meningkatkan kekebalan dan untuk membantu penyembuhan luka. Selain itu, vitamin C digunakan untuk menjaga kesehatan kulit.

    Sebuah studi dalam The Journal of infectious diseases mencoba mengamati pengaruh asupan vitamin C terhadap infeksi HPV atau sebagai obat kutil.

    Studi ini melakukan eksperimen terhadap 433 wanita selama 12 bulan dengan memberikan dosis vitamin C secara rutin.

    Hasil studi menyarankan bahwa jumlah konsumsi vitamin C yang lebih tinggi berpotensi menurunkan infeksi HPV kronis.

    Untuk mencoba vitamin C sebagai pengobatan topikal (oles) untuk kutil, peras air jeruk atau lemon. Oleskan ke kutil, tutup dengan perban, dan biarkan semalaman.

    9. Minyak pohon teh

    Minyak pohon teh atau tea tree oil diyakini mempunyai sifat antimikroba dan antiradang yang kuat.

    Untuk mengoleskan minyak pohon teh pada kutil, Anda perlu terlebih dulu mengencerkan tea tree oil dengan pelarut. Hal ini bertujuan agar minyak tidak mengiritasi kulit.

    Campurkan 1 – 2 tetes minyak pohon teh dengan 12 tetes minyak pelarut, seperti minyak almon atau minyak jarak.

    Tempelkan larutan pada kapas lalu oleskan pada kutil selama 5-10 menit. Ulangi dua atau tiga kali sehari.

    Kutil biasanya hilang dengan sendirinya, tetapi obat kutil dapat membantu mempercepat prosesnya.

    Terlepas dari pengobatan apapun yang akan Anda pilih, sebaiknya konsultasikan kepada dokter spesialis kulit terlebih dulu guna menghindari efek samping.

    Anda bisa booking dokter spesialis kulit melalui Hello Sehat atau datang langsung ke klinik terdekat.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Ferreira, I.J., de Menezes, L.R. & Tavares, M.I.B.(2021). Morphological and structural evaluation of nanoparticles loaded with tea tree oil for the therapeutic treatment of HPV. Polymer Bulletin, 79, 5457–5479 https://doi.org/10.1007/s00289-021-03780-0

    Giuliano, A. R., Siegel, E. M., Roe, D. J., Ferreira, S., Baggio, M. L., Galan, L., Duarte-Franco, E., Villa, L. L., Rohan, T. E., Marshall, J. R., Franco, E. L., & Ludwig-McGill HPV Natural History Study (2003). Dietary intake and risk of persistent human papillomavirus (HPV) infection: the Ludwig-McGill HPV Natural History Study. The Journal of infectious diseases, 188(10), 1508–1516. https://doi.org/10.1086/379197

    Rezazadeh, F., Moshaverinia, M., Motamedifar, M., & Alyaseri, M. (2016). Assessment of Anti HSV-1 Activity of Aloe Vera Gel Extract: an In Vitro Study. Journal of dentistry (Shiraz, Iran), 17(1), 49–54.

    Cantharidin. (2003). DermNet NZ. Retrieved August 15, 2020 from https://dermnetnz.org/topics/cantharidin/

    Common Warts – Diagnosis and Treatment. (2022). Mayo Clinic. Retrieved August 15, 2020 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/common-warts/diagnosis-treatment/drc-20371131

    Diphenylcyclopropenone. (2012). DermNet NZ. Retrieved August 15, 2020 from https://dermnetnz.org/topics/diphenylcyclopropenone/

    Sudhakar, G., Pai, V., Pai, A., & Kamath, V. (2013). Therapeutic Approaches in the Management of Plantar Warts by Human Papillomaviruses: A review. Retrieved August 15, 2020 from https://www.alliedacademies.org/articles/therapeutic-approaches-in-the-management-of-plantar-warts-by-human-papillomaviruses-a-review.pdf

    Warts: Diagnosis and Treatment. (n.d.). American Academy of Dermatology. Retrieved August 15, 2020 from https://www.aad.org/public/diseases/a-z/warts-treatment

    Warts: Electrosurgery and Curettage. (2017). Kaiser Permanente. Retrieved August 15, 2020 from https://wa.kaiserpermanente.org/kbase/topic.jhtml?docId=hw264415

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui Oct 03
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro