home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab Barrett’s Esophagus dan Faktor Risikonya

Penyebab Barrett’s Esophagus dan Faktor Risikonya

Pernahkah Anda mendengar penyakit bernama Barrett’s esophagus? Gangguan yang memengaruhi esofagus atau kerongkongan ini jarang terdengar, tapi cukup berbahaya karena bisa memicu kanker. Lantas, hal apa saja yang menjadi penyebab Barrett’s esophagus?

Penyebab Barrett’s esophagus

Barrett’s esophagus adalah kondisi yang membuat sel-sel kerongkongan (esofagus) mengalami kerusakan akibat paparan asam lambung dalam jangka panjang.

Pada dasarnya, penyebab dari Barrett’s esophagus belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi, kondisi ini paling sering terjadi pada orang yang mengalami penyakit GERD.

GERD (gastroesophageal reflux disease) terjadi ketika katup di ujung lambung tidak berfungsi dengan baik, sehingga asam lambung sering naik dan melukai dinding kerongkongan.

Selain dengan riwayat penyakit GERD, Barrett’s esophagus juga bisa terjadi saat asam lambung naik diam-diam atau disebut silent reflux sehingga tidak disertai gejala.

Akan tetapi, tidak semua orang dengan penyakit GERD akan mengalami Barrett’s esophagus. Hanya sekitar 10 hingga 15 persen saja penderita GERD yang mengembangkan kondisi ini.

Walaupun begitu, Barrett’s esophagus merupakan gangguan sistem pencernaan yang bisa berkembang menjadi kanker esofagus jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Paparan asam lambung terus-menerus dapat mengubah bentuk sel kerongkongan seperti sel-sel pada usus. Sel-sel kerongkongan yang rusak ini pun bisa saja berubah jadi sel kanker.

Meskipun begitu, memang tak semua kasus Barrett’s esophagus akan mengarah pada kanker. Hal ini tergantung dari kondisi, faktor risiko, serta pengobatan yang Anda lakukan.

Berbagai faktor risiko Barrett’s esophagus

Jika Anda mengalami penyakit GERD selama lebih dari 10 tahun, risiko untuk mengalami penyakit Barrett’s esophagus akan jauh lebih besar daripada orang lain.

Sebenarnya, faktor risiko atau kondisi pemicu kedua gangguan pencernaan ini hampir mirip.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami Barrett’s esophagus.

1. Umur dan ras tertentu

gangguan mental pada lansia

Para peneliti memperkirakan sekitar 1,6 hingga 6,8 persen orang dari seluruh populasi mengidap penyakit Barrett’s esophagus.

Menurut Medscape, rata-rata usia penderita gangguan pencernaan ini berkisar antara 55 hingga 65 tahun.

Kondisi ini sebenarnya bisa terjadi pada usia berapa pun, tapi jarang terjadi pada anak-anak.

Pria memiliki kecenderungan dua kali lebih berisiko mengalami Barrett’s esophagus daripada wanita.

Selain itu, lebih dari 80 persen kasus gangguan ini terjadi pada pria kulit putih atau ras Kaukasia.

2. Genetik

Penyebab Barrett’s esophagus juga bisa dipengaruhi oleh faktor genetik.

Peluang untuk mengidap hal ini meningkat jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan GERD atau gangguan kerongkongan lainnya.

Sebuah penelitian dalam Indian Journal Of Gastroenterology menunjukkan bahwa keberagaman bentuk struktur gen dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit GERD.

Hal ini juga bisa memengaruhi komplikasinya, termasuk Barrett’s esophagus dan adenokarsinoma esofagus.

Meski begitu, studi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui hubungan gen dengan Barrett’s esophagus

3. Merokok

Merokok dapat meningkatkan risiko Anda untuk mengembangkan penyakit GERD. Kondisi ini lantas bisa menjadi penyebab Barrett’s esophagus.

Merokok dapat memicu terjadinya heartburn karena kebiasaan merokok dapat mengurangi jumlah air liur, memperlambat proses pengosongan perut, dan meningkatkan asam lambung.

Untuk menurunkan risiko refluks asam lambung, Anda perlu berhenti merokok dan sebisa mungkin menghindari paparan asap rokok.

4. Obesitas

obesitas memicu gerd

Orang dengan obesitas cenderung memiliki tumpukan lemak yang berlebihan di dalam rongga perutnya.

Lemak tubuh di sekitar perut ini dapat meningkatkan tekanan dalam perut yang membuat gejala penyakit GERD memburuk.

Pada akhirnya, kondisi ini bisa memicu risiko terjadinya Barrett’s esophagus.

Mengurangi dan menjaga berat badan ideal tentu menjadi jalan keluar bagi penderita obesitas. Anda bisa mengatur pola makan, berolahraga, dan konsultasi ke dokter atau ahli gizi jika diperlukan.

5. Asupan dan pola makan buruk

Beberapa makanan penyebab GERD bisa meningkatkan risiko Barrett’s esophagus.

Mengonsumsi makanan pedas, berlemak, kopi, dan alkohol bisa memicu peradangan pada kerongkongan.

Jenis makanan tersebut juga bisa melemaskan otot sfingter esofagus bawah (LES) sehingga asam lambung naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan heartburn.

Selain dari asupannya, pola makan juga perlu Anda perhatikan.

Gangguan pencernaan bisa terjadi jika sering makan dalam porsi besar, terburu-buru, atau langsung tidur setelah makan.

6. Efek samping obat-obatan

Penggunaan obat-obatan tertentu dapat memperburuk gejala penyakit GERD. Salah satu yang paling umum adalah obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen.

Sebuah studi dalam The American Journal of Gastroenterology menunjukkan bahwa penggunaan NSAID mungkin dapat mengurangi risiko perkembangan kanker pada penderita Barrett’s esophagus.

Walaupun begitu, penggunaan obat-obatan tentu harus sesuai dengan resep dokter. Konsultasikan juga apabila obat yang sekarang Anda minum memicu terjadinya keparahan gejala GERD.

Kapan pemeriksaan Barrett’s esophagus diperlukan?

Tidak ada gejala khas yang muncul ketika sel-sel kerongkongan mulai berubah.

Maka dari itu, Anda perlu pemeriksaan medis lanjutan untuk mengetahui apakah mengalami Barrett’s esophagus atau tidak.

Kalaupun ada tanda dan gejala khas, umumnya gejala Barrett’s esophagus mirip seperti penyakit GERD.

Beberapa gejala umum dari Barrett’s esophagus, termasuk:

  • dada terasa panas seperti terbakar,
  • sering sakit perut,
  • sulit menelan makanan,
  • nyeri dada,
  • muntah darah, dan
  • buang air besar berwarna hitam atau berdarah.

Anda mungkin tidak mengalami semua gejala tersebut. Namun, segera konsultasikan pada dokter jika Anda merasakan tanda dan gejalanya setidaknya lebih dari lima tahun.

Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui adanya risiko Barrett’s esophagus. Setelah itu, dokter akan memberikan penanganan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Barrett Esophagus: Practice Essentials, Background, Etiology. Medscape. (2017). Retrieved 17 September 2021, from https://emedicine.medscape.com/article/171002-overview

Barrett’s esophagus – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 17 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/barretts-esophagus/symptoms-causes/syc-20352841

Symptoms & Causes of Barrett’s Esophagus. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2017). Retrieved 17 September 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/barretts-esophagus/symptoms-causes

Thrift, A. P., Anderson, L. A., Murray, L. J., Cook, M. B., Shaheen, N. J., Rubenstein, J. H., El-Serag, H. B., Vaughan, T. L., Schneider, J. L., Whiteman, D. C., & Corley, D. A. (2016). Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug Use is Not Associated With Reduced Risk of Barrett’s Esophagus. The American journal of gastroenterology, 111(11), 1528–1535. https://doi.org/10.1038/ajg.2016.348

Phillips, W., Lord, R., Nancarrow, D., Watson, D., & Whiteman, D. (2011). Barrett’s esophagus. Journal Of Gastroenterology And Hepatology, 26(4), 639-648. https://doi.org/10.1111/j.1440-1746.2010.06602.x

Ghoshal, U., & Chourasia, D. (2011). Genetic factors in the pathogenesis of gastroesophageal reflux disease. Indian Journal Of Gastroenterology, 30(2), 55-62. https://doi.org/10.1007/s12664-011-0095-7

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui kemarin
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x