Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Garam untuk Atasi Masalah Lambung Ternyata Cuma Mitos

Garam untuk Atasi Masalah Lambung Ternyata Cuma Mitos

Penggunaan obat yang sering kali menimbulkan efek samping membuat beberapa orang lebih memilih obat tradisional. Garam misalnya sering digunakan untuk mengatasi gejala maag. Namun, setelah diselidiki ternyata manfaat garam untuk kesehatan lambung ini adalah mitos.

Kok bisa? Penasaran dengan jawabannya? Mari simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Mitos manfaat garam untuk atasi masalah lambung

Garam memberikan manfaat bagi tubuh jika asupannya tepat. Menurut Angka Kecukupan Gizi, asupan garam untuk orang berusia 19 hingga 49 tahun adalah 1500 mg.

Nah, di dalam tubuh garam atau natrium klorida ini akan digunakan untuk menghantarkan impuls saraf, memicu kontrasi dan mengendurkan otot, serta menjaga keseimbangan cairan dan mineral dalam tubuh.

Selain itu, garam dikenal dengan aktivitas antibakterinya. Berdasarkan studi pada Journal of Indian Society of Pedodontics and Preventive Dentistry, air garam dapat menurunkan jumlah bakteri yang ditemukan di air liur.

Manfaatnya ini dapat melindungi kesehatan gusi dan gigi. Nah, ada juga berita yang beredar mengenai manfaat konsumsi garam himalaya untuk mengatasi masalah lambung, seperti gejala maag.

Konsumsi garam bisa jadi pertolongan pertama ketika gejala maag kambuh, seperti perut mulas, kembung, dan mual. Namun, hal ini adalah mitos belaka alias tidak benar.

Munculnya informasi ini kemungkinan besar disebabkan oleh aktivitas antibakteri pada garam.

Perlu Anda ketahui bahwa infeksi bakteri Helicobacter pylori adalah penyebab gastritis, yakni peradangan pada lapisan lambung yang menyebabkan gejala maag.

Walaupun ada aktivitas antibakterinya, efeknya tidak berlaku pada semua jenis bakteri, salah satunya H.pylori ini.

Itulah sebabnya menggunakan garam untuk mengatasi infeksi bakteri ini bukanlah tindakan yang tepat.

Sebaliknya, ini efek garam pada lambung

Alih-alih mendapatkan meredakan perut mual dan mulas, mengonsumsi garam di saat tersebut bisa memperparah gejalanya.

Hal ini selaras dengan pendapat Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, seorang dokter spesialis saluran cerna dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menjalankan praktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Garam justru beresiko memperburuk gangguan maag yang tengah kambuh pada pasien.

Sebaiknya pasien segera mengkonsumsi obat antasida atau antiasam untuk mengendalikan produksi asam lambung.

Menurut situs World Cancer Research Fund International infeksi bakteri Helicobacter pylori dapat merusak lapisan perut. Kondisinya akan semakin bertambah parah dengan adanya garam.

Buruknya lagi, risiko kanker perut akan meningkat jika sering mengonsumsi makanan yang tinggi garam.

Berdasarkan penelitian, garam tidak memberikan manfaat pada lambung karena bisa merusak lapisan perut dan menyebabkan terbentuknya luka (lesi).

Dalam jangka panjang, jika asupan garam tidak dibatasi, kondisinya akan semakin bertambah parah dan memicu pertumbuhan kanker di perut.

Tidak hanya pada lambung, konsumsi garam yang berlebihan juga bisa meningkatkan tekanan darah karena mengurangi fleksibilitas pembuluh darah yang ada di jantung.

Akibatnya, risiko penyakit jantung juga akan meningkat.

Nah, penerapan pengobatan tradisional ini jika diikuti oleh orang dengan hipertensi, penyakit jantung, atau penyakit ginjal yang juga memiliki masalah lambung tentu tidak akan aman.

Bahan alami untuk atasi masalah lambung yang lebih aman

minuman pelancar BAB

Sudah tahukan bahayanya konsumsi garam berlebihan saat gejala maag sedang kambuh?

Itulah sebabnya, sebelum Anda memercayai sebuah informasi, apalagi yang berkaitan dengan kesehatan, harus dicari tahu kebenarannya lebih dahulu.

Walaupun penggunaan garam tidak dianjurkan, ada banyak bahan alami yang bisa Anda andalkan untuk membantu meredakan gejala maag.

Pertama, Anda bisa mengonsumsi makanan pribiotik yang mengandung bakteri baik untuk usus, seperti yoghurt atau kefir.

Kedua, bisa juga dengan mencampur minum teh hijau dengan madu manuka secara rutin.

Jika Anda memang tertarik untuk menerapkan pengobatan rumahan untuk mengatasi gejala maag yang mengganggu, baiknya konsutasikan lebih dahulu dengan dokter.

Terlebih, jika Anda memiliki penyakit penyerta, penggunaan tanaman herbal tertentu perlu diperhatikan.

Perlu diingatkan kembali bahwa lebih baik Anda mengutamakan pengobatan dokter jika memang kondisinya sudah parah.

Ini meliputi penggunaan obat-obatan dan perubahan gaya hidup, seperti makan tepat waktu, menghindari makanan yang asam, pedas, dan tinggi lemak, serta berhenti merokok.

Jadi, pengobatan alami sebaiknya hanya diterapkan sebagai perawatan tambahan.

Kesimpulan

Pengobatan alami untuk mengatasi maag bisa saja tidak efektif. Jangan mudah memercayai informasi yang beredar karena bisa keliru dan malah memperparah penyakit. Selalu cek lebih dahulu kebenarannya, baik itu mencari tahu lewat artikel dari sumber tepercaya maupun konsultasi dengan dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Rupesh, S., Winnier, J. J., Nayak, U. A., Rao, A. P., & Reddy, N. V. (2010). Comparative evaluation of the effects of an alum-containing mouthrinse and a saturated saline rinse on the salivary levels of streptococcus mutans. Journal of Indian Society of Pedodontics and Preventive Dentistry, 28(3), 138. https://doi.org/10.4103/0970-4388.73780

Salt: Shaking up the link with stomach cancer. WCRF International. (2021, April 29). Retrieved April 14, 2022, from https://www.wcrf.org/salt-shaking-up-the-link-with-stomach-cancer/

Salt and sodium. The Nutrition Source. (2021, November 19). Retrieved April 14, 2022, from https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/salt-and-sodium/

Peraturan menteri Kesehatan republik … – kemkes.go.id. (n.d.). Retrieved April 13, 2022, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf

Boyanova, L., Ilieva, J., Gergova, G., Vladimirov, B., Nikolov, R., & Mitov, I. (2015, March 6). Honey and green/black tea consumption may reduce the risk of helicobacter pylori infection. Diagnostic Microbiology and Infectious Disease. Retrieved April 14, 2022, from https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0732889315000668?via%3Dihub

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 2 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro