home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Junk Food Bikin Asam Lambung Naik, Kok Bisa?

Junk Food Bikin Asam Lambung Naik, Kok Bisa?

Asam lambung naik merupakan sebuah kondisi saat asam lambung menyebabkan nyeri atau sensasi panas di area ulu hati. Nyeri terjadi karena asam lambung “naik” ke area kerongkongan, sebuah jalur makanan yang masuk dari mulut untuk menuju lambung. Dari segala pemicunya, mengonsumsi junk food juga menyebabkan asam lambung naik. Simak alasan dan apa saja obat alami untuk asam lambung naik berikut ini.

Alasan junk food menyebabkan asam lambung naik

Setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan masuk ke dalam perut. Saat menelan, otot halus serupa cincin (sfingter esofagus bawah) pada kerongkongan bagian bawah akan melonggar agar konsumsi makanan dapat menuju perut.

Setelah itu, otot tersebut akan kembali merapat. Asam lambung naik terjadi saat otot halus tersebut melemah atau bertindak tidak wajar sehingga memungkinkan asam lambung naik ke area tersebut dan menimbulkan heartburn di area ulu hati.

Studi yang berjudul Assessment of dietary nutrients that influence perception of intra‐oesophageal acid reflux events in patients with gastro‐oesophageal reflux disease, menyimpulkan bahwa lemak jenuh, kolesterol, dan kalori dari lemak berkaitan erat dengan terjadinya refluks atau aliran cairan yang tidak sesuai dengan gerakan normal.

Sederhananya, dalam kasus ini, refluks menyebabkan asam lambung malah naik. Penelitian yang sama juga mendukung hipotesis kalau kandungan pada lemak seakan mendorong otot halus kerongkongan bagian bawah untuk bertindak abnormal sehingga menyebabkan kenaikan asam lambung.

Lantas, apa hubungannya junk food dengan hal-hal di atas? Makanan jenis ini menyebabkan asam lambung naik karena umumnya memiliki kadar lemak dan kalori yang tinggi.

Ditambah lagi, hidangan sampingan dan minuman yang kerap disajikan bersamaan dengan junk food cukup akrab dengan angka kalori yang tinggi, seperti minuman bersoda.

Kemudian, ada juga penjelasan dari studi lainnya. Alasan mengenai mengapa junk food menyebabkan asam lambung naik karena konsumsi makanan tinggi lemak, asin, manis, pedas, atau bertekstur keras berkaitan dengan berkurangnya kekencangan otot halus kerongkongan bawah dan memperlambat pengosongan lambung. Ini bisa memicu kerongkongan bawah terpapar asam lambung yang naik.

Hal-hal tersebut merupakan faktor risiko dari penyakit Gastroesophageal reflux disease (GERD). GERD adalah sebuah kondisi saat asam lambung naik ke kerongkongan.

Obat alami asam lambung naik

Walaupun junk food menyebabkan asam lambung naik, masalah ini dapat diatasi. Gejala-gejala umum akibat asam lambung naik sendiri mencakup nyeri ulu hati, muntah, dan kembung. Saat hal-hal tersebut terjadi, bahan-bahan yang berasal dari alam dapat membantu mengatasi gejala-gejala akibat gangguan lambung.

Kunyit

Senyawa kurkumin dari kunyit memiliki karakteristik antiperadangan. Sifat antiperadangan ini dapat mencegah peradangan pada jaringan kerongkongan. Senyawa ini juga dipercaya dapat mengatasi masalah saluran pencernaan, seperti kembung.

Jahe merah

Ekstrak jahe, sebagai obat alami asam lambung, bermanfaat untuk:

  • Mengatasi mual dan muntah
  • Menghilangkan kembung
  • Mempercepat pengosongan lambung

Saat junk food menyebabkan asam lambung naik, bahan rumahan satu ini dapat menjadi pilihan untuk menanganinya.

Madu dan royal jelly

Madu dan royal jelly dapat membantu gejala nyeri ulu hati dan muntah yang dirasakan saat asam lambung naik. Madu yang dikonsumsi akan melapisi lapisan kerongkongan dan perut dan mencegah asam lambung naik.

Jaringan otot halus kerongkongan bawah juga terbantu pemulihannya sehingga mengurangi risiko asam lambung naik terjadi lagi. Selain itu, royal jelly membantu dalam penyembuhan luka yang mungkin terjadi di dalam tubuh.

Adas

Adas alias fennel juga memiliki sifat antiperadangan, seperti kunyit. Oleh karena itu, obat alami asam lambung ini dapat membantu ketidaknyamanan akibat asam lambung naik.

Ananas

Enzim bromelain pada buah nanas mampu memecah protein. Protein yang dapat dipecah dengan cepat sama dengan perut yang kosong lebih cepat sehingga tidak ada gas berlebih pada lambung.

Akar manis

Akar manis alias licorice telah terbukti efektif di banyak penelitian. Alasan akar manis menjadi penolong saat junk food menyebabkan asam lambung naik adalah khasiatnya membantu melapisi lapisan kerongkongan manusia. Alhasil, luka akibat asam lambung dapat dipercepat penyembuhannya.

Daun mint

Jenis daun mint, seperti peppermint, membantu pengosongan lambung menjadi lebih cepat. Selain itu, kandungan daun mint juga membantu mengatasi keram perut. Namun, tidak boleh dikonsumsi oleh pasien GERD.

Singkat kata, mengonsumsi junk food terlalu banyak atau sering memang dapat menyebabkan asam lambung naik. Apabila ini terjadi, Anda dapat mencoba obat alami untuk asam lambung naik untuk meredakan gejala-gejala yang dirasakan.

Perlu diingat walaupun dari bahan alami, harus tetap memperhatikan cara penggunaan dan batasan dalam jumlah penggunaan, sehingga efektifitas dan keamanan bahan alam tersebut dapat dinikmati.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Asl, H., Masoumi, S., Poorolajal, J., Panah, M., & Oliaei, S. (2016). Evaluation of mint efficacy regarding dysmenorrhea in comparison with mefenamic acid: A double blinded randomized crossover study. Iranian Journal of Nursing and Midwifery Research, 21(4), 363. https://doi.org/10.4103/1735-9066.185574

Badgujar, S. B., Patel, V. V., & Bandivdekar, A. H. (2014). Foeniculum vulgareMill: A review of its botany, Phytochemistry, pharmacology, contemporary application, and toxicology. BioMed Research International, 2014, 1-32. https://doi.org/10.1155/2014/842674

Balakrishnan, A. (2015). Therapeutic Uses of Peppermint –A Review. Journal of Pharmaceutical Sciences and Research [PDF file], 7(7), 474-476. https://www.jpsr.pharmainfo.in/Documents/Volumes/vol7Issue07/jpsr07071524.pdf

Godman, H. (2018, April 12). Digestive enzyme supplements for heartburn? Harvard Health Blog. Retrieved May 27, 2020, from https://www.health.harvard.edu/blog/will-digestive-enzyme-supplements-help-your-heartburn-2018041313643

Harvard Health Publishing. (2019, September 24). Herbal remedies for heartburn. Harvard Health. Retrieved May 27, 2020, from https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/herbal-remedies-for-heartburn

Heartburn and acid reflux. (2017, October 23). nhs.uk. Retrieved May 27, 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/heartburn-and-acid-reflux/

How to do drive-through on a diet. (2019, July 3). Mayo Clinic. Retrieved May 27, 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/fast-food/art-20047179

Kwiecien, S., Magierowski, M., Majka, J., Ptak-Belowska, A., Wojcik, D., Sliwowski, Z., Magierowska, K., & Brzozowski, T. (2019). Curcumin: A potent Protectant against Esophageal and gastric disorders. International Journal of Molecular Sciences, 20(6), 1477. https://doi.org/10.3390/ijms20061477

Nikkhah Bodagh, M., Maleki, I., & Hekmatdoost, A. (2018). Ginger in gastrointestinal disorders: A systematic review of clinical trials. Food Science & Nutrition, 7(1), 96-108. https://doi.org/10.1002/fsn3.807

Pasupuleti, V. R., Sammugam, L., Ramesh, N., & Gan, S. H. (2017). Honey, propolis, and royal jelly: A comprehensive review of their biological actions and health benefits. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2017, 1-21. https://doi.org/10.1155/2017/1259510

Patrick, L. (2011). Gastroesophageal Reflux Disease (GERD): A Review of Conventional and Alternative Treatments. Altern Med Rev, 16(2), 116-33. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21649454/

SHAPIRO, M., GREEN, C., BAUTISTA, J. M., DEKEL, R., RISNER-ADLER, S., WHITACRE, R., GRAVER, E., & FASS, R. (2006). Assessment of dietary nutrients that influence perception of intra-oesophageal acid reflux events in patients with gastro-oesophageal reflux disease. Alimentary Pharmacology & Therapeutics, 25(1), 93-101. https://doi.org/10.1111/j.1365-2036.2006.03170.x

Yuan, L., Yi, P., Wang, G., Tan, S., Huang, G., Qi, L., Jia, Y., & Wang, F. (2019). Lifestyle intervention for gastroesophageal reflux disease: A national multicenter survey of lifestyle factor effects on gastroesophageal reflux disease in China. Therapeutic Advances in Gastroenterology, 12, 175628481987778. https://doi.org/10.1177/1756284819877788

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Willyson Eveiro Diperbarui 11/07/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x