Benarkah Orang yang Punya Penyakit Maag Tidak Boleh Makan Beras Ketan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ketan dari beras adalah makanan yang cukup sering ditemukan di Indonesia. Ketan dapat ditemui di berbagai jenis olahan, misalnya dibuat dalam bentuk kue, lemper, tape, ditambahkan gula merah, dan lain-lain. Namun, ada banyak mitos yang mengatakan bahwa ketan tidak bagi bagi pencernaan, terutama buat orang yang punya lambung sensitif. Benarkah ketan tidak boleh dimakan oleh orang yang punya maag, misalnya karena penyakit refluks asam lambung? Simak penjelasan lengkap soal risiko makan ketan untuk maag berikut ini.

Mengenal beras ketan

Ketan yang banyak dikosumsi di Asia dan Amerika Selatan ini termasuk jenis beras. Ketan disebut juga glutinous rice. Perlu diketahui, walaupun mirip secara kata-kata, glutinous rice tidak ada hubungannya dengan gluten. Pada beberapa orang dengan penyakit celiac, makanan dengan gluten dapat menyebabkan reaksi dan gangguan pencernaan. Seperti jenis beras lainnya, glutinous rice atau beras ketan tidak mengandung gluten sehingga aman dikonsumsi oleh orang dengan penyakit celiac.

Walaupun sama-sama memiliki karbohidrat yang tinggi, beras ketan berbeda dengan beras pada umumnya. Ketan disebut dengan glutinous rice karena sifatnya yang lengket. Sifat lengket ini memang sudah menjadi ciri khas dari beras ketan.

Benarkah beras ketan berbahaya bagi lambung?

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dong Up Song dan timnya yang dipublikasikan di Chonnam Medical Journal PMC NIH, beras ketan atau glutinous rice memiliki efek protektif terhadap lambung. Percobaan ini dilakukan pada tikus dan terbukti dapat melindungi lambung dari luka pada mukosa lambung oleh etanol dan indometasin. Dengan kata lain, beras ketan dapat melindungi lambung dari luka.

Walaupun terdapat riset mengenai efek perlindungan lambung serta tidak terdapat gluten yang dapat memicu timbulnya reaksi alergi celiac, pada umumnya para ahli sepakat bahwa konsumsi ketan seharusnya dibatasi untuk orang dengan maag dan penyakit lambung lainnya seperti tukak lambung. Mengapa begitu? Berikut ini adalah beberapa fakta yang perlu Anda tahu seputar risiko makan ketan untuk maag dan penyakit lainnya.

Ketan memicu refluks asam lambung

Seperti beras lainnya, ketan termasuk sumber karbohidrat. Makanan yang mengandung banyak karbohidrat seperti beras, roti, pasta, dan sumber makanan pokok lainnya dapat merangsang gejala masalah pencernaan seperti perut kembung dan terasa penuh.

Nah, menurut penelitian dari jurnal ilmiah Neuroenterology and Motility tahun 2013, kalau perut Anda sudah terlalu penuh, makanan yang belum habis dicerna bisa naik lagi ke kerongkongan Anda. Hal ini akan menimbulkan gejala refluks asam lambung yang dinamakan heartburn, yaitu munculnya rasa perih di dada atau ulu hati.

Ketan termasuk bahan makanan yang mengandung gas

Rita Ramayulis dalam buku DIET untuk Penyakit Komplikasi mengelompokkan beras ketan ke dalam makanan yang mengandung gas, merangsang asam lambung, dan sulit dicerna. Makanan yang mengandung gas akan membuat perut Anda kembung dan tidak nyaman. Apalagi bagi orang yang punya maag dan penyakit lambung lainnya.

Jadi, apakah orang dengan maag tidak boleh makan ketan?

Maag atau penyakit asam lambung disebabkan oleh berbagai macam hal. Bukan cuma dari satu jenis makanan yang Anda konsumsi. Karena itu, ketan pada dasarnya aman untuk dikonsumsi asal tidak berlebihan.

Namun, jika Anda mengalami berbagai gejala setelah makan ketan, misalnya mual, mulas atau pusing, ada baiknya Anda segera berhenti dan konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya lebih jauh.

Selain itu, untuk mencegah bahaya ketan untuk maag, sebaiknya Anda tidak makan olahan beras ketan dalam bentuk apa pun ketika sudah merasakan berbagai gejala gangguan pencernaan seperti mual dan rasa perih di lambung atau dada.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Hal Penting yang Wajib Diperhatikan Jika Suka Minum Teh Saat Hamil

Selama kehamilan, Anda harus menjaga asupan makanan dan minuman, termasuk minum teh. Simak panduan aman minum teh saat hamil berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 4 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Mengapa Sebagian Orang Mudah Dihipnotis, Sementara yang Lain Tidak?

Anda mungkin waspada ketika berjalan sendirian, takut dihipnotis oleh orang tak dikenal. Tahukah Anda tidak semua orang mudah dihipnotis?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Penyakit Saraf Lainnya 4 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

7 Manfaat Kesehatan yang Bisa Anda Dapat dari Buah Mangga

Kandungan mangga yang manis dan asam menyegarkan menjadikan buah musiman ini bintangnya rujak. Apa saja manfaat mangga untuk kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Fakta Gizi, Nutrisi 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

9 Bahaya yang Bisa Terjadi Jika Nekat Bikin Tato di Mata

Tertarik ingin mata Anda berwarna tidak hanya warna putih saja? Tato mata bisa jadi jawabannya. Sebelum lakukan, cari tahu dulu bahayanya di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Kesehatan Mata, Penyakit Mata 3 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

berhenti minum pil kb

7 Hal yang Bisa Terjadi Pada Tubuh Jika Anda Berhenti Minum Pil KB

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
ciri tipes yang parah

Waspadai 3 Ciri Tipes yang Sudah Parah Agar Tidak Berakibat Fatal

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
mencium bau

Kenapa Beberapa Orang Cenderung Susah Mencium Bau?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
gaya pengasuhan

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit