home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Cara Menurunkan Kadar SGOT dan SGPT yang Tinggi

5 Cara Menurunkan Kadar SGOT dan SGPT yang Tinggi

Pemeriksaan SGOT dan SGPT bertujuan untuk mengetahui seberapa baik fungsi hati dan beberapa organ lainnya. Hasil yang tinggi dapat menandakan adanya gangguan fungsi hati yang perlu diperiksa lebih lanjut. Adakah cara menurunkan SGOT dan SGPT?

Cara menurunkan jumlah SGOT dan SGPT yang tinggi

Fungsi hati yang terganggu akibat hepatitis A

Serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) merupakan enzim yang membantu organ hati mencerna protein dan lemak. Selain pada hati, keduanya juga bisa ditemukan dalam beberapa organ lain.

Bila hati dan organ-organ tersebut mengalami masalah, SGOT dan SGPT akan masuk ke dalam aliran darah sehingga kadarnya meningkat. Peningkatan jumlah enzim inilah yang terdeteksi saat Anda menjalani uji fungsi hati.

Jumlah SGOT dan SGPT yang terlalu tinggi bisa menimbulkan gejala berupa mual, muntah, kelelahan, dan jaundice (penyakit kuning). Dokter umumnya akan menurunkan jumlah SGOT dan SGPT yang tinggi dengan cara memberikan obat-obatan.

Selama pengobatan, Anda juga bisa melakukan beberapa perubahan gaya hidup untuk menurunkan jumlah kedua enzim ini. Di bawah ini contohnya.

1. Menghindari makan makanan berlemak

Saat Anda makan makanan berlemak, hati akan memproduksi SGOT dan SGPT untuk membantu tubuh mencernanya menjadi asam lemak. Namun, jika asupan lemak terlalu banyak, organ hati perlu bekerja lebih keras untuk menguraikan zat gizi ini.

Lama-kelamaan, fungsi hati Anda bisa menurun karena bekerja terlalu keras. Walaupun konsumsi makanan berlemak bukanlah alasan utama yang membuat fungsi hati menjadi rusak, hal ini juga ikut berkontribusi dalam peningkatan SGOT dan SGPT.

Inilah mengapa dokter kerap menyarankan pasien penyakit hati untuk menghindari makanan berlemak selama pengobatan. Cara ini tidak hanya membantu menurunkan jumlah SGOT dan SGPT, tapi juga menjaga kesehatan hati secara menyeluruh.

2. Menghindari minuman beralkohol

Konsumsi alkohol merupakan penyebab utama kerusakan hati yang lantas membuat kadar SGOT dan SGPT Anda melonjak. Jika Anda memiliki kebiasaan minum alkohol, mulai sekarang sebaiknya batasi atau hindari kebiasaan tersebut.

Hati bertugas menetralkan dan menyaring racun dari darah. Salah satu racun tersebut tak lain ialah minuman beralkohol. Setelah alkohol memasuki tubuh, hati segera mengolahnya menjadi asetaldehida yang bisa segera dikeluarkan dari tubuh.

Akan tetapi, asetaldehida merupakan zat yang lebih beracun dibandingkan alkohol itu sendiri. Semakin banyak Anda mengonsumsi alkohol, semakin sering pula hati terpapar asetaldehida. Lambat laun, hal ini dapat menyebabkan kerusakan hati.

3. Membatasi makanan tinggi gula

Selain menghindari makanan berlemak, Anda juga bisa menurunkan SGOT dan SGPT dengan cara membatasi makanan manis. Pasalnya, asupan gula berlebih (khususnya dari gula rafinasi dan sirup jagung) dapat menyebabkan penumpukan lemak pada hati.

Sebuah penelitian dalam jurnal Nature bahkan mengungkapkan bahwa fruktosa dalam pemanis buatan bisa menjadi racun bagi hati sebagaimana alkohol. Tidak seperti fruktosa pada buah-buahan, fruktosa buatan biasanya memiliki konsentrasi yang tinggi.

Fruktosa berlebih yang membebani kerja hati ditambah perlemakan hati lama-kelamaan dapat mengganggu fungsi organ ini. Sebagai akibatnya, hati mengalami penurunan fungsi dengan ciri berupa tingginya jumlah SGOT dan SGPT.

4. Membatasi konsumsi obat-obatan

Konsumsi obat-obatan sesuai anjuran memang berguna mengatasi berbagai penyakit. Meski begitu, beberapa orang mungkin meminum obat tanpa resep dalam jangka panjang atau dosis tinggi sehingga membahayakan fungsi hatinya.

Sama seperti alkohol, hati juga mengubah berbagai zat kimia di dalam obat menjadi zat lain yang lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. Namun, jika Anda meminum obat secara sembarangan atau berlebihan, hal ini justru dapat membebani fungsi hati.

Beberapa jenis obat bahkan bisa merusak hati dan menyebabkan peningkatan jumlah enzim hati. Cara terbaik untuk menurunkan jumlah SGOT dan SGPT akibat obat yakni dengan membatasi konsumsi obat yang tidak Anda perlukan.

5. Rutin berolahraga

Selain menerapkan pola makan sehat, faktor lainnya yang tidak kalah penting yakni rutin berolahraga. Olahraga dapat membantu membakar lemak, menurunkan berat badan yang berlebih, dan mempertahankan berat badan ideal.

Mulailah dari olahraga ringan seperti berjalan kaki atau jogging di sekitar area Anda. Lakukan secara konsisten selama 30 menit, setidaknya lima hari dalam seminggu untuk mendapatkan hasil terbaik.

Penderita penyakit hati mungkin perlu memulai secara perlahan-lahan karena mereka lebih mudah kelelahan. Tak perlu khawatir, mulailah dari aktivitas ringan yang membuat tubuh Anda tetap terasa nyaman.

Tingginya jumlah SGOT dan SGPT menandakan adanya gangguan fungsi hati. Kondisi ini memang memerlukan pengobatan. Meski begitu, Anda juga bisa berperan aktif untuk menurunkan SGOT dan SGPT dengan berbagai cara di atas.

Pengobatan dan kiat-kiat yang Anda lakukan harus berjalan secara beriringan. Namun, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada dokter bila kondisi Anda menurun atau Anda mengalami keluhan tertentu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Alcohol Metabolism: An Update. (2007). Retrieved 26 April 2021, from https://pubs.niaaa.nih.gov/publications/aa72/aa72.htm

6 Surprising Ways Alcohol Affects Your Health — Not Just Your Liver. (2020). Retrieved 26 April 2021, from https://health.clevelandclinic.org/6-surprising-ways-alcohol-affects-health-not-just-liver/

The Toxic Truth. (n.d.). Retrieved 26 April 2021, from https://sugarscience.ucsf.edu/the-toxic-truth/#.YIZBV5AzZPY

Health Consequences of Drug Misuse – Liver Damage. (n.d.). Retrieved 26 April 2021, from https://www.drugabuse.gov/drug-topics/health-consequences-drug-misuse/liver-damage

Lustig, R., Schmidt, L., & Brindis, C. (2012). The toxic truth about sugar. Nature, 482(7383), 27-29. https://doi.org/10.1038/482027a

Mirmiran, P., Amirhamidi, Z., Ejtahed, H. S., Bahadoran, Z., & Azizi, F. (2017). Relationship between Diet and Non-alcoholic Fatty Liver Disease: A Review Article. Iranian journal of public health, 46(8), 1007–1017.

van der Windt, D. J., Sud, V., Zhang, H., Tsung, A., & Huang, H. (2018). The Effects of Physical Exercise on Fatty Liver Disease. Gene expression, 18(2), 89–101. https://doi.org/10.3727/105221617X15124844266408

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M Diperbarui 30/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x