home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Cholescintigraphy

Cholescintigraphy

Ada kalanya masalah empedu perlu dideteksi melalui berbagai pemeriksaan, termasuk tes pencitraan. Salah satu yang kerap digunakan untuk mendiagnosis kerusakan pada organ pencernaan ini yaitu cholescintigraphy (koleskintigrafi), alias HIDA scan.

Apa itu cholescintigraphy?

Cholescintigraphy adalah tes pencitraan untuk melihat gambar organ hati (liver), kantong empedu, saluran empedu, dan usus kecil. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosis kondisi medis terkait organ-organ tersebut.

Prosedur yang juga dikenal dengan sebutan hepatobilier ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari tes untuk mengukur tingkat pelepasan empedu dari kantong empedu.

Pemeriksaan ini juga sering digunakan bersama dengan X-ray (rontgen) dan tes ultrasonik.

Fungsi cholescintigraphy

Cholescintigraphy umumnya dilakukan untuk memeriksa kantong empedu. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk melihat fungsi pembuangan empedu dari hati dan melacak aliran empedu dari hati menuju usus kecil.

Dengan memanfaatkan X-ray dan ultrasound, koleskintigrafi membantu mendiagnosis beberapa penyakit dan kondisi seperti:

  • peradangan kandung empedu (kolesistitis),
  • obstruksi saluran empedu,
  • kelainan bawaan saluran empedu, seperti atresia bilier,
  • komplikasi pasca-operasi, seperti kebocoran empedu dan fistula, serta
  • diagnosis transplantasi hati.

Dokter mungkin akan memakai tes ini sebagai bagian dari pemeriksaan untuk mengukur tingkat pelepasan empedu dari kantong empedu.

Proses HIDA scan

delirium adalah

Di bawah ini beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika dokter merekomendasikan cholescintigraphy sebagai cara mendiagnosis gangguan pada sistem pencernaan.

Persiapan sebelum prosedur

Sebelum menjalani pemeriksaan, ada sejumlah hal yang perlu dilakukan sesuai dengan instruksi dokter di bawah ini.

  • Berpuasa selama empat jam sebelum pemindaian, bisa minum cairan bening.
  • Melaporkan obat-obatan dan suplemen yang dikonsumsi.
  • Mengganti baju rumah sakit.
  • Menanggalkan perhiasan dan aksesori logam lainnya sebelum prosedur.

Prosedur cholescintigraphy

Sebelum prosedur dimulai, Anda diminta untuk berbaring di atas meja dan disuntikkan pelacak radioaktif ke pembuluh darah di lengan. Anda mungkin merasakan tekanan atau sensasi dingin ketika radioaktif tersebut disuntikkan.

Setelah itu, Anda mungkin mendapatkan suntikan obat sincalide intravena. Obat ini membuat kandung empedu berkontraksi dan kosong.

Pada beberapa kasus, morfin terkadang diberikan selama pemindaian cholescintigraphy. Dengan begitu, kantong empedu menjadi lebih mudah terlihat.

Dokter nantinya meletakkan kamera jenis gamma di perut untuk mengambil gambar saat senyawa radioaktif bergerak melalui tubuh.

Proses ini biasanya berlangsung selama satu jam. Bila tidak nyaman, beri tahu dokter sehingga Anda bisa menguranginya dengan menarik napas dalam. Bila berlangsung lancar, ahli radiologi akan melihat kemajuan radioaktif di seluruh tubuh di komputer.

Beberapa orang mungkin membutuhkan tes pencitraan tambahan dalam waktu 24 jam bila hasilnya kurang memuaskan.

Setelah koleskintigrafi

Pada kebanyakan kasus, HIDA scan tidak memerlukan prosedur rawat inap, alias Anda bisa langsung menjalani hari usai menjalani pemeriksaan.

Tak perlu khawatir, reaktivitas pelacak radioaktif yang disuntikkan akan hilang, baik melewati urine atau saat buang air besar (BAB).

Dokter biasanya meminta Anda untuk minum lebih banyak air agar senyawa tersebut bisa segera keluar dari sistem pencernaan.

Hasil dari cholescintigraphy

Bila sudah selesai, dokter akan mempertimbangkan tanda dan gejala yang dialami, serta hasil tes lainnya dengan hasil cholescintigraphy. Berikut hasil pemindaian HIDA.

  • Normal. Pelacak radioaktif bergerak bebas dengan empedu dari hati ke dalam kantong empedu dan usus kecil.
  • Pelacak radioaktif bergerak lambat akibat adanya penyumbatan, obstruksi, atau masalah pada fungsi hati (liver).
  • Tidak terdeteksi pelacak radioaktif di kantong empedu mungkin mengindikasikan peradangan akut (kolesistitis akut).
  • Fraksi ejeksi kandung empedu yang rendah yang bisa jadi pertanda dari peradangan kronis (kolesistitis kronis).
  • Pelacak radioaktif ditemukan di luar sistem bilier akibat adanya kebocoran.

Efek samping HIDA scan

Koleskintigrafi merupakan prosedur yang aman, tetapi ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Adapun berbagai risiko efek samping dari prosedur ini meliputi:

Bila Anda sedang hamil atau menyusui, jangan lupa untuk memberitahu dokter. Pasalnya, dokter tidak akan melakukan tes yang melibatkan paparan radiasi pada ibu hamil karena bisa membahayakan janin atau sang bayi yang dikandungnya.

Bila memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar cholescintigraphy, sebaiknya tanyakan kepada dokter guna memahami solusi yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

HIDA scan. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 8 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/hida-scan/about/pac-20384701 

HIDA Scan. (n.d). Cleveland Clinic. Retrieved 8 July 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/17099-hida-scan 

Jamsek, J., Morgan, M.A. (n.d). Cholescintigraphy. Radiopaedia. Retrieved 8 July 2021, from https://radiopaedia.org/articles/cholescintigraphy

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x