Menjemur Bayi di Bawah Sinar Matahari, Untuk Apa, Sih?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/11/2019
Bagikan sekarang

Bayi memerlukan berbagai zat gizi makro dan mikro untuk menunjang pertumbuhannya, termasuk vitamin D. Tapi apakah sebenarnya baik menjemur bayi di bawah panasnya matahari? 

Vitamin D dan sinar matahari

Vitamin D yang sering disebut dengan vitamin matahari, mempunyai peran penting untuk kesehatan tulang. Vitamin D membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang dengan cara menyerap kalsium dan fosfor yang ada di dalam darah untuk diendapkan di tulang, sehingga tulang menjadi kuat dan keras. Vitamin ini dapat dibuat oleh tubuh ketika tubuh terpapar ultarviolet B dari sinar matahari.

Apakah baik menjemur bayi di bawah sinar matahari?

Sebagian besar bayi lahir dengan kadar vitamin D rendah di dalam tubuh, oleh karena itu bayi mengandalkan vitamin D yang berasal dari ASI, sinar matahari, dan suplementasi. Kekurangan vitamin D pada bayi dapat menyebabkan rickets, susah bernapas, dan berbagai gangguan kesehatan tulang. Oleh karena itu, banyak yang mempercayai bahwa menjemur bayi di bawah paparan sinar matahari itu baik karena dapat membantu meningkatkan kadar vitamin D dan mencegah kekurangan vitamin D pada tubuh.

Terapi matahari telah dilakukan pada pertengahan abad ke-19. Terapi ini dilakukan pada orang yang mengalami penyakit rickets yang disebabkan karena kekurangan vitamin D. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 1958, terapi matahari pertama kalinya digunakan pada bayi untuk mengatasi penyakit kuning yang sering terjadi bayi yang baru lahir. Penelitian tersebut, menunjukkan bahwa menjemur bayi yang kuning setidaknya 10 menit dalam dua kali sehari dapat membuat kuning pada bayi menghilang secara perlahan. Hal ini disebabkan oleh sinar ultraviolet B dapat menguraikan kadar bilirubin yang berlebihan pada permukaan kulit sehingga kulit menjadi kuning.

Risiko paparan sinar matahari bagi bayi

Namun mulai tahun 1970-an, banyak peneliti yang menyadari bahwa paparan sinar  matahari yang terlalu lama dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit dan melanoma. Oleh karena itu, American Academy of Pediatrics menganjurkan, anak yang berusia di bawah 6 bulan sebaiknya tidak terpapar sinar matahari. Hal ini disebabkan oleh kulit bayi yang sensitif dan mudah iritasi jika dipakaikan tabir surya. Oleh karena itu lebih baik menghindarkan bayi yang baru lahir dari paparan matahari langsung.

Penyerapan vitamin D dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti umur, warna kulit atau pigmen kulit, luas permukaan tubuh yang terpapar sinar, dan waktu terpapar. Orang yang memiliki warna kulit lebih gelap berarti mempunyai pigmentasi kulit yang lebih banyak. Orang yang pigmentasi kulitnya lebih banyak, memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat memproduksi vitamin D. Tubuh tidak bisa menghasilkan vitamin D jika paparan sinar mataharinya terhalang sesuatu, seperti kaca dan tabir surya. Namun, semakin lama terpapar di bawah sinar matahari, maka akan semakin tinggi risiko terkena kanker kulit dan kulit terbakar. Selain itu, untuk meningkatkan produksi vitamin D dalam tubuh, diperlukan setidaknya 20% dari luas permukaan kulit yang terkena paparan sinar matahari.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menentukan seberapa banyak sinar matahari yang dibutuhkan anak untuk memproduksi vitamin D sesuai dengan kebutuhan tubuh. Namun beberapa peneliti menganjurkan bahwa untuk menjaga konsentrasi vitamin D yang stabil dalam tubuh, sebaiknya menjemur anak selama 5 hingga 30 menit antara pukul 10 pagi dan 4 sore, dan dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu hari.

Bagaimana menjemur bayi yang baik dan benar?

  • Memakai tabir surya yang mengandung SPF 15 atau lebih dan dipakai ulang setiap dua jam sekali atau setelah anak berkeringat. Namun pemakaian tabir surya untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan harus diminimalkan, karena kulit bayi yang masih tipis dan sensitif.  
  • Menjemur bayi setiap jam 10 pagi dan jam 4 sore, dan hindari paparan sinar matahari terkena muka, apalagi mata karena akan merusak retina bayi. Biarkan tangan dan kaki yang terkena paparan sinar matahari.
  • Menggunakan baju yang nyaman dan tipis saat menjemur bayi. Jika perlu pakaikan topi pada bayi untuk melindungi muka, leher, dan telinga bayi.

BACA JUGA

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

    Bukanlah hal yang mustahil jika Anda ingin segera kembali hamil setelah mengalami keguguran, tapi ketahui dulu beberapa hal berikut ini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Kesuburan, Kehamilan 18/05/2020

    Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

    Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

    Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

    Puasa bukan menjadi alasan untuk membatasi ibu memberikan gizi yang tepat untuk janin.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

    4 Kondisi yang Mengharuskan Ibu Hamil Membatalkan Puasanya

    Ibu hamil boleh puasa. Meski begitu, meneruskan puasa bagi ibu hamil dengan kondisi-kondisi ini tak cuma membahayakan kesehatannya, tapi juga bayinya.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hari Raya, Ramadan 14/05/2020

    Direkomendasikan untuk Anda

    gerimis bikin sakit

    Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
    agar anak mau mendengarkan orang tua

    Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020

    Mengapa Perlu Matikan Lampu Saat Tidur?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
    mulut terasa pahit saat puasa

    5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 19/05/2020