Anak Terlalu Sensitif dalam Mengelola Emosi? Hadapi dengan 4 Trik Ini

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Menangis adalah respons normal anak saat ia merasa marah, ketakutan, stres, atau bahkan ketika ia bahagia. Namun, ada yang sensitif kemungkinan akan lebih sering menangis atau mengamuk. Anak yang terlalu sensitif dalam mengelola emosi ini, cenderung akan mengalami kesulitan di masa dewasa. Sebagai orangtua, bagaimana cara Anda menghadapinya? Jangan cemas, lihat tipsnya berikut ini.

Cara menghadapi anak yang sensitif dalam mengelola emosi

Dilansir dari laman Health Kids, emosi menggambarkan apa yang dirasakan seseorang sekaligus bagaimana harus bereaksi. Emosi ini ada dalam diri seseorang sejak masih bayi dan mereka mengekspresikannya dengan tawa atau tangis. Akan tetapi, bayi dan anak masih kesulitan untuk mengelola emosi yang mereka rasakan.

Misalnya, saat marah atau kesal oleh hal kecil, mereka cenderung untuk menangis, berbeda dengan orang dewasa yang bisa mengatasi kekesalan atau kemarahan mereka dengan cara lain.

Namun, pada anak yang sensitif mereka bisa mengekspresikan emosi ini dengan cara yang berlebihan. Mereka cenderung mudah marah, frustasi, dan mudah mengamuk. Untuk membantu anak yang sensitif dalam mengelola emosi agar jadi lebih baik, orangtua bisa melakukan beberapa hal, sepeti:

1. Jangan anggap rasa sensitif yang berlebihan ini sebagai kelemahan

menjelaskan mimpi basah anak

Anak yang tantrum karena tidak ingin ditinggal di sekolah oleh Anda, memang membuat Anda berusaha keras untuk menenangkannya. Anda juga perlu mengakalinya agar ia mau mengikuti pelajaran di kelas dengan tenang.

Meski kadang membuat Anda kewalahan, jangan anggap hal ini sebagai kelemahan anak. Apalagi mengomelinya dengan kata-kata yang bisa menciutkan mentalnya, “Ah kamu ini, nyusahin Ibu aja!”

Menjadi sangat sensitif dalam mengelola emosi bukan menandakan bahwa anak lemah. Ini adalah hal yang wajar karena ia masih kesulitan untuk mengekspresikan emosinya. Pada situasi ini, si kecil sangat membutuhkan anak untuk belajar mengenali emosi, memahami, dan mengekspresikannya dengan cara lebih baik.

2. Kenalkan anak dengan berbagai emosi

emosi
Sumber: Pinterest

Agar anak lebih terkontrol mengekspresikan emosinya, belajar mengenali berbagai perasaan yang ia rasakan adalah salah satu solusinya. Anda bisa mengajarinya lewat emotikon wajah, lewat gambar, buku, atau video anak yang membahas tentang emosi.

Tunjukkan emotikon wajah bersedih, kemudian minta anak menebaknya emosi tersebut. Tidak hanya itu, beri penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak, seperti “Adik harusnya main bola, tapi di luar turun hujan. Kira-kira perasaan adik kayak gimana?”

Bila anak sudah mulai mengenali emosi yang ia rasakan, arahkan cara baik untuk mengekspresikannya. Contohnya, meminta teman untuk bicara baik-baik pada teman ketika ingin bertukar mainan, tidak dengan memukul atau menggigit.

Jelaskan padanya, ia boleh menangis ketika sedih atau marah. Namun, ingat jika ia tidak boleh menangis hingga berteriak keras-keras atau mengamuk dengan berguling-guling di lantai. Dengan begitu, anak yang sensitif dalam mengelola emosi tidak akan lagi berlebihan mengekspresikannya.

3. Pahami emosi yang anak rasakan

luka bakar pada anak

Anak yang berlebihan mengekspresikan emosinya, punya keinginan untuk dimengerti. Ia yang masih sulit untuk menyampaikan apa yang dirasakan, kebingungan dan melakukan hal tersebut agar keinginannya tersampaikan. Untuk itu, orangtua harus belajar memahami emosinya.

Saat anak sedih, karena Anda membatalkan janji untuk pergi ke kebun binatang, misalnya. Tunjukkan bahwa Anda juga sedih dengan batalnya janji tersebut, sebelum si kecil mengamuk parah. “Ayah tahu kalau Adek sedih. Ayah juga sedih kalau digituin. Minggu depan janji deh, Ayah nggak akan kayak gini lagi.”

Menunjukkan apa yang Anda rasakan tentu membuat perasaan si kecil jadi lebih baik. Dengan begitu, anak sensitif dalam mengelola emosi tidak akan lagi mengamuk jika ia merasa sedih atau marah.

4. Ajari anak untuk mengelola emosi dengan baik

penyebab anak nakal

Setelah mengenal berbagai emosi yang dirasakan, ajari anak untuk mengelola emosi tersebut. Alih-alih memukul teman, minta si kecil untuk menenangkan hatinya dengan menarik dan membuang napas dalam-dalam (latihan pernapasan). Ini bisa membantu membuat perasaan anak jadi lebih baik.

Pada anak-anak yang lebih besar, Anda bisa memintanya untuk menjauhkan diri dari situasi yang bisa membuatnya marah meluap-luap. Cari tempat yang lebih tenang, seperti di dalam kamar untuk menenangkan diri. Jika perasaan sudah lebih baik, utarakan hal yang membuat anak marah atau kesal pada orang lain.

Jika tips menghadapi anak yang sensitif dalam mengelola emosi di atas tidak juga berhasil, jangan ragu konsultasikan pada dokter anak maupun psikolog. Mereka akan membantu Anda mencari solusi yang tepat agar si kecil bisa mengendalikan dan mengekspresikan emosinya lebih baik.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 22, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 10, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca