Tak Perlu Tarik Urat, Begini Cara Menghadapi Anak yang Makannya Berantakan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Waktu makan sering kali menjadi momen pertarungan sengit antara ibu dan anak. Setiap kali si kecil merasa kenyang dan mulai bosan, anak biasanya akan memainkan makanannya hingga jatuh berserakan. Kalau Anda perhatikan, si kecil malah tampak senang melakukannya, padahal Anda justru kesal dan mulai pusing tujuh keliling. Anda pun jadi bertanya-tanya, adakah cara menghadapi anak makan berantakan tanpa perlu tarik urat? Tenang, intip trik jitunya berikut ini.

Kenapa anak suka makan berantakan?

anak makan malam

Wajar saja kalau Anda merasa jengkel saat melihat makanan anak berceceran di mana-mana. Bagaimana tidak, makanan yang sudah Anda buat susah payah malah terbuang sia-sia.

Hal ini wajar terjadi pada anak yang belum berusia dua tahun. Pada fase ini, anak masih belum mampu mengendalikan gerakan tangannya sendiri untuk mengambil, menyendok, atau menjaga makanannya tetap di dalam mangkuk. Akibatnya, buah hati Anda dapat melakukan apa pun sesuka hatinya, termasuk melempar makanan.

Meskipun pada akhirnya anak makan berantakan, sebetulnya Anda tak perlu khawatir dulu. Ingatlah bahwa setiap ibu pasti akan mengalami fase ini, bukan hanya Anda.

Justru, semakin sering anak makan berantakan, perkembangan motorik anak justru semakin terlatih, lho. Seiring berjalannya waktu, anak Anda akan belajar mengendalikan tangannya sendiri dan berusaha makan dengan tertib.

Tips menghadapi anak makan berantakan

anak makan pakai sendok

Jangan buru-buru tarik urat atau marah kepada si buah hati, ya. Ingat, ini merupakan salah satu tahap penting di mana anak sedang belajar makan sendiri.

Seorang kepala dokter anak di rumah sakit anak sekaligus asisten dosen pediatrik di University of Toronto, Dr. Jeremy Friedman, MB. ChB, FRCP(C), FAAP punya trik-trik khusus yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi anak makan berantakan. Begini caranya.

1. Bersikap tenang

Meski tidak mudah, tetaplah bersikap tenang di depan anak Anda yang sedang makan. Lagi-lagi, ingatlah meski terlihat main-main dan makan berantakan, si kecil sebenarnya sedang melatih perkembangan motoriknya dengan belajar makan sendiri.

Biarkan si kecil belajar mengenal tekstur makanan dengan memegang, meremas, mengunyah, atau bahkan melemparnya ke lantai. Berikan beberapa jenis makanan dengan tekstur yang berbeda. Contohnya sup wortel dengan tekstur cair, perkedel yang teksturnya lembek, hingga potongan buah-buahan yang teksturnya lebih keras.

2. Berikan porsi makan yang lebih sedikit

Terkadang, anak menyisakan makanannya karena merasa sudah kenyang. Nah, alih-alih menghabiskan makanan itu, ia justru tertarik untuk memainkannya hingga berceceran di mana-mana.

Kalau sudah begitu, coba kurangi porsi makan anak menjadi lebih sedikit. Ketika si kecil mulai melempar-lempar makanannya, jangan buru-buru membersihkannya. Biarkan anak bereksplorasi terlebih dahulu sampai merasa puas, lalu bersihkan tubuh anak dan lantai yang kotor setelahnya.

3. Batasi waktu makan

Buatlah jadwal khusus mengenai kapan anak harus makan dan harus seberapa lama. Bukan hanya bermanfaat untuk mendisiplinkan anak saat makan, hal ini juga dapat membantu mencegah anak makan berantakan.

Siapkan makanan untuk si kecil ketika ia benar-benar lapar. Setelah itu, dudukkan buah hati Anda di kursi makan (high chair) dan temani ia makan sampai selesai.

Meskipun Anda membatasi waktu makan, ini bukan berarti Anda boleh memaksakan anak mengunyah makanannya cepat-cepat. Perhitungkan waktu yang tepat supaya anak bisa makan tanpa terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lama.

4. Gunakan alat makan khusus

Alat makan yang digunakan si kecil juga bisa memengaruhi kebiasaan makan anak. Biasanya, makanan yang ada di atas sendok atau mangkuk yang cukup datar akan lebih mudah jatuh dan meningkatkan kemungkinan anak makan berantakan.

Ada baiknya, gunakan sendok atau mangkuk yang lengkungannya cukup dalam supaya makanan tidak gampang tercecer. Selain itu, pastikan anak sudah memakai celemek khusus yang terdapat kantong penampung di bawahnya.

Ketika anak makan sendiri, makanan yang jatuh akan tertampung di dalam kantong celemek yang digunakan oleh si kecil. Jadi, Anda tak perlu cemas lagi bahwa lantai akan kotor setelah anak selesai makan.

5. Kenali tanda anak kenyang

Setelah merasa kenyang dan menyisakan makanan di piring, anak biasanya akan merasa bosan dan mulai mencari hal-hal lain yang menarik perhatian. Mereka akan memainkan apa saja yang ada di hadapannya, termasuk sisa makanan tadi.

Karena itulah, Anda perlu memperhatikan tanda-tanda anak kenyang. Biasanya, anak akan mulai menurunkan kecepatan saat mengunyah makanan atau menutup bibirnya rapat-rapat saat merasa kenyang.

Kalau sudah begitu, segera ambil sisa makanan anak, lalu bersihkan tubuh si kecil. Jika anak mulai tertarik untuk melempar makanannya, segera alihkan perhatian si kecil dengan mainan favoritnya. Dengan begitu, Anda tak perlu cemas lagi menghadapi anak makan berantakan mulai hari ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

4 Cara Menghilangkan Dahak pada Anak Secara Alami

Dahak yang menumpuk di tenggorokan bisa membuat anak Anda tidak nyaman. Berikut cara alami yang dapat membantu menghilangkan dahak pada anak.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Parenting, Tips Parenting 9 September 2020 . Waktu baca 3 menit

11 Gejala Pneumonia Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Pneumonia pada anak diklaim sebagai penyebab kematian anak tiap 20 detik. Berikut beberapa gejala pneumonia pada anak yang sebaiknya Anda ketahui.

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Parenting, Tips Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Bayi Menangis Terus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Karena belum bisa berbicara, menangis adalah satu-satunya cara bayi berkomunikasi. Apa saja penyebab bayi menangis dan bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 10 menit

Mengulik Tahapan Perkembangan Emosi Anak Usia 6-9 Tahun

Kemampuan dalam mengelola emosi perlu ditumbuhkan dalam diri anak sejak kecil. Sudah tahukah Anda tahapan perkembangan emosi anak usia 6-9 tahun?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gangguan atau penyimpangan makan pada remaja

Penyebab Gangguan Makan pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit
pendidikan montessori

Mengenal Metode Pendidikan Montessori: Membebaskan Anak untuk Bereksplorasi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 4 menit
mengajari anak gosok gigi

6 Cara Efektif Mengajarkan Anak Gosok Gigi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit
bakat anak

Tips Mencari Tahu dan Mengembangkan Bakat Anak

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 10 September 2020 . Waktu baca 4 menit