Cara Tepat Mendidik Anak yang Sulit Diatur Agar Lebih Nurut Pada Orangtua

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

“Jangan ujan-ujanan!”, “Jangan jajan sembarangan!”, “Ayo, kerjain dulu peernya sebelum bobo” — sudah berapa dari nasehat dan ajakan Anda yang masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri anak? Sudah berapa kali pula Anda bolak-balik menghukum si kecil karena tidak mau mendengar apa kata ayah ibunya, tapi ia tak juga jera?

Setiap orangtua memiliki gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya; ada yang bersikap agresif, pasif, lembut, tegas, dan lainnya. Namun tanpa disadari, metode interaksi orangtua dengan anak akan memengaruhi kemampuan dan kemauan anak untuk mendengarkan apa kata orangtua, yang tercermin dari cara anak berbicara kepada ayah-ibunya. Oleh karena itu, sebagai orangtua, Anda perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan anak Anda. Karena jika tidak, hal tersebut justru membuat anak Anda semakin sulit untuk diatur.

Jika saat ini Anda sedang kehabisan cara untuk mengatasi anak yang sulit diatur, berikut adalah beberapa hal yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan.

Hal yang boleh dilakukan untuk mengatasi anak yang sulit diatur

1. Tidak ada salahnya bilang “YA”

Seringkali Anda langsung mengatakan “tidak” saat anak Anda meminta sesuatu yang aneh-aneh sebagai tanda pelarangan mutlak, yang tidak bisa diganggu gugat. Secara tak sadar, ini dapat membuat anak semakin berontak melawan keinginan orangtua karena merasa dikekang.

Coba untuk menawarkan alternatif lain. Misalkan, jika anak Anda ingin corat-coret dinding, maka cari tahu dulu alasan kenapa mereka ingin corat-coret. Kemudian sarankan sebuah alternatif yang dapat diterima oleh mereka, misalkan menyediakan buku gambar, kanvas, dan lain-lain. Hal ini akan menunjukkan bahwa Anda mendengarkan keinginan mereka dan memperkuat kepercayaan mereka pada Anda dan menjadikan Anda sebagai “teman” daripada “lawan”.

2. Beri penjelasan

Anak yang sulit diatur kadang bukan berarti mereka ingin melawan apa kata orangtua. Mereka mungkin hanya tidak mengerti kenapa Anda melarangnya berbuat demikian. Misalnya, Anda ingin melarangnya untuk hujan-hujanan di lapangan. Daripada langsung dengan tegas menolah “Kamu nggak boleh ya, main ujan-ujanan!” dan mengunci pagar rumah, jelaskan padanya kalau ia main hujan-hujanan “nanti jadi masuk angin, padahal besok hari sekolah.” Dengarkan juga respon atau saran dari anak Anda. Hal ini akan membantu anak berpikir logis dan terbiasa mendengarkan Anda.

3. Jadilah orangtua, bukan teman

Memposisikan diri menjadi teman tidak salah, namun, dalam kondisi anak yang sedang sulit-sulitnya diatur Anda perlu berperan sebagai orangtua, bukan sebagai teman. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan mereka tentang kedisiplinan, serta menetapkan batasan yang bisa menanamkan kepercayaan diri saat mereka belajar menjalani kehidupan.

Cara yang salah untuk mendisiplinkan anak yang sulit diatur

1. Menghukum

Menghukum seringkali dijadikan alasan untuk mendisiplinkan anak yang sulit diatur. Padahal, disiplin dan hukuman adalah dua hal yang berbeda. Disiplin merupakan sarana bagi orangtua untuk terlibat secara aktif terlibat dalam hidup anak guna membantu membentuk karakter moral dan kepribadian mereka. Sedangkan hukuman adalah tindakan yang berfungsi sebagai balas dendam.

Jadi, mengajarkan anak untuk disiplin tidak selalu harus dengan memberikan hukuman kepada mereka. Cari tahu alasan di balik perilaku mereka, dan ambil tindakan yang sesuai untuk memperbaiki keadaan emosi mereka. Lagipula, menghukum anak saat mereka sedang sulit-sulitnya diatur malah semakin membuat mereka merasa tidak nyaman dan memberontak.

2. Jangan berbohong

Meskipun terlihat sepele, namun, kebohongan kecil seperti, “mainannya nggak dijual”, “iya besok ya perginya”, dan bohong putih lainnya, bisa berdampak pada sikap anak yang tidak mau mendengar perkataan Anda. Lagipula, anak-anak Anda tidak sepolos yang Anda bayangkan. Mereka tentu tahu ketika Anda sedang berbohong dan mengingkari janji.

Bagi seorang anak, melanggar ‘janji’ bisa mengikis kepercayaan dan akhirnya mereka akan berhenti mendengarkan apa yang Anda katakan.

3. Jangan memaksakan kehendak

Jika Anda ingin anak Anda mendengarkan Anda, maka Anda harus terlebih dahulu mulai mendengarkan mereka. Jangan menempatkan mereka dalam situasi yang tidak dapat mereka tangani hanya karena Anda merasa mereka ‘seharusnya’ melakukan hal tersebut. Hal tersebut membuat anak Anda tidak nyaman dan merasa keinginannya tidak didengar oleh orangtuanya.

4. Jangan menakut-nakuti

Larangan yang diberikan seringkali dalam bentuk “Jangan makan permen, nanti giginya bolong” atau “Jangan main maghrib-maghrib, nanti diculik kuntilanak!” dan larangan lainnya. Padahal, menakut-nakuti anak karena ‘teror’ yang Anda buat sendiri bisa membuat anak kehilangan sumber informasi yang mereka percayai, sehingga membuat mereka tidak mau mendengarkan ucapan Anda lagi.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca