Haruskah Orangtua Mengikuti Menu MPASI Tunggal?

Bagi orangtua yang sedang mulai merencanakan menu MPASI bagi bayinya, mungkin pernah beberapa mendengar soal MPASI tunggal. Entah dari forum internet atau mungkin saran dari sesama ortu yang punya pengalaman sama sewaktu dulu. Tak tanggung-tanggung, beberapa sumber menyebutkan bahwa cara pemberian makan ini telah direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Melihat teman atau saudara Anda berhasil menerapkan metode ini ke bayi mereka, Anda mungkin jadi ikut-ikutan tanpa tahu apa sebenarnya MPASI tunggal ini.

Nah, sebenarnya apa sih MPASI tunggal itu? Apa benar baik diberikan ke bayi?

Apa itu menu MPASI tunggal?

Menu MPASI tunggal adalah menu makanan padat pendamping asi yang hanya terdiri dari satu jenis makanan saja, misalnya bubur beras, untuk diberikan pada bayi terus-terusan selama 1-14 hari.

Komunitas penggiat MPASI tunggal mengklaim bahwa cara pemberian makan seperti ini bertujuan untuk melihat seperti apa reaksi bayi terhadap makanan baru. Apakah setelah diberikan makanan tersebut bayi mengalami diare, sembelit, atau bahkan alergi?

Apakah menu MPASI tunggal baik untuk bayi?

MPASI idealnya mulai diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan. Hal ini bertujuan agar bayi mendapat sumber nutrisi lain selain dari ASI, karena kebutuhan gizi bayi pada usia tersebut sudah meningkat sehingga asupan ASI saja sudah tidak lagi mampu memenuhinya.

Gizi dari MPASI yang diberikan pada bayi haruslah mencukupi kebutuhan tubuhnya agar dapat membantu proses tumbuh kembangnya. Dalam lamannya, WHO menyebutkan yang dimaksud “cukup” adalah cukup dalam jumlah (porsi), frekuensi pemberian, konsistensi makanan, serta cukup variasi jenis makanannya, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sambil mempertahankan pemberian ASI.

WHO sama sekali tidak menyebutkan bahwa menu MPASI yang diberikan ke bayi harus menu tunggal atau satu jenis menu makanan saja. Itu karena satu jenis makanan saja tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang banyak. MPASI tunggal malah membatasi pilihan makanan dan asupan gizi bayi. Kebalikannya, WHO justru menekankan agar MPASI diberikan lewat jenis makanan yang beragam, dan dipastikan mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral yang dibutuhkan bayi.

Jika tujuannya adalah untuk mengetahui apakah bayi memiliki alergi makanan tertentu, sebaiknya tetap berikan bayi makanan yang beragam. Barulah dari situ Anda bisa mengetahui si kecil alergi terhadap sesuatu atau tidak.

Makanan terbaik untuk dijadikan menu MPASI bayi

Berikut merupakan beragam makanan yang harus diberikan ke bayi untuk memenuhi kebutuhan gizinya:

  • Makanan sumber karbohidrat, seperti nasi/bubur, kentang, jagung, roti, pasta, dan gandum yang merupakan sumber energi utama bagi tubuh.
  • Makanan sumber protein hewani, seperti daging, ayam, telur, dan ikan. Selain sebagai sumber protein, daging (terutama daging merah) merupakan sumber zat besi dan zink yang sangat dibutuhkan oleh bayi. Beberapa jenis ikan, seperti ikan berlemak (salmon dan tuna) mengandung asam lemak omega 3 dan omega 6 untuk membantu perkembangan otak bayi. Selain itu, kuning telur juga mengandung omega 3 dan vitamin A.
  • Makanan sumber protein nabati, seperti tempe, tahu, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain mengandung protein, makanan tersebut juga mengandung lemak, serta beberapa vitamin dan mineral.
  • Makanan sumber lemak, seperti minyak ikan, ikan berlemak, beberapa kacang-kacangan, dan makanan lainnya yang mengandung lemak baik. Lemak merupakan salah satu nutrisi penting untuk mendukung pertumbuhan bayi.
  • Makanan sumber vitamin dan mineral, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

Jika curiga atau khawatir bayi Anda memiliki alergi makanan tertentu, Anda cukup memberikan makanan yang rentan menyebabkan alergi (misalnya kacang, susu sapi, seafood) secara bertahap. Satu per satu coba diberikan ke bayi selama beberapa hari untuk melihat apakah muncul reaksi alergi tertentu. Tunggu 3-5 hari sebelum menambahkan makanan lain yang biasa menyebabkan alergi ke menu bayi.

Baca Juga:

Sumber
Arinda Veratamala, S.Gz Gizi Ibu dan Anak
Arinda Veratamala adalah ahli gizi lulusan program studi Ilmu Gizi dari Universitas Indonesia. Bakatnya di bidang penulisan mendorongnya untuk menelurkan buku berjudul "Gizi Anak dan Remaja" bersama dengan kedua dosennya di 2017. Kecintaannya pada dunia gizi, terutama gizi untuk ibu, bayi, anak, sampai remaja, membuatnya ingin terus menghasilkan karya tulisan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Hal ini karena ia sadar bahwa fase ibu dan anak adalah fondasi awal untuk menciptakan generasi yang hebat.
Selengkapnya
Artikel Terbaru