Cara Mengatasi Hidung Anak Berdarah Akibat Jatuh

    Cara Mengatasi Hidung Anak Berdarah Akibat Jatuh

    Anak-anak bisa sangat aktif bergerak sehingga rentan sekali mengalami cedera, termasuk perdarahan pada hidung. Hidung berdarah bisa terjadi akibat anak jatuh, terbentur, atau terkena lemparan benda saat bermain.

    Jika mendapati anak mengalami kondisi ini, jangan panik. Supaya tidak salah memberikan pertolongan pertama, bekali diri Anda dengan beberapa cara aman untuk menangani hidung berdarah pada anak akibat jatuh.

    Kenali jenis cedera penyebab hidung berdarah

    cara mengeluarkan benda dari hidung

    Sebelum memberikan pertolongan, Anda tentu perlu memastikan lebih dahulu cedera apa yang menimpa hidung anak.

    Menurut Seattle Children Hospital, cedera hidung terbagi menjadi beberapa kondisi, di antaranya sebagai berikut.

    1. Mimisan

    Mimisan merupakan cedera hidung yang paling umum terjadi. Hidung memiliki banyak pembuluh tipis sehingga sangat mudah pecah dan terjadi perdarahan jika terkena pukulan atau tekanan.

    2. Hidung bengkak

    Selain berdarah, hidung bengkak dan memar juga bisa terjadi, misalnya akibat terbentur.

    Pembengkakan biasanya akan hilang dalam waktu 4—5 hari. Namun, bekas memar akan hilang dalam waktu paling lama 2 minggu.

    3. Hidung patah

    Cedera hidung pada anak yang satu ini dapat menyebabkan hidung patah yang bisa ditandai hidung bengkok, bengkak, memar, dan nyeri.

    Kondisi ini harus ditangani oleh dokter tidak lebih dari 10 hari sebelum cedera.

    3. Hematoma septum hidung

    Kondisi ini terjadi akibat adanya penggumpalan darah di dinding tengah pemisah lubang hidung.

    Kondisi ini bisa juga membuat hidung anak bengkak. Jika ini terjadi, sebaiknya segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

    Ini karena adanya gumpalan darah di dinding tengah hidung berisiko menyebabkan kerusakan tulang rawan dan cacat pada hidung.

    Nah, dari kondisi-kondisi di atas, diketahui bahwa hidung berdarah saat anak jatuh bisa disebut juga dengan mimisan.

    Berdasarkan bagian hidung yang mengalami perdarahan, mimisan pada anak bisa dibagi menjadi 2 jenis berikut ini.

    • Mimisan anterior. Paling umum tetapi tidak serius dan terjadi ketika pembuluh darah di bagian depan hidung pecah serta berdarah.
    • Mimisan posterior. Lebih jarang tetapi bisa mengancam jiwa karena kehilangan banyak darah dan terjadi di bagian belakang hidung dekat tenggorokan.

    Meski bisa disebabkan oleh beragam kondisi, bahkan cedera ringan akibat jatuh saat bermain, hidung berdarah pada anak perlu ditangani secara tepat agar bisa segera berhenti.

    Ini karena mimisan yang terjadi terlalu lama berisiko menyebabkan kondisi yang lebih serius pada anak.

    Jika hidung berdarah akibat anak jatuh terus terjadi atau sulit berhenti, maka Anda perlu membawa anak ke dokter untuk diperiksa.

    Cara tepat menangani hidung berdarah akibat jatuh pada anak

    mengatasi hidung tersumbat pada anak

    Saat mengalami hidung berdarah akibat jatuh, anak membutuhkan pertolongan sesegera mungkin supaya kondisi yang dialami tidak bertambah buruk.

    Agar bisa memberi pertolongan dengan tepat, simak langkah-langkah menangani hidung anak yang berdarah akibat jatuh di bawah ini, dilansir dari Mayo Clinic.

    1. Duduk tegak dan condongkan tubuh ke depan

    Dengan menjaga tubuh tetap tegak, tekanan darah di pembuluh darah pada hidung anak bisa berkurang. Hal ini dapat mencegah pendarahan lebih lanjut.

    Selain itu, mencondongkan tubuh ke depan saat duduk juga akan membantu menghindari anak menelan darah yang dapat masuk melalui saluran antara hidung dan mulut.

    Ini karena darah tersebut berisiko mengiritasi perut anak.

    2. Embuskan udara dari hidung dengan lembut

    Anda bisa meminta anak untuk mengembuskan udara dari hidung guna membantu membersihkan hidung dari gumpalan darah.

    Selanjutkan, bersihkan area hidung anak dengan menyemprot kedua sisi hidung dengan dekongestan hidung yang mengandung oxymetazoline.

    3. Jepit hidung anak

    Gunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menutup lubang hidung. Minta anak untuk bernapas melalui mulut dan lanjutkan menjepit hidung selama 10 hingga 15 menit.

    Menjepit hidung bisa mengirimkan tekanan ke titik perdarahan pada septum hidung. Cara ini sering kali bisa membantu menghentikan aliran darah.

    Jika pendarahan berlanjut setelah 10 hingga 15 menit, ulangi kembali menjepit hidung selama 10 hingga 15 menit.

    Hindari berusaha melihat bagian dalam hidung anak. Jika pendarahan masih terus berlanjut, segera cari perawatan darurat ke dokter.

    Untuk mencegah terjadinya pendarahan berulang, hindari mengorek hidung anak atau meminta anak mengembuskan udara melalui hidungnya selama beberapa jam.

    Selain itu, minta pada anak untuk tidak membungkukan tubuhnya untuk sementara waktu.

    Anda juga dapat mengoleskan petroleum jelly dengan lembut ke bagian dalam hidung anak menggunakan kapas atau jari Anda.

    Jika perdarahan kembali terjadi, ulangi langkah-langkah di atas. Namun, sebaiknya hubungi dokter jika pendarahan yang dialami si Kecil masih terus berlanjut.

    Kapan anak harus dibawa ke dokter?

    Jika Anda mendapati cedera hidung akibat jatuh menyebabkan hidung berdarah yang cukup serius pada anak, maka jangan menunda untuk periksakan anak ke dokter.

    Hidung berdarah yang parah pada anak akibat jatuh bisa ditandai dengan gejala berikut ini.

    • Perdarahan terjadi terus-menerus selama lebih dari 30 menit.
    • Anak merasa sangat lemas atau ingin pingsan.
    • Perdarahan terjadi disertai hidung yang patah.

    Foto Rontgen pada anak mungkin perlu dilakukan untuk memastikan bagian tulang hidung yang patah.

    Salah satu pengobatan yang mungkin dilakukan dokter yakni prosedur pembedahan. Biasanya, prosedur ini akan dilakukan pada hari kelima atau ketujuh.

    Bila cedera juga menyebabkan hematoma septum hidung. kondisi ini juga perlu pembedahan dengan cara memotong bagian tertentu untuk mengalirkan peredaran darah.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Damar Upahita

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 15/11/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan