backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Fimosis pada Bayi

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Fimosis pada Bayi

Kulup penis yang susah ditarik ke belakang bukan hanya dialami oleh pria dewasa. Kondisi yang dikenal dengan istilah medis fimosis ini juga bisa terjadi pada bayi. Kenali lebih lanjut kondisi ini mulai dari gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya.

Apa itu fimosis pada bayi?

Fimosis (phimosis) adalah kondisi kulup terasa kencang dan tidak dapat ditarik dari ujung penis. Kulup sendiri merupakan lapisan kulit tipis yang menutupi ujung penis.

Fimosis merupakan kondisi yang umum terjadi pada sebagian besar bayi laki-laki yang baru lahir dan tidak mengalami kelainan. 

Kebanyakan kulup anak laki-laki tidak tertarik ke belakang (retractable) sebelum usia 5 tahun. Terkadang, kulup baru bisa ditarik pada anak laki-laki usia 10 tahun atau lebih. 

Melansir situs Boston Children’s Hospital, pada usia 17 tahun, 90% anak laki-laki dapat menarik kulupnya ke belakang sepenuhnya. 

Meski begitu, pada beberapa kasus, fimosis pada bayi bisa berlanjut hingga anak memasuki usia remaja.

Selain fimosis, ada pula yang dikenal dengan sebutan parafimosis (paraphimosis). Kondisi ini ditandai dengan kulup yang ditarik ke belakang dan tidak bisa kembali ke posisi semula. 

Kondisi ini bisa menyebabkan penis terjepit serta mengganggu aliran darah sehingga bisa dapat berakibat fatal.

Apa saja tanda dan gejala fimosis pada bayi?

memakai popok terlalu lama

Bayi, anak, hingga pria dewasa dapat mengalami gejala fimosis yang berbeda-beda. Akan tetapi, kulup bayi yang mengalami fimosis umumnya menonjol saat buang air kecil.

Kulup pun tidak dapat ditarik sepenuhnya hingga anak berusia 3 tahun. Meski begitu, pada beberapa anak, proses ini mungkin memakan waktu lebih lama.

Jika anak laki-laki Anda mengalami hal ini, Anda tidak perlu khawatir. Pasalnya, fimosis adalah kondisi normal yang tidak membutuhkan penangan khusus karena akan membaik dengan sendirinya. 

Kapan harus ke dokter?

Meski umumnya normal, Anda sebaiknya memeriksakan si Kecil ke dokter jika ia mengalami kondisi berikut.

  • Pembengkakan pada ujung penis saat kulup ditarik atau ditarik ke belakang.
  • Nyeri pada kemaluan.
  • Ketidakmampuan untuk menarik kulup kembali ke ujung penis.
  • Perubahan warna, baik jadi warna merah tua atau kebiruan pada ujung penis.
  • Susah buang air kecil.

Gejala yang disebutkan di atas adalah pertanda parafimosis atau komplikasi yang perlu penanganan dokter.

Apa penyebab fimosis pada bayi?

Secara garis besar, penyebab fimosis terbagi menjadi dua, yakni sebagai berikut.

1. Fimosis fisiologis

Anak-anak dilahirkan dengan kulup yang ketat saat lahir dan akan mengendur secara alami seiring berjalannya waktu. Kondisi ini terjadi karena kulup bayi belum berkembang sempurna.

2. Fimosis patologis

Selain karena proses alami, fimosis pada bayi dapat terjadi akibat adanya jaringan parut, infeksi, atau peradangan. 

Pencabutan kulup secara paksa dapat menyebabkan perdarahan, jaringan parut, dan trauma psikologis bagi anak yang berisiko menyebabkan fimosis. Penarikan kulup secara paksa juga bisa menyebabkan kondisi fimosis.

Fimosis akibat penyebab ini biasanya menimbulkan gejala lain, seperti perdarahan dan nyeri pada area kemaluan dan bayi menjadi rewel.

Apa saja komplikasi fimosis pada bayi?

bayi sering kaget

Meskipun jarang terjadi, kemungkinan komplikasi tetap ada. Berikut berbagai komplikasi yang mungkin terjadi akibat fimosis pada anak.

  • Nyeri pada penis.
  • Infeksi.
  • Kesulitan buang air kecil.
  • Kematian jaringan (nekrosis) di ujung penis.
  • Cedera yang tidak disengaja pada struktur di sekitar penis.
  • Menempelnya sisa kulit pada kepala penis.
  • Terjepitnya kepala penis jika kulit terdapat bekas luka di atasnya.
  • Bagaimana dokter mendiagnosis kondisi ini?

    Seperti halnya fimosis pada orang dewasa, dokter akan terlebih dahulu mendiagnosis fimosis pada si Kecil untuk menentukan pengobatan yang tepat.

    Dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan anak kepada Anda. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan melihat penis dan kulup si Kecil.

    Tanyakan kepada dokter untuk mengetahui jenis pemeriksaan apa saja yang diperlukan sesuai kondisi anak Anda.

    Apa saja pengobatan fimosis pada bayi?

    sunat bayi

    Bila si Kecil menunjukkan tanda-tanda fimosis, Anda jangan dulu panik. Berikut beberapa perawatan yang bisa dipilih untuk menanganinya.

    1. Jaga kebersihan penis

    Kulup yang menempel di ujung penis tidak boleh ditarik secara paksa selama masa bayi dan anak usia dini. 

    Dalam keadaan normal, kulup akan meregang dengan sendirinya dan tertarik kembali secara normal. Ini bertujuan untuk menjaga kebersihan area sekitar penis selama tiga hingga lima tahun pertama kehidupan bayi.

    Orangtua hanya perlu memastikan area penis bayi selalu bersih. Gunakan sabun dan air serta tisu untuk membersihkan badan hingga organ intim bayi.

    Ketika anak sudah lebih besar dan kulupnya bisa tertarik sepenuhnya, ia perlu belajar menariknya kembali, membersihkan, dan mengeringkan bagian bawah kulupnya sebagai bagian dari rutinitas kebersihannya. 

    Setelah ditarik, kulup harus dikembalikan ke posisi semula, yaitu melewati kepala penis.

    2. Penggunaan krim khusus

    Dokter mungkin merekomendasikan penggunaan kortikosteroid topikal untuk mengatasi fimosis pada bayi dan anak-anak. Pengobatan ini juga efektif pada kebanyakan pria dewasa.

    Salep kortikosteroid digunakan untuk membantu melembutkan kulup yang ketat di sekitar penis, sehingga kulup dapat dengan mudah ditarik kembali.

    Dokter akan memberi tahu cara mengoleskan salep pada bagian cincin ketat di kulup dan atau kepala penis. Salep dipijat ke daerah yang terkena dua kali sehari selama 6—8 minggu bersamaan dengan peregangan manual dua kali sehari.

    Setelah kulup dapat ditarik sepenuhnya, penggunaan salep dihentikan. Peregangan manual yang dilakukan saat mandi air hangat dan buang air kecil untuk anak yang sudah terlatih menggunakan toilet akan mencegah fimosis kambuh. 

    Kortikosteroid yang paling umum digunakan adalah hidrokortison 2,5%, betametason 0,05%, triamsinolon 0,01%, dan flutikason propionat 0,05%.

    3. Prosedur sunat

    Selain menjaga kebersihannya, fimosis pada bayi dapat diatasi dengan prosedur sunat anak.

    Sunat bisa dilakukan pada bayi baru lahir untuk menghilangkan kulup. Prosedur pembedahan ini dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi lokal.

    Setelah bayi melebihi usia dan berat badan tertentu, sunat hanya dapat dilakukan sebagai operasi rawat jalan di ruang operasi dengan menggunakan anestesi umum.

    Dalam kebanyakan kasus, pilihan untuk melakukan sunat di usia dini didasarkan pada alasan sosial, budaya, atau agama, bukan merupakan prosedur khusus untuk mengatasi fimosis pada bayi.

    Itulah yang perlu Anda pahami seputar fimosis pada bayi dan tindakan apa yang harus dilakukan jika si Kecil mengalaminya.

    Bila Anda masih membutuhkan informasi lebih banyak, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada dokter anak.

    Kesimpulan

    Fimosis adalah kondisi kulup terasa kencang dan tidak dapat ditarik dari ujung penis. Fimosis pada bayi umumnya merupakan kondisi normal hingga ia memasuki usia 3—5 tahun. Meski begitu, kulup yang tidak dapat ditarik bisa bertahan lebih lama. Jika Anda mendapati kondisi ini, terutama disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya periksakan si Kecil ke dokter untuk mendapat diagnosis dan perawatan yang tepat.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Carla Pramudita Susanto

    General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


    Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

    ad iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    ad iconIklan
    ad iconIklan