Bukan Kondisi Sepele, Pahami Seluk Beluk Seputar Intoleransi Laktosa Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Pernahkah Anda melihat si kecil mengalami diare usai minum susu? Jika ya, kemungkinan besar anak memiliki intoleransi laktosa, terutama ketika disertai dengan beragam gejala khas lainnya. Jika dibiarkan, kondisi ini akan menimbulkan berbagai masalah nutrisi pada anak. Agar tidak salah penanganan, mari selami lebih lanjut seputar intoleransi laktosa pada anak beserta cara penanganan yang tepat.

Apa itu intoleransi laktosa pada anak?

intoleransi laktosa adalah

Intoleransi laktosa adalah munculnya gejala klinis karena tubuh kesulitan untuk mencerna asupan laktosa, yang merupakan gula di dalam susu. Normalnya, tubuh memiliki enzim laktase yang berperan sebagai pemecah gula agar lebih mudah diserap oleh tubuh.

Enzim laktase nantinya bertugas untuk menguraikan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga bisa langsung diserap oleh usus. Namun pada anak yang mengalami intoleransi laktosa, tubuhnya hanya memproduksi sedikit sekali enzim laktase dari usus.

Akibatnya, tubuh anak mengalami kesulitan dalam memecah laktosa yang masuk sehingga menyebabkan munculnya berbagai gejala intoleransi. Mulai dari perut kembung, sakit perut, mual, muntah, tinja berbau asam, hingga diare.

Diare merupakan salah satu gejala khas yang dialami pada anak dengan intoleransi laktosa. Dengan kata lain, intoleransi laktosa dan diare bisa dikatakan sebagai dua kondisi yang hampir selalu terjadi bersamaan pada anak.

Infeksi rotavirus juga bisa mengakibat intoleransi laktosa

cara mengatasi diare

Laktosa adalah sumber karbohidrat dalam bentuk gula yang biasanya terdapat di dalam ASI dan susu formula. Setelah anak mengonsumsi sumber makanan atau minuman yang mengandung laktosa, usus halus bertugas untuk memecahnya menjadi glukosa dan galaktosa.

Proses penyerapan tersebut dibantu oleh enzim laktase yang ada pada mikrovili di jaringan usus halus. Di sini, mikrovili bertugas untuk memperluas permukaan usus guna memudahkan penyerapan nutrisi pada sel-sel usus.

Selanjutnya, hasil dari proses penyerapan tersebut masuk ke aliran darah untuk dihantarkan ke seluruh tubuh sebagai nutrisi. Akan tetapi, lain ceritanya jika anak terserang virus bernama rotavirus. Virus ini terbilang berbahaya karena mudah menular serta bisa mengakibatkan diare parah pada anak.

Diare yang diakibatkan oleh rotavirus inilah yang kemudian membuat mikrovili pada usus rusak. Alhasil, produksi enzim laktase yang notabene ditemukan di usus ini, akan mengalami gangguan sehingga jumlahnya tidak optimal untuk mencerna laktosa.

Singkatnya, intoleransi laktosa bukan hanya bisa mengakibatkan diare pada anak saja, tapi juga sebaliknya. Diare parah, khususnya yang disebabkan oleh rotavirus, bisa mengakibatkan intoleransi laktosa pada anak.

Apa saja jenis intoleransi laktosa pada anak?

Intoleransi laktosa pada anak bukan hanya ada satu jenis saja, berikut beberapa jenisnya:

1. Intoleransi laktosa primer

Intoleransi laktosa primer adalah salah satu jenis intoleransi yang paling umum pada anak. Kondisi ini disebabkan oleh penurunan produksi enzim laktase seiring bertambahnya usia. Hal inilah yang kemudian membuat asupan susu sulit dicerna oleh anak.

2. Intoleransi laktosa sekunder

Berbeda dengan intoleransi laktosa primer, jenis intoleransi laktosa sekunder pada anak cenderung lebih jarang terjadi. Intoleransi laktosa sekunder terjadi ketika produksi enzim laktase menurun akibat serangan penyakit, cedera, maupun operasi yang melibatkan usus.

Beberapa penyakit yang bisa menimbulkan intoleransi laktosa pada anak yakni penyakit celiac dan penyakit Crohn.

3. Intoleransi laktosa kongenital

Intoleransi laktosa kongenital terbilang sangat jarang terjadi ketimbang dua jenis intoleransi lainnya. Kondisi ini disebabkan oleh tidak adanya aktivitas enzim laktase di dalam tubuh, yang bisa diwariskan dari gen keluarga disebut autosom resesif.

Selain itu, intoleransi laktosa kongenital pada anak juga bisa didapat oleh bayi prematur karena produksi enzim laktase yang tidak mencukupi.

Apa saja sumber makanan yang mengandung laktosa?

makanan dan minuman manis

Sebagian besar laktosa umumnya ditemukan di dalam susu dan produk olahan dari susu. Misalnya susu, whey, susu bubuk, maupun susu tanpa lemak biasanya mengandung laktosa di dalamnya. Di samping itu, berbagai produk makanan olahan tak jarang juga diberi tambahan susu maupun produk olahannya.

Susu dan produk olahannya yang mengandung laktosa

Berikut sejumlah susu dan produknya dengan kandungan laktosa yang harus diperhatikan pada anak dengan intoleransi:

  • Susu sapi
  • Susu kambing
  • Es krim
  • Yogurt
  • Keju
  • Mentega

Jenis makanan yang terkadang mengandung laktosa

Berikut beberapa jenis makanan yang kadang mengandung kandungan laktosa dari susu, sehingga harus diperhatikan pada anak dengan intoleransi:

  • Biskuit
  • Kue
  • Cokelat
  • Permen
  • Sereal
  • Makanan siap saji

Intoleransi laktosa pada anak memang tidak bisa disepelekan. Sebaiknya, selalu periksa label komposisi makanan karena beberapa jenis makanan mungkin mengandung laktosa yang “tersembunyi”.

Berikut beberapa jenis makanan yang bisa mengandung laktosa:

  • Roti
  • Beberapa daging olahan seperti sosis dan ham
  • Mayones

Bagaimana cara menangani intoleransi laktosa pada anak?

Sampai saat ini, belum ada penanganan yang mampu meningkatkan produksi laktosa pada anak dengan intoleransi. Namun sebagai orangtua, Anda bisa membantu menjaga kondisi anak dengan cara seperti:

  • Menghindari mengonsumsi susu maupun produk olahannya dalam porsi besar, bahkan lebih baik tidak mengonsumsinya meskipun porsinya sedikit.
  • Perhatikan dengan seksama label komposisi bahan yang tertera pada produk makanan atau minuman, terutama bagi produk yang rentan mengandung laktosa.
  • Mengganti jenis susu untuk anak dengan susu yang bebas laktosa.
  • Dikutip dari medicalnewstoday, disarankan mengikuti diet bebas laktosa selama 2 minggu, kemudian memperkenalkan kembali makanan dengan laktosa untuk menilai tingkat toleransi. Mengonsumsi 12 gram laktosa dalam satu waktu disinyalir tidak memberikan efek apapun.

Beberapa kondisi intoleransi laktosa pada anak masih memungkinkannya untuk mengonsumsi susu dan produk olahannya meski sedikit. Hanya saja, jika ternyata anak memang tidak dianjurkan sama sekali untuk mengonsumsi susu, produk olahannya, maupun berbagai jenis makanan dengan kandungan laktosa, jangan khawatir.

Anak masih bisa memperoleh sumber kalsium, vitamin D, dan zat gizi lainnya dari sumber makanan berikut ini:

  • Kacang almon
  • Tahu
  • Kol
  • Ikan salmon, tuna, dan makarel
  • Kuning telur
  • Hati sapi

Setelah positif didiagnosis memiliki intoleransi laktosa, dokter biasanya akan menyarankan beberapa jenis makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi anak.

Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan agar anak yang mengalami diare dan intoleransi laktosa tidak diberikan susu dari sumber hewani. Sebagai gantinya, berikan telur, susu kedelai, dan ikan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi anak.

Sementara bila anak mengalami diare akibat intoleransi laktosa, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan tindakan berikut:

  • Pemberian cairan rehidrasi oral (CRO) hipotonik
  • Rehidrasi cepat selama 3-4 jam
  • ASI tetap diberikan
  • Asupan makanan sehari-hari tidak boleh terlewatkan
  • Tidak dianjurkan memberikan susu formula encer
  • Ganti pemberian susu formula khusus sesuai kondisi anak
  • Pemberian antibiotik hanya dilakukan berdasarkan indikasi tertentu

Jika diare pada anak dengan intoleransi laktosa tidak kunjung sembuh dalam waktu 3 hari, segera periksakan ke dokter. Terlebih bila anak sampai mengalami demam, BAB sangat cair dan bercampur darah, serta muntah berulang kali.

Kapan susu formula khusus bisa diberikan pada anak?

cara memilih susu

Pemberian ASI tidak boleh terlewatkan selama anak mengalami intoleransi laktosa dan diare. Ini karena ASI mengandung zat kekebalan yang penting untuk membantu proses penyembuhan diare.

Namun jika anak sudah tidak mendapatkan ASI, IDAI menganjurkan pertimbangan penggantian susu formula selama mengalami diare akut (kurang dari 7 hari) sebagai berikut:

  1. Diare tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan atau sedang: pemberian susu formula normal tetap dilanjutkan.
  2. Diare tanpa dehidrasi atau dehidrasi ringan dan sedang dengan gejala klinis intoleransi laktosa yang berat (selain diare), dapat diberikan susu formula bebas laktosa.
  3. Diare dengan dehidrasi berat bisa diberikan susu formula bebas laktosa.

Penting untuk diperhatikan. Sebaiknya hindari memberikan susu formula untuk alergi pada anak yang mengalami diare akut, padahal anak tidak menunjukkan gejala alergi yang jelas. Sebab intoleransi laktosa dan alergi makanan merupakan dua kondisi berbeda dengan penanganan yang berbeda pula.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca