Gejala Hiperakusis Pada Anak, Kondisi Langka Saat Si Kecil Terlalu Peka Dengan Suara

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 01/03/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Suara kipas angin, obrolan teman, hingga denting jam mungkin terdengar biasa dan dapat ditolerir oleh telinga Anda. Namun, anak dengan telinga sangat sensitif mungkin mengganggap bunyi tersebut sangat mengganggu. Kondisi ini dikenal dengan istilah medis hiperakusis. Penasaran bagaimana gejala hiperakusis pada anak? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Gejala hiperkusis pada anak yang perlu Anda perhatikan

Hiperakusis adalah kondisi langka yang terjadi karena telinga sangat peka terhadap suara. Biasanya, hiperakusis terjadi akibat cedera kepala atau terkena suara keras. Namun, beberapa dengan kondisi juga dikaitkan dengan kondisi tersebut, seperti sindrom Williams, tinitus (telinga berdenging), dan penyakit Meniere.

Kondisi telinga super sensitif ini dapat menyerang segala usia. Hanya saja lebih umum terjadi pada anak-anak. Sayangnya, hiperakusis pada anak cukup sulit untuk didiagnosis. Sebab gejala tidak hanya ditunjukkan secara fisik, tapi juga perilaku.

Masalah pendengaran ini dapat menggangu aktivitas sehari-sehari anak. Jika dibiarkan, tidak menutup kemungkinan kualitas hidupnya di masa depan akan memburuk.  Supaya lebih mudah diwaspadai, perhatikan beberapa gejala hiperkusis pada anak, seperti:

Gejala fisik

Bagi orang dengan pendengaran yang normal, bunyi mesin cuci, mesin vakum, atau tawa anak-anak tidak akan mengganggu. Responsnya akan berbeda pada anak yang peka dengan suara. Mungkin mereka akan menunjukkan gejala hiperakusis secara fisik seperti:

  • Hiperakusis dapat menimbulkan ketidaknyaman bahkan rasa sakit. Ini membuat anak-anak mungkin sering mengeluh kesakitan di area kuping atau terlihat terus-menerus memegangi telinga.
  • Rasa tidak nyaman yang ditimbulkan membuat anak menutupi tangannya di telinga atau menjauh dari sumber suara.
  • Anak terlihat kaget saat mendengar suara tersebut pertama kalinya

Gejala perilaku

Jika hiperakusis terjadi pada bayi, tentu ia tidak bisa pergi menjauhi sumber suara yang mengganggu atau mengeluh. Begitu pun anak-anak yang belum bisa berkomunikasi dengan baik sehingga membuat Anda sulit menangkap maksud perkataannya. Pada situasi ini si kecil, gejala hiperakusis pada anak akan merubah perilakunya, seperti:

  • Tiba-tiba berteriak, menangis, atau tantrum
  • Merasa ketakutan, cemas, dan depresi
  • Tiba-tiba tepuk tangan, berlari, dan bersembunyi
  • Menolak untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti berangkat ke sekolah karena tidak merasa tenang di kelas atau datang ke pesta yang ramai dengan kembang api atau suara obrolan yang mengganggu

Bagaimana merawat hiperakusis pada anak?

Kondisi yang mengganggu aktivitas anak ini bisa diatasi dengan menjalani perawatan dokter. Perawatan ini meliputi terapi konseling untuk mengurangi kepekaan telinga anak. Terapi ini berjalan selama tiga bulan sampai dua tahun. Anak akan diberi generator suara yang harus dipakai setiap hari. Alat ini akan memainkan suara lembut dan juga kebisingan. Ini akan mengurangi gejala hiperakusis yang terjadi pada anak.

Selain itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua dalam merawat si kecil yang memiliki hiperakusis. Beri tahu kondisi anak pada pihak sekolah dan orang-orang di sekitar anak.

Hindari kebiasaan anak untuk menutup telinga dengan tangan, bantal, atau benda apa pun saat gejalanya muncul. Menutup telinga akan meningkatkan sensitivitas telinganya sehingga dapat memperparah gejala hiperakusis pada anak. Cara terbaiknya adalah memindahkan anak untuk menjauhi sumber suara dan menenangkannya. Latih anak untuk terbiasa mendengarkan benda atau peralatan di sekitarnya yang mengeluarkan suara lewat permainan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Selulitis Terjadi pada Anak dan Cara Mencegahnya?

Infeksi di kulit sering terjadi pada anak. Salah satunya adalah selulitis. Apa itu selulitis dan bagaimana mencegahnya terjadi pada anak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Anak, Parenting 18/04/2020 . Waktu baca 4 menit

3 Pertanda Ketika Sistem Imun Anak Menurun

Apabila anak mulai sering atau mudah jatuh sakit, berarti sesuatu terjadi pada sistem imunnya. Yuk, kenali apa saja tanda saat sistem imun anak menurun.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Kesehatan Anak, Parenting 16/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Curiga Terjadi Gangguan Makan pada Anak? Lakukan 6 Langkah Ini

Bila terjadi perubahan drastis pada pola makan anak, patut dicurigai ada gangguan makan pada anak. Apa yang harus orangtua lakukan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Anak, Parenting 13/04/2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal Marasmus, Masalah Gizi Penyebab Kematian Anak

WHO mencatat marasmus adalah penyebab kematian pada 500 ribu anak di negara berkembang. Apa itu marasmus dan apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Parenting, Nutrisi Anak 01/04/2020 . Waktu baca 14 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit
memilih hewan untuk anak

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020 . Waktu baca 6 menit
Ibu memakaikan masker agar imunisasi saat pandemi corona aman

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020 . Waktu baca 6 menit
encephalocele adalah ensefalokel

Encephalocele

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 28/04/2020 . Waktu baca 8 menit