Gejala Hiperakusis Pada Anak, Kondisi Langka Saat Si Kecil Terlalu Peka Dengan Suara

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Suara kipas angin, obrolan teman, hingga denting jam mungkin terdengar biasa dan dapat ditolerir oleh telinga Anda. Namun, anak dengan telinga sangat sensitif mungkin mengganggap bunyi tersebut sangat mengganggu. Kondisi ini dikenal dengan istilah medis hiperakusis. Penasaran bagaimana gejala hiperakusis pada anak? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Gejala hiperkusis pada anak yang perlu Anda perhatikan

Hiperakusis adalah kondisi langka yang terjadi karena telinga sangat peka terhadap suara. Biasanya, hiperakusis terjadi akibat cedera kepala atau terkena suara keras. Namun, beberapa dengan kondisi juga dikaitkan dengan kondisi tersebut, seperti sindrom Williams, tinitus (telinga berdenging), dan penyakit Meniere.

Kondisi telinga super sensitif ini dapat menyerang segala usia. Hanya saja lebih umum terjadi pada anak-anak. Sayangnya, hiperakusis pada anak cukup sulit untuk didiagnosis. Sebab gejala tidak hanya ditunjukkan secara fisik, tapi juga perilaku.

Masalah pendengaran ini dapat menggangu aktivitas sehari-sehari anak. Jika dibiarkan, tidak menutup kemungkinan kualitas hidupnya di masa depan akan memburuk.  Supaya lebih mudah diwaspadai, perhatikan beberapa gejala hiperkusis pada anak, seperti:

Gejala fisik

Bagi orang dengan pendengaran yang normal, bunyi mesin cuci, mesin vakum, atau tawa anak-anak tidak akan mengganggu. Responsnya akan berbeda pada anak yang peka dengan suara. Mungkin mereka akan menunjukkan gejala hiperakusis secara fisik seperti:

  • Hiperakusis dapat menimbulkan ketidaknyaman bahkan rasa sakit. Ini membuat anak-anak mungkin sering mengeluh kesakitan di area kuping atau terlihat terus-menerus memegangi telinga.
  • Rasa tidak nyaman yang ditimbulkan membuat anak menutupi tangannya di telinga atau menjauh dari sumber suara.
  • Anak terlihat kaget saat mendengar suara tersebut pertama kalinya

Gejala perilaku

Jika hiperakusis terjadi pada bayi, tentu ia tidak bisa pergi menjauhi sumber suara yang mengganggu atau mengeluh. Begitu pun anak-anak yang belum bisa berkomunikasi dengan baik sehingga membuat Anda sulit menangkap maksud perkataannya. Pada situasi ini si kecil, gejala hiperakusis pada anak akan merubah perilakunya, seperti:

  • Tiba-tiba berteriak, menangis, atau tantrum
  • Merasa ketakutan, cemas, dan depresi
  • Tiba-tiba tepuk tangan, berlari, dan bersembunyi
  • Menolak untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti berangkat ke sekolah karena tidak merasa tenang di kelas atau datang ke pesta yang ramai dengan kembang api atau suara obrolan yang mengganggu

Bagaimana merawat hiperakusis pada anak?

Kondisi yang mengganggu aktivitas anak ini bisa diatasi dengan menjalani perawatan dokter. Perawatan ini meliputi terapi konseling untuk mengurangi kepekaan telinga anak. Terapi ini berjalan selama tiga bulan sampai dua tahun. Anak akan diberi generator suara yang harus dipakai setiap hari. Alat ini akan memainkan suara lembut dan juga kebisingan. Ini akan mengurangi gejala hiperakusis yang terjadi pada anak.

Selain itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua dalam merawat si kecil yang memiliki hiperakusis. Beri tahu kondisi anak pada pihak sekolah dan orang-orang di sekitar anak.

Hindari kebiasaan anak untuk menutup telinga dengan tangan, bantal, atau benda apa pun saat gejalanya muncul. Menutup telinga akan meningkatkan sensitivitas telinganya sehingga dapat memperparah gejala hiperakusis pada anak. Cara terbaiknya adalah memindahkan anak untuk menjauhi sumber suara dan menenangkannya. Latih anak untuk terbiasa mendengarkan benda atau peralatan di sekitarnya yang mengeluarkan suara lewat permainan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 1, 2019 | Terakhir Diedit: Februari 24, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca