Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apakah Main Video Games Tingkatkan Risiko ADHD pada Anak?

Apakah Main Video Games Tingkatkan Risiko ADHD pada Anak?

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah suatu gangguan perilaku anak yang paling umum. Gangguan ini umumnya ditandai dengan gejala anak sulit fokus, berperilaku impulsif (tidak berpikir panjang sebelum bertindak), serta bersikap hiperaktif.

Sejauh ini, para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab ADHD. Namun, ada yang bilang bila terlalu sering main video game bisa jadi pencetus ADHD pada anak. Benarkah demikian? Adakah dampak main video game dan kaitannya dengan ADHD?

Kaitan dampak main video game dan penyebab ADHD

Natalie Weder, MD, seorang psikiater anak dan remaja di Child Mind Institute menerangkan, sampai saat ini belum ada bukti bahwa main video game bisa menyebabkan ADHD pada anak.

Namun, beberapa penelitian menemukan fakta bahwa main video game secara berlebihan bisa meningkatkan risiko gejala ADHD pada anak pada tahun-tahun ke depan.

Salah satunya adalah studi yang dilakukan selama 3 tahun terhadap sekitar 3.000 anak dan remaja dari Singapura.

Studi tersebut mengungkapkan, anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk main video game lebih berperilaku impulsif serta memiliki lebih banyak masalah perhatian (fokus).

Hal serupa juga diperkuat oleh penelitian dalam Journal of American Medical Association (JAMA).

Berdasarkan penelitian tersebut, anak-anak yang menggunakan gadget secara berlebihan punya risiko dua kali lebih besar mengalami ADHD pada kemudian hari.

Khususnya pada anak yang hobi bermain game, entah itu game konsol, game di komputer, maupun game online yang ada di handphone.

anak punya media sosial

Anak jadi hiperfokus

Lalu, mengapa main video game bisa meningkatkan risiko gejala ADHD pada anak?

Saat bermain video game, anak akan fokus pada layar gadget dan harus merespon dengan cepat apa yang terjadi di dalam permainan agar tidak kalah.

Hal ini membuat anak tidak ada waktu untuk memikirkan atau terganggu hal lainnya.

Akibat hal tersebut, anak menjadi hiperfokus pada video game serta kurang fokus dan perhatian pada apa yang terjadi di luar.

Adapun hiperfokus merupakan salah satu gejala ADHD pada beberapa orang.

Ia menjadi begitu terpaku pada video game, sehingga tidak menyadari jika ada seseorang yang memanggil atau meneriakkan namanya.

Selain itu, dampak anak keseringan main video game terhadap gejala ADHD juga muncul karena anak kurang melakukan aktivitas sosial.

Jika anak Anda bermain video game terlalu lama, ia tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersosialisasi dengan teman dan keluarga serta aktivitas nonlayar lainnya,

Hal ini membuat anak mengalami kesulitan untuk bergaul dengan orang lain pada kemudian hari.

Adapun masalah keterampilan sosial ini juga merupakan salah satu gejala ADHD yang umum pada anak.

Video game juga bisa memperparah ADHD

Dampak dari main video game tidak hanya terjadi pada anak tanpa ADHD.

Anak yang sudah memiliki ADHD pun bisa semakin parah bila frekuensi bermain video game-nya tidak terkontrol.

Apalagi, anak dengan ADHD lebih mungkin mengalami kecanduan video game dibandingkan anak tanpa ADHD.

Pasalnya, video game melibatkan berbagai efek khusus, seperti musik, pencahayaan, dan visual yang tampak menarik bagi anak penderita ADHD.

Selain itu, video game kerap memberikan reward atau hadiah saat anak memenangkan permainannya.

Ini membuat anak semakin senang dan tertarik untuk terus bermain video game.

Itu sebabnya, anak dengan ADHD cenderung lebih fokus saat bermain video game daripada saat belajar di kelas.

Adapun bila kecanduan sudah terjadi, anak dengan ADHD akan semakin sulit untuk fokus pada hal lain di luar video game.

Tak hanya itu, saat anak dengan ADHD kalah dalam game, ia cenderung melampiaskannya melalui tindakan impulsif.

Pasalnya, anak dengan ADHD sudah memiliki masalah terhadap kontrol emosi dan perilaku.

Dampak positif video game dan anak ADHD

bermain game dengan pasangan

Meski sering terdengar negatif, ada dampak positif dari main video game yang bisa anak penderita ADHD peroleh.

Selain menimbulkan perasaan senang, video game dapat membantu melatih kemampuan visual, perkembangan kognitif (penalaran, memori, dan persepsi), kerja sama, dan pemecahan masalah.

Video game juga bisa meningkatkan kreativitas karena merupakan salah satu jenis permainan imajinasi untuk anak.

Tak hanya itu, kemampuan sosial anak juga bisa meningkat. Pasalnya, beberapa video game telah dapat dilakukan secara online untuk dimainkan bersama teman, keluarga, atau orang yang belum Anda kenal.

Bahkan, di Amerika Serikat, video game juga telah disetujui sebagai salah satu pengobatan untuk penderita ADHD pada anak.

Ini karena terapi dengan main video game telah terbukti memberi dampak positif bagi penderita ADHD, seperti meningkatkan fokus dan perhatian.

Oleh karena itu, membiarkan anak bermain video game sebenarnya sah-sah saja. Namun, tentu saja, melakukan apa pun secara berlebihan bisa membawa dampak buruk yang tidak Anda harapkan.

Sebagai solusinya, batasi waktu anak main video game. Jangan ragu untuk mengatakan, “Kamu boleh main, tapi satu jam saja, ya!”

Awalnya mungkin cukup sulit untuk menerapkan hal ini. Bahkan, tak jarang anak malah akan tampak tidak terima dengan peraturan yang Anda berikan.

Jika ini terjadi, coba berikan pengertian pada anak atau ajak ia berdiskusi dan membuat keputusan bersama.

Paling tidak, berikan jeda waktu di sela-sela kesibukannya bermain video game dan jangan biarkan kebiasaan ini berlanjut terus setiap hari tanpa henti.

Verifying...


Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

6 Benefits of Video Games for Kids | Understood – For learning and thinking differences. Understood.org. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://www.understood.org/articles/en/4-surprising-benefits-of-video-games

Do Video Games Cause ADHD? – Child Mind Institute. Child Mind Institute. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://childmind.org/article/do-video-games-cause-adhd/

FDA Approves Video Game Based on UCSF Brain Research as ADHD Therapy for Kids. UCSF. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://www.ucsf.edu/news/2020/06/417841/fda-approves-video-game-based-ucsf-brain-research-adhd-therapy-kids

The Benefits of Playing Video Games. Apa.org. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://www.apa.org/pubs/journals/releases/amp-a0034857.pdf

Video game play may provide learning, health, social benefits, review finds. https://www.apa.org. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://www.apa.org/monitor/2014/02/video-game

Video game playing can compound kids’ existing attention problems says ISU study – News Service – Iowa State University. Archive.news.iastate.edu. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://archive.news.iastate.edu/news/2012/feb/VGattention

What Is ADHD | Understood – For learning and thinking differences. Understood.org. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://www.understood.org/articles/en/what-is-adhd?_ul=1*3ujowj*domain_userid*YW1wLXF3OThLeTV3SjlNN0xfUHRFRGN4dmc

What is ADHD?. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://www.cdc.gov/ncbddd/adhd/facts.html

What Is ADHD?. Psychiatry.org. (2021). Retrieved 2 November 2021, from https://www.psychiatry.org/patients-families/adhd/what-is-adhd

Ra, C. K., Cho, J., Stone, M. D., et al. (2018). Association of Digital Media Use With Subsequent Symptoms of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder Among Adolescents. Journal of American Medical Association. 320(3):255–263. https://doi.org/10.1001/jama.2018.8931

Gentile, D. A., Swing, E. L., Lim, C. G., & Khoo, A. (2012).  Video game playing, attention problems, and impulsiveness: Evidence of bi-directional causality.  Psychology of Popular Media Culture. 1: 62-70. https://drdouglas.org/gslk2012tx.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui Nov 12, 2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto