Saat anak terdiagnosis attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), mungkin orangtua akan khawatir dengan cara mendidik si Kecil. Lalu, bagaimana cara mendidik anak ADHD tanpa meluapkan emosi yang meledak-ledak? Sebagai panduan, berikut cara mendidik anak ADHD yang umumnya juga hiperaktif.
Cara mendidik anak ADHD
Anak dengan ADHD umumnya mengalami masalah dalam mengendalikan perilaku, terlalu aktif, dan impulsif. Namun, perlu orangtua pahami bahwa ADHD dan hiperaktif merupakan dua kondisi berbeda.
Mengutip Providence Health & Services Oregon, ADHD mengganggu kemampuan sosial anak, sedangkan hiperaktif ditandai dengan bicara berlebihan, gelisah, dan sulit fokus dalam aktivitas yang membutuhkan ketenangan.
Orangtua disarankan berkonsultasi kepada dokter jika muncul gejala ADHD pada anak, karena cara menghadapi anak hiperaktif dan ADHD berbeda. Berikut cara menghadapi anak ADHD.
1. Membuat rutinitas yang disiplin
Mengutip dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), orangtua bisa membuat jadwal rutinitas setiap harinya.
Jadwal tersebut bisa dimulai dari waktu bangun tidur, sarapan, bermain, tidur siang, sampai istirahat di malam hari.
Ini bisa menjadi cara menangani anak ADHD karena mereka sangat membutuhkan aturan yang jelas dan pola terstruktur yang perlu ia ikuti.
Rutinitas yang tersusun dan terjadwal dengan disiplin akan membantu anak lebih tenang saat melakukan sesuatu.
2. Jauhkan anak dari sesuatu yang mengganggu
Anak ADHD sangat mudah terdistraksi dengan sesuatu sehingga orangtua perlu menjauhkan si Kecil dari segala sesuatu yang mengganggu saat sedang belajar.
Ibu dan ayah perlu melihat kebiasaan dan kondisi yang membuat anak tenang. Ada anak ADHD yang bisa konsentrasi dengan mendengarkan musik.
Namun, ada juga yang bisa konsentrasi dengan suasana tenang tanpa suara sedikit pun.
Salah satu cara penanganan anak ADHD adalah dengan menyesuaikan kondisi yang membuatnya tenang agar mudah konsentrasi.
3. Memberi hadiah secara perlahan-lahan
Untuk memudahkan dalam membuat jadwal, orangtua bisa menuliskan aturan dan konsekuensi secara verbal dan tertulis.
Ambil contoh, ayah dan ibu bisa menempel daftar tanggung jawab anak-anak dan aturan di dalam rumah.
Orangtua boleh memberikan rewards alias hadiah kepada anak. Akan tetapi, hindari memberi iming-iming hadiah untuk sesuatu yang masih lama terjadi.
Ambil contoh, “Ayah dan ibu akan belikan sepeda kalau kamu naik kelas tahun depan.” Sebab, anak-anak ADHD umumnya memiliki masalah untuk merencanakan waktu yang akan datang.
Oleh karena itu, tidak akan masuk akal kalau orangtua menjanjikan hadiah yang baru diberikan tahun depan. Sebaliknya, rewards yang orangtua berikan usahakan dalam waktu dekat.
Ambil contoh, boleh main game di luar jadwal yang sudah dibuat atau makan cokelat sebagai camilan sore hari.
4. Bersikap tegas, bukan marah
Cara mendidik anak ADHD adalah bersikap tegas, tetapi tidak dengan amarah.
Ayah dan ibu juga perlu menjelaskan tentang konsekuensi secara jelas. Setelah itu, terapkan konsekuensi yang sudah Anda buat secara perlahan-lahan tetapi tetap tegas.
Tidak jarang orangtua merasa kesal dan lelah menghadapi anaknya. Namun, orangtua perlu mengendalikan emosi kepada anak.
Akan agak sulit kalau orangtua dari anak-anak tersebut juga mengidap ADHD, karena penyakit ini bisa menurun dari keluarga.
Orangtua yang juga mengidap ADHD bisa saja menghardik marah-marah akibat mereka sendiri juga punya masalah dengan tindakan impulsif mereka.
Pada kasus ini, orangtua sebaiknya mengontrol ADHD yang dimiliki terlebih dahulu, lalu berusaha menjadi contoh yang baik bagi anak.
5. Bantu anak menemukan bakatnya
Dianggap berbeda dari yang lain, tak jarang masyarakat mungkin mengucilkan anak-anak pengidap ADHD.
Hal ini bisa memengaruhi anak sehingga merasa tidak bisa melakukan sesuatu sampai akhirnya mengalami depresi.
Bahkan, perasaan tersebut mungkin sudah mulai muncul pada anak ADHD sejak berusia 8 tahun. Tugas orangtua di sini perlu mendidik anak ADHD agar menemukan minat dan bakatnya.
Sebab, anak-anak mungkin merasa tidak ada yang bisa ia kerjakan dan tidak berharga. Orangtua berperan penting untuk membangkitkan kembali semangat anak.
Biasanya, bila anak-anak ADHD menaruh minat dalam satu hal, ia bisa menguasai bidang tersebut dengan kemampuan 5 tahun di atas umurnya.
Oleh karena itu, ibu dan ayah bisa bilang ke anak kalau ia mungkin tidak bisa menulis cerita panjang. Namun, ia sangat bersemangat dalam menggambar.
6. Melakukan terapi dengan ahli
Bila ibu dan ayah mengalami kesulitan dalam mendidik anak dengan kondisi ADHD, coba lakukan terapi bersama ahli atau psikolog anak.
National Health Service UK merekomendasikan terapi perilaku untuk anak dengan kondisi ADHD.
Selama terapi tersebut, kegiatan anak akan mengandung tiga elemen.
- Membuat target sederhana, misalnya bermain dengan teman atau duduk saat belajar selama satu jam.
- Membuat rewards dan konsekuensi.
- Konsisten dalam menjalankan terapi.
Sangat penting untuk menerapkan tiga elemen terapi tersebut sampai anak dapat melakukan sendiri hal-hal yang sudah diajarkan.
Menghadapi anak dengan ADHD memang tidak mudah dan perlu mencoba berbagai cara. Orangtua perlu sabar dan meredam emosi saat bersama si Kecil.
Amarah orangtua justru membuat kondisi akan semakin bising dan memusingkan.
Jika orangtua ingin marah, sebaiknya tidak di depan anak. Namun, Anda bisa meluapkan sendiri agar tidak menjadi tekanan dalam diri.
Kesimpulan
- Mendidik anak dengan ADHD membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan yang tepat.
- Orangtua dapat membantu anak dengan menerapkan rutinitas yang disiplin, menciptakan lingkungan yang minim gangguan, memberikan hadiah secara bertahap, serta bersikap tegas tanpa marah.
- Selain itu, penting bagi orangtua untuk mendukung anak menemukan bakatnya agar ia merasa lebih percaya diri.
- Jika menghadapi kesulitan, terapi dengan ahli dapat menjadi solusi efektif.