backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

5 Bahaya Kipas Angin untuk Bayi, Apakah Lebih Aman Pakai AC?

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Nabila Azmi · Tanggal diperbarui 06/11/2023

5 Bahaya Kipas Angin untuk Bayi, Apakah Lebih Aman Pakai AC?

Ketika cuaca panas datang, banyak orang mencari cara untuk mendinginkan diri agar tetap nyaman. Salah satu alat yang paling umum digunakan adalah kipas angin. Namun, tidak sedikit orangtua yang bertanya-tanya, apakah kipas angin bahaya untuk bayi? Untuk tahu jawabannya, simak informasi lengkapnya di bawah ini.

Apakah kipas angin bahaya untuk bayi?

Faktanya, kipas angin adalah salah satu pilihan yang relatif aman untuk mendinginkan bayi saat cuaca panas.

Kipas angin dapat mendukung sirkulasi udara dan mendinginkan ruangan tanpa membuat ruangan kering.

Melansir Sleep Advisor, kipas angin juga bisa membuat ruangan tetap sejuk, tetapi tidak membuatnya sedingin pakai AC.

Walau begitu, kipas angin tidak selamanya aman. Ada beragam bahaya atau risiko penggunaan kipas angin untuk bayi jika digunakan secara tidak tepat.

Misalnya jika bayi terpapar kipas angin terus menerus, dengan angin yang terlalu kuat, atau jaraknya yang terlalu dekat.

Jadi, pastikan Anda mengenali apa saja bahayanya dan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut agar bayi bisa tidur nyenyak dengan aman. 

Apa saja bahaya kipas angin untuk bayi?

bayi tidak mau menyusu

Kipas angin mungkin terlihat seperti solusi yang mudah untuk menjaga bayi tetap nyaman saat musim panas.

Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat kipas angin menjadi bahaya untuk bayi. Apa saja? Berikut beberapa risikonya.

1. Dehidrasi

Salah satu bahaya dari kipas angin untuk bayi adalah menyebabkan dehidrasi. Pasalnya, angin yang terus menerpa bayi bisa meningkatkan penguapan cairan dari kulit bayi. 

Dehidrasi pada anak terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan. Sementara itu, kondisi ini bisa terjadi lebih cepat karena bayi memiliki berat badan yang rendah.

Ketika bayi terpapar angin kipas yang terlalu kuat, penguapan cairan dari kulitnya dapat meningkat. Akibatnya, tubuh bayi kehilangan cairan lebih cepat daripada seharusnya. 

Itu sebabnya, penting bagi para orangtua untuk memastikan bayi tetap terhidrasi dengan baik, terutama saat cuaca panas dan menggunakan kipas angin.  

2. Masalah pernapasan

Bahaya lain dari penggunaan kipas angin untuk bayi adalah risiko masalah pernapasan. Bagaimana penjelasannya?

Begini, aliran udara yang terlalu kuat atau terlalu dekat dengan bayi bisa mengeringkan saluran pernapasan. 

Udara kering bisa menyebabkan lendir berlebih pada hidung dan tenggorokan bayi. Akibatnya, risiko masalah pernapasan, seperti hidung tersumbat, batuk, dan sulit bernapas, bisa terjadi. 

Selain itu, kipas angin bisa menyebarkan debu dan alergen di udara. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu reaksi alergi pada bayi, seperti pilek, mata berair, dan bersin. 

3. Kulit kering

Kipas angin juga bisa menyebabkan mulut dan kulit bayi menjadi kering. Pasalnya, paparan angin yang terus-menerus bisa menghilangkan kelembapan dari kulit dan membran mukosa. 

Kulit bayi pun tergolong lembut dan sensitif, sehingga bisa menjadi kering dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Bayi mungkin merasa gatal hingga iritasi yang tentu bisa mengganggu kualitas tidurnya. 

Hal yang sama juga berlaku untuk mulut bayi. Ini karena aliran udara dari kipas angin dapat mengeringkan lendir di dalam mulut sehingga mulut menjadi kering. 

Mencegah kulit kering saat pakai kipas angin

Untuk mencegah masalah ini, Anda bisa menjaga kelembapan ruangan menggunakan humidifier. Jangan lupa pastikan bayi tetap terhidrasi dengan baik dan gunakan losion atau krim khusus bayi untuk menjaga kelembapan kulit anak

4. Masalah sinus

Orangtua juga perlu waspada terhadap bahaya kipas angin untuk bayi yang sudah memiliki masalah sinus.

Sebab, udara dari kipas angin bisa mengiritasi sinus serta mengeringkan hidung, mulut, dan tenggorokan bayi. 

Akibatnya, tubuh bayi mungkin akan memproduksi lendir secara berlebihan sebagai respons terhadap iritasi.

Ini bisa menyebabkan hidung tersumbat dan sakit kepala pada bayi yang tentu saja membuat si Kecil merasa tidak nyaman saat tidur. 

Jika bayi sudah memiliki alergi sebelumnya, penggunaan kipas angin bisa memperparah gejala. Maka dari itu, usahakan untuk memperhatikan reaksi bayi terhadap penggunaan kipas angin.

5. Gangguan pada otot

Kipas angin juga dapat memiliki potensi bahaya bagi bayi dengan membuat tubuh mereka pegal-pegal atau mengalami masalah otot. 

Tubuh bayi yang terpapar angin terlalu sering dari kipas, terutama ketika diarahkan dekat dengan mereka, bisa memicu otot tegang dan kram.

Ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman dan nyeri otot yang mungkin membuat bayi terbangun selama tidur. 

Untungnya, ada cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah hal ini. Penting untuk menjaga jarak yang cukup antara kipas angin dan bayi sehingga angin tidak langsung berhembus ke anak. 

Dengan begitu, Anda bisa mengurangi risiko bayi merasa pegal atau masalah otot selama tidur. Jangan lupa pastikan bayi tidur dengan nyaman dan aman dalam lingkungan yang sesuai. 

Lebih bahaya kipas angin atau AC untuk bayi?

suhu ac untuk bayi

Sebenarnya, baik kipas angin maupun AC, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Bayi yang tidur dengan kipas angin mungkin akan merasa lebih sejuk. Namun, hal ini tidak boleh dilakukan sering-sering karena bahaya kipas angin untuk bayi yang sudah dijelaskan di atas. 

Sementara itu, penggunaan AC saat bayi tidur memang bisa memberikan suhu yang stabil, terutama saat cuaca panas. Sayangnya, orangtua perlu memperhatikan kelembapan dan sirkulasi udara dalam ruangan. 

Ada baiknya untuk menjaga suhu AC di ruangan bayi antara 26—28° Celcius dan memberikan kelembapan di dalam kamar untuk mencegah kulit kering. Pastikan pula bayi tidak terkena langsung aliran udara AC. 

Oleh sebab itu, mana alat yang tepat tergantung pada kondisi spesifik dan kenyamanan bayi sembari memperhatikan faktor-faktor di atas. 

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Nabila Azmi · Tanggal diperbarui 06/11/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan