Menghadapi Berbagai Tantangan Autisme Pada Anak Perempuan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Gangguan spektrum autisme lebih banyak didiagnosis pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Autism Research, menunjukkan bahwa anak perempuan dengan autisme sebenarnya punya lebih banyak hal yang harus diperhatikan. Sayangnya, kebanyakan tenaga ahli terlalu memfokuskan penanganan autisme pada anak laki-laki. Akibatnya, orangtua mungkin masih kesulitan menghadapi autisme pada anak perempuan.

Autisme pada anak perempuan memang berbeda dengan autisme pada anak laki-laki

Ketika tumbuh besar, seorang anak perempuan dengan autisme tentu akan menemui tantangan yang jauh berbeda dari anak laki-laki dengan autisme. Misalnya, anak perempuan dengan autisme yang tidak mau melakukan kontak mata dengan orang lain sering dicap “sombong” sedangkan anak laki-laki dengan autisme yang tidak melakukan kontak mata biasanya dimaklumi sebagai anak yang pemalu.

Tantangan lain dari autisme pada anak perempuan yaitu ketika memasuki usia puber. Tentu ada banyak sekali perubahan yang akan dialaminya. Padahal, anak dengan autisme tidak menyukai perubahan.

Belum lagi biasanya dalam pergaulan anak perempuan, anak lebih dituntut untuk membaur dengan teman-temannya. Misalnya menyukai film atau selebriti yang sama, punya hobi yang sama, dan mendengarkan musik yang sama dengan teman-teman satu “geng”. Padahal, anak perempuan dengan autisme biasanya sudah punya hobi atau minat sendiri yang bisa jadi berbeda dengan teman-temannya.  

Karena itu, berhubung gejala autisme pada anak bisa dilihat dan diketahui sejak kecil, sebaiknya Anda mulai menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan autisme pada anak perempuan sedini mungkin.

kesehatan anak orangtua

Mengajari anak autisme perempuan mengenal tubuh dan dirinya sendiri

Mengenal topik menstruasi pada anak autisme perempuan bisa menjadi tugas yang cukup berat. Mungkin para orangtua khawatir tentang bagaimana anak perempuan mereka akan bereaksi terhadap kejadian tersebut. Bagaimana Anda akan mengajarkan kebersihan seputar menstruasi? Akankah mentsruasi dan perubahan tubuh seperti tumbuhnya buah dada dan rambut pubis dapat dipahami dan diterima?

Karena itu, Anda harus memberikan penjelasan yang bisa diterima oleh anak. Ketika anak perempuan Anda bertanya-tanya mengapa ia mengalami perdarahan, tumbuh bulu halus, atau payudaranya membesar, jangan hanya berkata bahwa itu tandanya ia sudah dewasa. Seorang anak dengan autisme akan kesulitan menerima konsep yang abstrak seperti ini.

Jadi, lebih baik jelaskan apa itu puber. Bahwa di usia belasan tahun setiap orang akan melalui masa-masa perubahan tubuh. Perubahan tersebut ditujukan agar tubuhnya siap bereproduksi (memiliki keturunan dan menyusui) dan menjadi lebih kuat secara fisik.

mendidik anak perempuan

Buat daftar instruksi dengan gambar

Nah, di sinilah peran orang tua diperlukan. Berhubung kebanyakan anak dengan autisme adalah visual learner, Anda bisa membuat daftar gambar langkah-langkah yang dibutuhkan dan tempelkan di dinding kamar mandi.

Berikut contoh gambar/langkah-langkah yang harus dijelaskan:

  • Beritahu di mana tempat dan cara menyimpan pembalut
  • Ajarkan untuk menggantinya dengan selalu masuk ke kamar mandi, menutup (dan mengunci) pintu
  • Bagaimana menggunakan pembalut
  • Bagaimana merekatkan panty liner atau pembalut pada celana
  • Kapan dan bagaimana membuangnya

Daftar instruksi tidak cuma berlaku untuk memasang pembalut saja, lho. Anda bisa menggunakan instruksi serupa untuk mengingatkan anak bagaimana caranya pakai miniset atau bra ketika payudaranya mulai tumbuh.

Beri pujian ketika Anak berhasil melakukannya

Saat mengajarkan anak tentang menstruasi Anda harus tetap tenang, berikan perintah dengan jelas dan puji anak karena telah mengalami menstruasi proses menuju dewasa. Ajarkan pada anak apa yang harus ia lakukan tiap bulan yang akan membutuhkan waktu panjang.

Semua langkah ini harus dipecah dan diberikan bantuan pada tiap langkah, isyarat verbal dan fisik juga diperlukan untuk membantunya agar dapat memahami lebih baik.

perilaku anak cerminan orangtuanya

Mengajari anak perempuan dengan autisme untuk bersosialisasi

Dalam mengajarkan anak autisme perempuan bergaul, orangtua harus menunjukkan contoh nyata soal bagaimana caranya bersosialisasi dengan baik. Sering-seringlah bermain peran bersama anak, misalnya ketika berkenalan dengan murid baru di kelasnya.

Ingat, kuncinya adalah harus sering. Pasalnya, kebanyakan anak dengan autisme memang harus berkali-kali mengulang hal yang sama baru benar-benar mengerti apa yang harus dilakukan.

Sedangkan ketika mengajarkan empati, orangtua dapat menciptakan situasi di mana anak memberi respon yang sesuai. Guru atau orangtua juga harus mengajarkan kapan dan bagaimana menolong orang lain, buat anak diajarkan untuk memahami situasi lingkungan.

Coba latih komunikasi dengan mengajarkan anak memilih topik diskusi dengan memakai buku. Penggunaan buku dapat membangun komunikasi dan melatih anak untuk menghargai orang lain dengan bergantian membahas topik sosial ketika tertarik dengan lawan jenis, bergaul dengan teman sebaya, dan berkomunikasi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 15, 2017 | Terakhir Diedit: Oktober 13, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca