Apakah Bayi yang Baru Lahir Harus Dibedong?

Kalau mengikuti tradisi, katanya bayi yang baru lahir harus dibedong. Namun, makin ke sini, makin banyak ibu yang sudah melepaskan keyakinan tersebut. Sebenarnya, apakah bayi harus dibedong? Apakah membedong memang ada manfaatnya untuk pertumbuhan si kecil? Simak penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan seputar membedong bayi di bawah ini.

Apa tujuan bayi dibedong?

bayi harus dibedong

Sebenarnya, membedong bayi itu merupakan tradisi turun temurun yang sudah ada sejak zaman dulu. Tujuan dari membedong bayi sendiri pun bermacam-macam.

Beberapa orang meyakini bahwa apabila bayi dibedong, bayi akan merasa hangat. Dengan begitu, bayi tidak mudah sakit karena kedinginan. 

Ada pula yang percaya bahwa tujuan bayi dibedong itu untuk memperbaiki bentuk kaki bayi. Bayi yang kakinya sering dibungkus dengan kain diharapkan dapat tumbuh lurus dan tidak bengkok seiring dengan bertambahnya usia.

Berbagai persepsi dan tradisi seperti membedong bayi ini sudah mengakar dan tumbuh dengan kuat di dalam pikiran masyarakat, terutama di Indonesia. Tetapi, apakah benar bayi harus dibedong? Kalau tidak dibedong, apakah kaki bayi akan bengkok saat ia tumbuh besar?

Apakah bayi harus dibedong supaya merasa hangat?

Pertanyaan ini mungkin pernah atau selalu menghampiri pikiran setiap ibu yang baru memiliki anak. Ini karena tradisi membedong bayi sudah sedemikian kuatnya melekat, sampai terkadang kita lupa bahwa tidak semua tradisi itu benar. 

Secara ilmiah, membedong bayi tidak memiliki manfaat khusus selain hanya untuk menjaga kehangatan bayi. Perlu dicatat bahwa membedong bayi juga tidak wajib dilakukan

Anda bisa menjaga kehangatan tubuh sang bayi dengan cara lain, misalnya mengatur suhu ruangan supaya tidak terlalu dingin dan mengenakan pakaian dengan bahan yang nyaman untuk si kecil.

Benarkah harus membedong bayi agar kakinya tumbuh lurus?

Hal ini tidak benar, membedong tidak akan memberikan pengaruh apapun pada bentuk kaki bayi.

Saat bayi baru lahir, kaki bayi pasti berbentuk bengkok karena mengikuti posisi ketika masih berada di dalam kandungan. 

Secara alamiah, kaki bayi akan tumbuh lurus seiring dengan bertambahnya usia. Proses ini berlangsung secara bertahap hingga bayi kurang lebih berusia 3 tahun. 

Jadi, tanpa perlu dibedong atau diluruskan pun kaki bayi akan tetap tumbuh normal dan lurus sendiri pada waktunya.

Apabila Anda tetap ingin membedong bayi, hal tersebut sah-sah saja dilakukan. Namun, perlu diingat bahwa tujuan membedong bayi bukan untuk meluruskan kaki, melainkan hanya untuk menjaga kehangatan tubuh bayi. 

Apa ada bahaya atau risiko membedong bayi?

Setelah mengetahui apakah bayi harus dibedong atau tidak, Anda mungkin ingin tetap melakukan bedong pada si kecil supaya selalu merasa hangat dan nyaman. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membungkus tubuh bayi dengan kain.

Anda harus ingat bahwa tubuh bayi masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Jadi, jika membedong dilakukan dengan menarik kaki dan mengikatnya, hal tersebut justru dapat mengganggu tumbuh kembang bayi.

Kaki bayi yang ditarik dan diikat terlalu kencang malah bisa menghambat perkembangan sendi kaki. Lebih lanjut lagi, kemungkinan saraf-saraf yang ada di sekitar kaki bayi akan mengalami masalah.

Lalu, bagaimana tips membedong bayi yang aman?

tips membedong bayi

Jika Anda ingin membedong bayi, lakukan dengan cara membedong yang aman dan tidak berisiko. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan saat membedong bayi.

1. Pilih jenis kain yang tepat

Hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah pemilihan kain untuk membedong. Pastikan Anda memilih kain dengan bahan yang nyaman dan lembut untuk bayi. 

Selain tebal dan hangat, kain untuk membedong tidak boleh terbuat dari bahan yang kasar supaya kulit bayi terhindar dari iritasi.

2. Jangan ikat kain terlalu kencang

Satu lagi yang tidak kalah penting, yaitu hindari mengikat kain bedongan pada bayi terlalu kencang. Kaki dan tangan bayi tidak boleh ditarik atau diluruskan secara paksa ketika dibungkus dengan kain.

Anda juga harus memastikan bayi tetap bisa bergerak dengan nyaman dan leluasa selama dibedong.

3. Tak perlu membedong bayi seharian penuh

Anda tidak perlu terus menerus membedong bayi seharian. Bayi cukup dibedong seperlunya saja, misalnya saat udara dingin dan bayi sedang tertidur.

Dengan begitu, si kecil tetap bisa bergerak bebas dan tumbuh kembangnya tak terganggu.

Baca Juga:

dr. MN Ardi Santoso, M.Kes, Sp.A Spesialis Anak

Mas Nugroho Ardi Santoso, M.Kes, Sp.A atau lebih dikenal dengan dr. Ardi Santoso, Sp.A adalah seorang dokter spesialis anak yang berdomisili di Kota Solo. Ia mulai aktif di media sosial sejak dirinya masih menjalani pendidikan dokter spesialis anak di UNS Solo.

Media sosial pertamanya yang resmi dikenalkan ke publik adalah akun Twitter dengan nama @dr_ardi pada Agustus 2011. Ia menggunakan Twitter untuk memberikan ilmu, tips, atau hal lain seputar kesehatan anak. Melalui media sosial itu pula ia merespons segala pertanyaan dan konsultasi yang masuk dari followers-nya di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri.

Tidak hanya Twitter, dr. Ardi Santoso, Sp.A kini juga aktif mengelola akun Instagram @ardisantoso, Facebook Fanpage MN Ardi Santoso, dan Youtube Ardi Santoso. Ketiganya berisi beraneka ragam artikel tentang kesehatan anak. Dokter Ardi juga merupakan salah satu penulis buku Pediatweet: Kicauan @dokteranakkita (2013) yang terbit  di bawah bendera penerbit Tiga Serangkai.

Sejak 2012, dr. Ardi Santoso, Sp.A aktif berkarya di RS Kasih Ibu, Solo. Ia juga aktif menjadi pembicara di berbagai parenting class di Jakarta, Solo, dan beberapa kota lain di Indonesia. Pada tahun 2013 beliau mempunyai acara talkshow sendiri bersama rekannya yang seorang dokter spesialis kulit di Radio Ria FM Solo, yang bertajuk Kid and Mom: Healthy Kid and Beauty Mom. Di sela-sela kesibukannya berpraktik dan aktivitasnya di dunia maya, dr. Ardi Santoso juga pernah mendalami seputar ASI di Bangkok, Thailand dan alergi pada anak di NUH (National University Hospital), Singapura, pada 2013.

Filosofi dr. Ardi adalah menjadi dokter tidak harus selalu duduk di belakang meja tapi juga harus mempunyai peran aktif untuk mengedukasi masyarakat terutama terkait kesehatan anak. Ini merupakan tantangan yang cukup besar baginya mengingat mainstream masyarakat Indonesia yang selalu ingin instan dan ingin cepat sembuh. Padahal tidak semua bisa atau harus dengan obat, adakalanya edukasi mengalahkan obat. Sosial media adalah media yang paling efektif untuk bisa mengedukasi masyarakat, membina, dan berkomunikasi untuk pengasuhan anak yang lebih baik.

Selengkapnya
Artikel Terbaru