home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kapan Bayi Harus Berhenti Dibedong? Ini Pertimbangannya.

Kapan Bayi Harus Berhenti Dibedong? Ini Pertimbangannya.

Membedong bayi merupakan salah satu cara untuk menenangkan sekaligus menghangatkan bayi. Ini juga mengurangi refleks pada bayi, yaitu refleks moro (refleks kaget) karena selimut tersebut melindungi bayi dari sentuhan mendadak dan suara keras yang tiba-tiba terdengar. Walaupun manfaat membedong bayi sangat banyak, semua itu tidak berarti bahwa bayi akan terus aman. Sebab ada risiko yang mungkin terjadi jika bayi terus-menerus dibedong. Jadi, Anda harus tahu kapan waktunya bayi berhenti dibedong.

Risiko bayi dibedong

Dilansir dari Healthline, cara membedong bayi yang tidak benar akan meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS). Menurut Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat, kematian bayi mendadak disebabkan oleh cara membedong yang salah. Pertama, orangtua membedong terlalu kencang, bayi bisa tercekik dalam tidurnya. Kedua, karena bedongan terlalu longgar, kemungkinan kain akan terlepas dan menutupi hidung karena lengan bayi bisa bergerak bebas sehingga kain menutupi mulut dan hidung.

Risiko lain yang bisa terjadi adalah dysplasia, yaitu ketidaknormalan pertumbuhan jaringan atau organ karena kaki bayi harus diluruskan ketika dibedong, tulang rawan dan sendi bayi bisa rusak bila hal ini terjadi. Selain itu, bayi lebih rentan dengan ruam atau biang keringat karena cepat berkeringat akibat dibedong.

Kapan bayi berhenti dibedong?

Menurut American Academy of Pediatric dan dr. Kimberly Edwards, dokter anak dari Austin Regional Clinic, orangtua bisa berhenti membedong bayi ketika bayi memasuki usia dua atau tiga bulan. Sebab pada usia empat bulan bayi harus mengembangkan gerakannya untuk berguling. Pada usia ini, refleks moro juga sudah mulai berkurang dan bayi sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Namun, orangtua perlu melepaskan kain yang membedong secara bertahap supaya bayi tidak merasa kehilangan kehangatannya dan memberi waktunya beradaptasi. Pertama, orangtua bisa melepaskan sebagian bedong; membiarkan satu tangan bayi bebas dari bedongan. Kemudian, bila bayi sudah mulai terbiasa Anda bisa membiarkan bagian dada sampai kaki tetap terbedong. Perlahan, Anda bisa melepaskan bedongan secara keseluruhan.

Ternyata, bayi juga memberikan tanda-tanda agar bayi berhenti dibedong

Selain penentuan usia bayi yang disarankan, orangtua juga bisa memperhatikan beberapa tanda ketika bayi ingin bedongan dilepaskan. Berikut tanda-tandanya:

  • Bayi sering terbangun pada malam hari; seolah-olah mencari posisi nyaman untuk tidur.
  • Bila bedongan hanya dibatasi dari bagian dada hingga kaki, dan bayi sudah mulai bergerak-gerak untuk menggulingkan badannya.
  • Bedongan yang hanya membungkus bagian dada sampai kaki mungkin bisa terlepas sebab bayi terus bergerak.

Tanda-tanda berikut adalah transisi perkembangan pergerakan bayi untuk posisi berguling dan juga sebagai tanda bahwa orangtua harus berhenti membedongnya.

Bayi memang memiliki siklus tidur yang tidak teratur hingga usia enam bulan. Setelah Anda melepaskan bedongannya, mungkin di malam hari bayi akan sering terbangun. Untuk itu, Anda bisa menggantikan kehangatan dari bedongan dengan cara menjaga suhu kamar agar tetap hangat. Kemudian, ciptakan suara tidur yang tenang, agar bayi yang sensitif dengan suara tidak terbangun tiba-tiba. Anda juga bisa menggunakan empeng untuk membantu bayi menenangkan diri jika ia terbangun dari tidurnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

When Should I Stop Swaddling My Baby? https://www.healthline.com/health/parenting/when-to-stop-swaddling#3. Diakses pada 26 Januari 2018.

When to Stop Swaddling Your Baby. https://www.happiestbaby.com/blogs/blog/when-to-stop-swaddling-your-baby. Diakses pada 26 Januari 2018.

Transitioning Your Baby Out of a Swaddle. https://www.babysleepscience.com/single-post/2014/03/10/Transitioning-Your-Baby-Out-of-a-Swaddle. Diakses pada 26 Januari 2018.

3 Signs Your Baby Should Stop Swaddling. https://www.sleepingbaby.com/blogs/news/18517385-3-signs-your-baby-should-stop-swaddling. Diakses pada 26 Januari 2018.

 

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 12/02/2018
x