Bebaskan Si Kecil Berjalan “Nyeker” untuk Memperkuat Tulang Kakinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Melihat si kecil yang sibuk berlarian kesana kemari tanpa alas kaki sering membuat orangtua jadi ketar-ketir. Bagaimana tidak? Jalanan tidak sepenuhnya aman karena dipenuhi oleh “ranjau” kotoran, batu-batu tajam, hingga bahkan pecahan beling yang berisiko tinggi melukai anak. Padahal sih, anak-anak sebenarnya lebih dianjurkan dibiarkan bebas bergerak tanpa alas kaki sama sekali. Tanpa sandal atau sepatu yang lunak sekalipun.

Meski ditakuti, membiarkan anak berjalan tanpa alas kaki ternyata banyak manfaatnya. Berikut ini ulasannya.

Berjalan tanpa alas kaki membantu anak berjalan dengan mantap

Anak kecil cenderung untuk melangkah tegak dengan dagu dan kepala yang sedikit mendongak saat mereka berjalan tanpa alas kaki. “Karena telapak kaki mereka langsung menyentuh tanah, mereka jadi tidak perlu sering-sering menunduk ke bawah ketika berjalan, yang justru membuatnya meleng sehingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh,” ungkap Tracy Byrne, ahli kesehatan kaki (podiatri) dikutip dari Telegraph.

Anak-anak pada umumnya memiliki telapak kaki rata. Lanjut Byrne, berjalan tanpa alas kaki akan menguatkan otot dan ligamen kaki anak serta membentuk lengkung telapak kakinya. Mereka belajar berjalan dan menyeimbangkan diri dengan lebih baik saat mereka bisa menggunakan jari kaki mereka untuk mencengkeram tanah. Pada akhirnya, ini akan melatih anak mengembangkan postur tubuh dan cara berjalan yang lebih baik.

Anak belajar berjalan menerima informasi sensoris penting dari telapak kaki mereka. Telapak kaki memiliki titik saraf yang paling banyak dibandingkan anggota tubuh lain. Oleh sebab itu, berjalan tanpa alas kaki akan membantu mereka lebih cepat berjalan.

Berjalan nyeker membuat anak bergerak lebih gesit

Dengan berjalan nyeker anak juga terlatih untuk lebih mawas diri terhadap lingkungan di sekitarnya. Saat bertelanjang kaki, kita lebih sigap untuk memanjat, mengerem, berputar, menyeimbangkan, mudah mendeteksi benda tajam yang perlu mereka hindari, dan menyesuaikan diri dengan cepat ketika tanah bergeser di bawah kaki. Seperti halnya saat kita berjalan di medan yang tidak rata, atau di atas lahan apa pun selain beton dan trotoar. Alhasil, anak tumbuh menjadi lebih gesit dan lebih tahan banting terhadap cedera, misalnya tersandung.

Berjalan tanpa alas kaki menguatkan tulang kaki anak

Tulang kaki bayi teksturnya masih lembut dan tidak akan mengeras sepenuhnya sampai anak berusia sekitar 5 tahun, meski kaki anak-anak bisa terus tumbuh sampai mereka remaja. Nah, “mengurung” kaki yang lembut dengan sepatu kaku bisa mencegah tulang berkembang dengan baik.

“Tulang anak-anak sangat mudah dibentuk dan bisa berubah bentuk sangat cepat dan mudah,” kata Fred Beaumont dari Institute of Chiropodists and Podiatrists, dilansir dari Junior Magazine. Begitu itu terjadi, Anda tidak bisa membalikkannya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal podiatri The Foot pada tahun 2007 menunjukkan bahwa perubahan struktural dan fungsional kaki anak dapat muncul akibat kaki yang dipaksa menyesuaikan diri dengan bentuk dan ukuran sepatu yang tak memberi kaki kesempatan untuk tumbuh dengan alami. Dan semakin muda “usia” kakinya, semakin besar potensi kerusakan yang bisa berakhir permanen.

Anak yang pakai sepatu rentan alami lecet dan jamuran

Sepatu anak yang ketat akan menciptakan peluang timbulnya penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur karena udara yang lembab disertai kurangnya higenitas membangun lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab infeksi kulit seperti panu, kadas, dan kurap.

Ditambah lagi, sepatu anak yang ketat dan bersol keras seringnya bikin kaki anak lecet. Sayangnya, anak-anak yang baru belajar berjalan biasanya juga belum lancar berbicara. Jadi Anda mungkin tidak tahu mengapa anak itu menangis, padahal ternyata sepatunya terlalu ketat atau bikin lecet ketika ia berjalan. Sol sepatu yang keras dan kaku justru malah membuat anak kesulitan berjalan ketika ia baru mulai latihan karena kaki mereka terasa lebih berat, menyebabkan mereka gampang tersandung dan terjatuh.

Jalan nyeker tak lantas buat anak jadi gampang sakit, kok

Tenang. Membiarkan anak berjalan tanpa alas kaki tidak lantas langsung membuatnya gampang jatuh sakit. Kulit kaki manusia dirancang sebagai perisai untuk menangkal patogen penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh. Lagipula, anak-anak (bahkan dewasa sekalipun) lebih mungkin untuk mendapatkan atau menularkan penyakit melalui tangan yang menyentuh benda-benda berkuman — misalnya kenop pintu, toilet, bahkan mainan.

Selain itu, anak-anak lebih cenderung memasukkan tangan, bukan kaki mereka, ke dalam mulut dan menyentuh wajah dan mata, gerbang utama tempat penyakit atau infeksi paling sering masuk ke tubuh. Tapi Anda memang harus ekstra hati-hati terhadap infeksi cacing tambang yang bisa menyusup lewat kaki dan tetanus jika kaki anak tertusuk benda tajam. Jadi, biarkan saja anak jalan nyeker, tapi harus tetap diawasi, ya, bapak ibu.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

Video game dapat memberi manfaat. Namun tanpa batasan waktu, bermain video game bisa berakibat buruk pada anak. Berapa lama waktu ideal bermain video game?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Orangtua Wajib Rutin Berkomunikasi Dengan Anak?

Komunikasi dengan anak bukan hanya berbasa-basi dan berbicara, tetapi juga mendengarkan keluh kesah anak. Ini adalah kunci penting kualitas hubungan Anda.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bayi Ternyata Tak Boleh Pakai Gurita. Apa Bahayanya?

Gurita bayi diyakini bermanfaat untuk mengecilkan perut dan mencegah pusar bodong. Padahal, gurita bayi justru membahayakan kesehatan anak Anda.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
bayi pakai empeng isap jempol

Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
memberikan hadiah ke anak

Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit