Penyebab Eksim Pada Kulit Bayi Plus Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 November 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Salah satu penyakit kulit yang umum terjadi pada bayi baru lahir hingga anak balita adalah eksim alias dermatitis atopik. Eksim itu sendiri termasuk jenis dermatitis kronis yang gejalanya kambuhan dan dapat bertahan hingga dewasa. Yuk, pahami lebih jauh mengenai dermatitis atopik pada bayi melalui ulasan berikut.

Penyebab dermatitis atopik (eksim) pada bayi

eksim pada bayi

Kulit adalah organ yang membantu menjaga kelembapan tubuh dan melindungi sel, jaringan, dan organ tubuh bagian dalam dari bakteri, iritan, dan alergen.

Eksim atau disebut juga dengan dermatitis atopik adalah peradangan kronis pada jaringan kulit. Peradangan tersebut membuat kulit memerah bengkak, terasa amat gatal, serta kering bersisik dan mungkin pecah-pecah.

Menurut KidsHealth, dermatitis atopik bisa terjadi pada satu dari sepuluh anak bayi yang baru lahir. Para peneliti belum mengetahui pasti apa penyebab dermatitis atopik pada bayi. Namun, mereka percaya bahwa salah satu faktor terbesar dari kemunculan eksim pertama kali pada bayi kemungkinan dipicu oleh faktor genetik.
Bayi yang memiliki eksim biasanya dilahirkan dari keluarga yang memiliki riwayat eksim, asma, dan/atau alergi rhinitis. Mayo Clinic menyebutkan bahwa mutasi gen yang diwariskan anak dari orangtuanya dapat memengaruhi kemampuan perlindungan kulit. Kerusakan pada pelindung kulit tersebut dapat membuat kulit rentan teriritasi dan terinfeksi karena kuman akan masuk ke dalam tubuh.Eksim sendiri merupakan jenis penyakit jangka panjang (kronis) yang gejalanya dapat membaik lalu kembali sewaktu-waktu. Gejala eksim bisa muncul beberapa bulan setelah bayi lahir atau pada anak berusia sekitar 3-5 tahun.

Ciri dan gejala dermatitis atopik (eksim) pada bayi

ciri-ciri eksim pada bayi

Gejala eksim umum muncul pertama kali saat bayi berusia saat berusia 2 sampai 3 bulan (di bawah satu tahun). Namun, kemunculan dermatitis atopik pada bayi biasanya terlihat dalam tiga fase berbeda.

Bayi baru lahir hingga yang berusia 6 bulan cenderung mengalami gejala seperti kemunculan bintil kemerahan di pipi, dahi, atau kulit mengelupas pada kulit kepala. Kemudian saat bayi menginjak usia 6 bulan hingga 1 tahun, gejala eksim yang dapat timbul adalah lenting kecil kemerahan di sekitar siku dan lutut yang terasa gatal.

Kulit akan teriritasi dan memerah ketika si kecil menggaruknya terlalu sering. Hal tersebut juga dapat membuat area kulit yang gatal jadi menebal dan dapat melepuh serta mengeluarkan cairan. Bila terinfeksi, lenting dapat terisi nanah dan mungkin pecah membentuk kerak kuning.

Sekitar usia 2 tahun, eksim cenderung lebih sering muncul pada area kulit bayi yang berlipat, seperti pergelangan tangan dan kaki. Eksim pada bayi dapat juga muncul di sekitar kelopak mata dan mulut. Kulit yang terkena akan terlihat mengering, bersisik, dan menebal dengan garis-garis yang lebih dalam.

Meski demikian, American Academy of Dermatology mengatakan gejala eksim pada bayi dan anak yang lebih tua mungkin saja berbeda. Berikut berbagai gejalanya sesuai kelompok usia:

Ciri-ciri eksim pada bayi

  • Ruam kemerahan yang muncul tiba-tiba di kulit kepala dan wajah, terutama di pipi dan dahi. Bisa juga muncul punggung, tangan, dan kaki.
  • Kulit kering, bersisik, dan gatal; sisik bisa retak dan mengeluarkan cairan.
  • Sulit tidur karena kulit terasa sangat gatal
  • Munculnya infeksi akibat menggaruk kulit hingga terluka
  • Kadang, benjolan kecil berisi cairan juga bisa muncul di permukaan kulit.

Ciri-ciri eksim pada anak kecil

Gejala eksim pada anak kecil biasanya muncul di usia 2 tahun hingga masa pubertas. Adapun berbagai gejala dermatitis atopik yang biasanya muncul pada anak yaitu:

  • Ruam terutama di lipatan siku atau lutut. Namun, eksim juga bisa muncul di tangan dan kaki, leher, atau lipatan bokong.
  • Rasa gatal yang tak tertahankan di area kulit yang meradang.
  • Permukaan kulit bergelombang karena ada tonjolan atau penebalan kulit yang kadang permanen.
  • Kulit di area yang terkena lebih terang atau lebih gelap.

Setengah dari bayi dan anak yang mengalami eksim pada masa kecilnya mungkin akan terus mengalami eksim di masa dewasanya. Kekambuhan gejala eksim pada bayi dan anak kecil dapat dipicu oleh beragam faktor internal dan eksternal.

Umumnya, pemicu munculnya gejala eksim pada bayi adalah kondisi kulit bayi yang kering, adanya iritasi, kepanasan dan banyak berkeringat, iklim udara kering dan dingin, serta alergen seperti debu, tungau, hewan peliharaan, dan serbuk sari.

Cara mendiagnosis dermatitis atopik (eksim) pada bayi

Jika Anda melihat ruam kemerahan mirip gejala eksim pada kulit bayi, sebaiknya periksakan ke dokter. Dokter pun dapat merujuk Anda pada dokter spesialis kulit anak untuk memastikan diagnosisnya.

Selain dengan mengecek gejala yang timbul, dokter dapat menyarankan si kecil untuk menjalani beberapa pemeriksaan medis berikut:

1. Pemeriksaan kulit

Dalam hal ini dokter akan mengambil ekstrak makanan yang dianggap sebagai pemicu eksim pada bayi, kemudian dioleskan pada kulit bayi. Selanjutnya, dilihat apakah ada respon yang terjadi. Jika memang area kulit memerah dan pori-pori membesar, maka makanan tersebut adalah pemicu eksim pada bayi.

2. Tes darah

Pemeriksaan darah ini dilakukan untuk melihat, jenis makanan apa yang dapat menyebabkan eksim pada bayi. Untuk melakukan semua pemeriksaan ini, sebaiknya Anda konsultasikan dulu ke dokter spesialis anak.

3. Tes eliminasi makanan

Apabila makanan tertentu yang dicurigai dokter sebagai pemicu gejala eksim, dokter akan menyarankan Anda untuk berhenti memberikannya pada bayi selama 10-14 hari. Dalam rentang waktu tersebut akan diketahui apakah memang makanan tersebut dapat memicu eksim.

Setelah itu, biasanya dokter akan meminta Anda untuk memberikan makanan tersebut lagi dalam porsi yang kecil. Hal ini untuk memastikan penyebab dermatitis atopik pada bayi.

Setelah dokter memastikan diagnosis, ia dapat merekomendasikan Anda mengenai pengobatan dermatitis terbaik untuk anak Anda.

Cara mengobati dermatitis atopik (eksim) pada bayi

Dermatitis atopik adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan tapi bisa kambuh sewaktu-waktu. Itu artinya, si kecil akan memiliki penyakit ini seumur hidupnya. Nah, American Academy of Dermatology menyebutkan bahwa untuk menghindari kekambuhan gejala eksim bayi, Anda harus menghindarkan si kecil dari faktor pemicunya.

Amati berbagai hal di sekitar bayi yang bisa Anda curigai sebagai pemicu dermatitis atopik pada bayi. Pemicu eksim pada bayi ini bisa berupa keringat, air liur, gesekan, bulu hewan, atau bahan kimia yang ada pada beberapa produk.

Pastikan bayi terhindar dari zat tersebut agar gejala tidak kambuh. Jika si kecil sering terpapar pemicu, gejala eksimnya akan cepat kambuh dan jadi lebih parah. Apabila di lain waktu Anda mendapati air liur memicu rasa gatal parah di dagu bayi, segera bersihkan air liur tersebut. Kemudian, oleskan petroleum jelly di sekitar kulit yang terkena.

Selain dengan menghindari pemicunya, dokter dapat meresepkan obat eksim berupa kortikosteroid topikal dalam berbagai bentuk, seperti salep, krim, semprot, dan lotion.

Obat kortikosteroid topikal umum digunakan untuk mengobati peradangan dan meredakan gatal-gatal akibat dermatitis atopik pada bayi. Ikuti petunjuk dosis dan cara penggunaan yang dianjurkan dokter.

Apa saja risiko komplikasi dari dermatitis atopik pada bayi?

Bagi sebagian anak, gejala dermatitis atopik dapat membaik atau bahkan hilang seiring waktu. Bila gejala eksim yang muncul masih menetap, tidak membaik, membentuk nanah, dan semakin mengganggu tidur, segera periksa ke dokter.

 Jika tidak segera diobati, eksim pada bayi bisa berubah menjadi komplikasi.

  • Infeksi kulit. Ketika kulit terluka akibat digaruk karena gatal, risiko terjadinya infeksi kulit dari bakteri maupun virus akan meningkat.
  • Asma dan hay fever. Eksim pada anak biasanya muncul terlebih dahulu sebelum kedua kondisi ini.
  • Dermatitis kontak. Kondisi ini sering terjadi pada penderita eksim. Banyak unsur atau senyawa yang bisa membuat kulit mengalami reaksi alergi.
  • Gangguan pada mata. Komplikasi mata akan terjadi jika eksim pada bayi menyerang sekitar kelopak mata.
  • Gangguan tidur. Seseorang yang memiliki eksim, terutama  bayi dan anak-anak, cenderung mengalami kesulitan tidur. Siklus gatal-gatal bisa membuat anak terbangun berulang kali dan akibatnya menurunkan kualitas tidurnya.

Cara mencegah dan mengatasi dermatitis atopik pada bayi

memandikan bayi

Sementara perawatan di rumah untuk mencegah kekambuhan atau keraparah dermatitis atopik pada bayi dan anak kecil, Anda bisa melakukan beberapa hal, di antaranya:

  • Gunakan pelembab kulit (misalnya, krim atau salep) secara teratur dan sering untuk mengurangi kekeringan dan gatal.
  • Berikan anak Anda mandi berendam harian dalam air suam-suam kuku. Setelah mandi, bilas dua kali untuk menghilangkan sabun sisa (yang mungkin menjadi zat iritasi). Kemudian gunakan krim atau salep dalam waktu tiga menit setelah keluar dari bak mandi untuk menahan kelembaban.
  • Jika ada gatal yang luar biasa, gunakan kompres dingin di daerah tersebut, diikuti dengan penerapan obat yang diresepkan.
  • Tidak menggosok kulit bayi dan memandikannya lebih dari 10 menit. Segera keringkan tubuhnya dan oleskan pelembap maupun obat yang diresepkan.
  • Jika memang eksim disebabkan oleh suatu makanan pemicu, hindari memberikannya pada bayi. Ganti menu makan bayi atas saran dan petunjuk dokter.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Achondroplasia (Akondroplasia)

Achondroplasia atau akondroplasia adalah kelainan tulang pada bayi yang baru lahir. Simak gejala, penyebab, dan cara mengatasinya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Osteopenia

Osteopenia adalah kondisi pengeroposan tulang sebelum berlanjut menjadi osteoporosis. Yuk, pelajari lebih dalam gejala, penyebab, dan cara mengobatinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Ciri-ciri Infeksi Jamur di Mulut Anda

Infeksi jamur di mulut biasa disebut juga oral thrush atau kandidiasis. Simak penyebab, tanda dan gejala, serta cara pengobatannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 30 November 2020 . Waktu baca 9 menit

Menjaga Tekanan Bola Mata Sebagai Langkah Pencegahan Glaukoma

Tekanan bola mata tinggi adalah penyebab penyakit glaukoma Apa saja langkah pencegahan tekanan bola mata tinggi agar tak kena glaukoma?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan Mata, Glaukoma 30 November 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

veneer gigi

Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Veneer Gigi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit
hamil di usia 20-an

Kelebihan dan Kekurangan Hamil di Usia 20-an

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
tekanan darah normal berdasarkan usiaasarkan usia

Apa Perbedaan Tekanan Darah di Pagi, Siang, dan Malam Hari?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
sakit maag

Panduan Memilih Makanan yang Tepat Kalau Maag Anda Sering Kambuh

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit