4 Kondisi yang Menjadi Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Bintik merah di kulit bayi cukup umum terjadi, dan biasanya disebabkan oleh gigitan nyamuk. Namun, bagaimana dengan bercak putih pada kulit bayi? Sebenarnya, apa penyebab munculnya kondisi tersebut dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasan lengkapnya.

Penyebab munculnya bercak putih pada kulit bayi

Bayi memiliki kulit yang sensitif dan lebih tipis dibanding orang dewasa. Kulitnya yang sensitif ini membuat si kecil mudah mengalami ruam atau lecet akibat iritasi maupun gesekan.

Selain berupa ruam kemerahan, masalah kulit pada bayi juga bisa menimbulkan bercak keputihan. Berikut ini beberapa penyebab munculnya bintik atau ruam berwarna putih pada kulit dan wajah bayi:

1. Milia

menghilangkan milia pada bayi

Tampilan milia sekilas mirip dengan jerawat. Bedanya, milia tampak seperti bintik-bintik putih pada kulit bayi.

Bercak putih milia biasanya muncul pada sekitar kulit hidung, dagu, dan pipi bayi, meski juga bisa muncul di sekitar kelopak mata dan alat kelamin.

Masalah kulit ini sangat umum terjadi pada bayi, bahkan yang baru lahir sekalipun. Mayo Clinic menyebutkan, milia terbentuk ketika serpihan-serpihan kulit mati terperangkap di pori-pori.

Milia dapat juga terbentuk dari kulit yang sembuh sehabis kerusakan, seperti akibat lepuhan, ruam, atau sengatan matahari yang berlebihan.

Bila Anda mendapati bercak putih milia pada kulit bayi, Anda tidak perlu cemas. Kondisi ini tidak menimbulkan rasa sakit, panas, perih, maupun gatal.

Cara mengatasinya:

Tidak pengobatan khusus untuk milia karena kondisi ini akan sembuh sendiri, biasanya dalam hitungan beberapa minggu atau bulan.

Bila milia tidak kunjung menghilang dan menimbulkan kekhawatiran, jangan ragu konsultasi ke dokter.

Sebagai perawatannya, Anda cukup membersihkan badan bayi setiap hari dengan sabun dan air hangat. Kemudian keringkan dengan menepuk pelan tubuhnya menggunakan handuk.

Hindari produk perawatan bayi yang mengandung pewangi, pewarna, atau pun zat iritan yang bisa mengiritasi kulit.

2. Erythema toxicum neonatorum (ETN)

Sumber: Baby Center

Bercak putih pada kulit dan wajah bayi dapat disebabkan oleh erythema toxicum neonatorum (ETN).

Kondisi ini menyebabkan munculnya benjolan kecil yang berwarna kuning yang lama-lama memutih atau agak kemerahan di kulit.

Ketika disentuh, benjolan tersebut akan terasa keras dan bisa pecah mengeluarkan cairan.

ETN biasanya menyerang kulit wajah dan tubuh bagian tengah, seperti dada. Namun, bisa juga muncul di lengan tangan dan kaki.

Bayi dapat memiliki kondisi ini saat dilahirkan, atau satu hingga dua hari setelah bayi dilahirkan.

Munculnya ETN diyakini sebagai respons tubuh bayi terhadap mikroba yang menyusup ke pori-pori kulit. Setelah sistem imun mengembang dan lebih kuat, kulit bayi akan berkurang kesensitifannya.

Cara mengatasinya:

American Osteopathic College of Dermatology menyebutkan, bercak putih pada kulit bayi akibat ETN tidak membutuhkan pengobatan khusus. Bercak umumnya akan menghilang sendiri dalam waktu 5 atau 14 hari.

Meski begitu, lenting dapat pecah kapan saja. Oleh karena itu, Anda sebaiknya berhati-hati ketika membersihkan badan bayi atau memakaikan baju untuknya karena bisa memecahkan lenting.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan badan dan pakaian bayi agar kulitnya lebih cepat pulih dari kondisi ini.

3. Vitiligo

vitiligo
Sumber: Health Xchange

Vitiligo adalah penyakit kulit turunan (genetik) yang menyebabkan berubahnya warna kulit dengan munculnya bercak putih pada kulit bayi.

Ukuran bercak bervariasi, bisa kecil maupun besar dan muncul di sekitar wajah, tangan, kaki, dan bibir. Tidak hanya kulit, penyakit ini juga menyebabkan warna rambut, bulu mata, dan alis jadi memutih.

Vitiligo terjadi ketika sel-sel penghasil pigmen (melanosit) mati atau berhenti memproduksi melanin.

Melanin adalah zat pemberi warna pada kulit, rambut, dan mata. Berhentinya produksi melanin diduga akibat suatu proses autoimun.

Namun, banyak faktor lain yang juga berperan dalam munculnya bercak putih ini, seperti paparan sinar matahari dan bahan kimia industri.

Penyakit ini tidak menimbulkan rasa nyeri pada kulit. Namun, bisa menyebabkan hilangnya warna retina (lapisan dalam bola mata) serta gangguan pendengaran.

Cara mengatasinya:

Bercak putih pada kulit bayi ini tidak bisa disembuhkan dengan perawatan rumah. Namun, orangtua bisa melakukan perawatan kulit bayi yang tepat agar menghambat penyebaran perubahan warna kulit.

Anda harus menghindarkan si kecil dari paparan sinar matahari langsung dan menggunakan krim yang diresepkan dokter untuk melindungi kulit.

Selain itu, dokter akan mempertimbangkan pengobatan sesuai kondisi kulit bayi meliputi pemberian obat, terapi, pembedahan, atau kombinasi.

4. Panu

panu pada kulit bayi
Sumber: WebMD

Panu atau tinea versicolor adalah infeksi jamur yang menyebabkan timbulnya bercak putih pada kulit bayi.

Panu tidak hanya berwarna putih, tapi juga bisa kecokelatan, merah, atau merah muda. Bercak ini berbentuk oval yang kering, bersisik, dan menimbulkan gatal.

Mengutip dari Kids Health, tinea versicolor disebabkan oleh jenis jamur yang hidup di permukaan kulit.

Lingkungan kulit yang lembap memang merupakan tempat yang cocok bagi jamur untuk berkembang biak.

Maka, bila kulit bayi karena keringat, ia rentan mengalami kondisi ini.

Bayi yang kekurangan gizi atau memiliki sistem kekebalan tubuh juga lebih rentan mengalami masalah kulit ini.

Cara mengatasinya:

Bercak putih pada kulit wajah bayi ini hanya bisa disembuhkan dengan obat krim antijamur.

Namun, Anda tidak boleh menggunakan obat ini sembarangan karena kulit bayi masih sensitif. Jadi, akan lebih baik jika obatnya sesuai dengan resep dokter.

Supaya tidak kambuh, jaga kebersihan kulit si kecil dengan rutin memandikan bayi.

Hindari membiarkan bayi memakai baju yang basah dengan keringat dalam waktu lama. Kemudian, jangan lupa mengganti popok bayi bila sudah kotor dan basah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab Penyakit Kulit Beserta Faktor yang Meningkatkan Risikonya

Tiap penyakit kulit punya beragam penyebab. Untuk itu, penting mengetahui penyebab penyakit kulit pastinya agar Anda bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit 18 September 2020 . Waktu baca 11 menit

Teledermatologi, Layanan Konsultasi Masalah Kulit Online di Tengah Pandemi

Banyak orang yang cukup was-was saat hendak pergi ke rumah sakit di tengah pandemi. Untungnya, teledermatologi hadir saat pandemi COVID-19. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 4 Juli 2020 . Waktu baca 6 menit

Tips Mencegah Ruam Popok Pada Pantat Bayi

Eits, kata siapa semua bayi pasti pernah kena ruam popok? Dengan cara-cara berikut, Anda bisa mencegah ruam popok pada si buah hati, lho.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

Ibu, Ini 9 Penyakit Kulit yang Paling Umum Dialami Bayi

Bayi rentan mengalami masalah kulit karena kulitnya masih sangat sensitif. Lantas, apa saja penyakit kulit pada bayi yang paling umum?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

dermatitis

Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 11 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
dermatitis seboroik adalah eksim kulit kepala

Dermatitis Seboroik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
cara merawat kulit bayi

Cara Merawat Kulit Bayi yang Tepat Tanpa Membuat Iritasi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
psoriasis

Psoriasis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 13 menit