7 Cara Sederhana untuk Menumbuhkan Rasa Empati Anak Sejak Dini

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Menumbuhkan dan mengajarkan rasa empati pada anak sejak dini sangatlah penting. Dengan adanya rasa empati, anak dapat membangun dan menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Sebagai orangtua, Anda tidak perlu khawatir karena menumbuhkan rasa empati pada anak sebenarnya tidaklah sulit. Menumbuhkan rasa empati pada anak dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana. Coba berbagai cara di bawah ini untuk menumbuhkan rasa empati pada anak, yuk!

Pentingnya menumbuhkan rasa empati pada anak

motorik halus anak

Empati adalah kemampuan untuk mengolah rasa yang harusnya dimiliki semua orang, sekalipun itu anak-anak.

Rasa empati membuat anak dapat menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami emosi dari perasaan orang tersebut.

Tak hanya itu, menumbuhkan rasa empati juga berarti membuat anak memahami kondisi orang lain.

Apalagi di perkembangan anak usia 6-9 tahun yang sedang bertemu banyak orang dan memiliki rasa keingintahuan yang besar, rasa empati tentu sangat diperlukan.

Bukan hanya sekadar membuat anak merasa peduli, tetapi ia juga benar-benar merasakan dan memikirkan seolah berada pada situasi tersebut.

Setiap orang, termasuk anak-anak, harusnya memiliki kemampuan untuk berempati. Empati bisa dibilang sebagai salah satu hal penting yang harus dimiliki setiap orang.

Ini karena menumbuhkan rasa empati pada anak membantu membangun serta mempertahankan hubungan yang sehat dan bahagia dengan orang lain.

Tanpa adanya rasa empati di dalam diri anak, ia cenderung bersikap tidak peduli dengan sekitarnya.

Anak-anak juga tidak mau dan tidak bisa merasakan penderitaan yang dialami orang lain.

Bahkan, anak juga bisa saja tidak menunjukkan rasa menyesal setelah menyakiti orang lain.

Alhasil, anak akan lebih sering merendahkan, meremehkan, atau mengucilkan orang lain yang sedang mengalami kesulitan.

Jika buah hati Anda tumbuh tanpa rasa empati, ia akan sulit mendapatkan teman karena cenderung dijauhi atau tidak disukai teman-temannya.

Apabila hal tersebut terus-terusan terjadi, tentu akan berpengaruh pada keadaan jiwanya saat dewasa.

Saat anak tumbuh dewasa, ia akan jadi lebih mudah stres, cemas, depresi, hingga rentan melakukan hal nekat seperti bunuh diri.

Berbagai cara menumbuhkan rasa empati pada anak

Empati bukanlah suatu hal yang bisa muncul dengan sendirinya sejak kita lahir.

Rasa empati akan muncul bila orangtua dan lingkungan sekitar membantu menumbuhkan kepada anak sejak dini.

Oleh sebab itu, butuh waktu untuk menumbuhkan rasa empati di dalam diri anak.

Nah, jika Anda bertanya-tanya bagaimana cara menumbuhkan rasa empati pada anak sejak dini, berikut beberapa tips yang bisa Anda coba:

1. Pastikan kebutuhan emosional anak terpenuhi

komunikasi dengan anak hubungan anak dengan orangtua menumbuhkan rasa empati

Agar seorang anak dapat merasakan dan mengekspresikan rasa empatinya kepada orang lain, pastikan bahwa kebutuhan emosionalnya sendiri sudah dipenuhi terlebih dahulu.

Jadi sebagai orangtua, pastikan Anda dapat memberikan dukungan emosional anak sebelum mereka memberikannya kepada orang lain.

Contohnya jika raut wajah anak menunjukkan kesedihan, Anda bisa menghiburnya untuk menumbuhkan rasa empati. Selain itu, Anda juga bisa memeluk anak agar membuatnya nyaman.

Katakan pada anak “Bunda cemas kalau lihat kakak sedih seperti ini terus. Jangan sedih, senyum dong kak biar cantiknya kelihatan.”

2. Ajari anak cara mengatasi emosi negatif

cara melerai anak bertengkar

Setiap orang pasti pernah mengalami emosi negatif seperti rasa marah dan cemburu. Namun, jangan biarkan anak menunjukkan emosi negatif ini terus-terusan.

Mulai sejak dini, Anda harus mengajari anak Anda cara mengatasi emosi negatif dengan cara yang positif.

Cara ini juga dapat membantu menumbuhkan rasa empati pada diri anak sejak kecil.

Ketika anak Anda memukul temannya, jangan langsung memarahinya. Sebaiknya lerai pertengkaran anak dan tunggu sampai ia merasa agak tenang.

Nah, setelah dirasa sudah tenang, pelan-pelan ajak anak Anda dan temannya untuk berbicara tentang apa yang mereka rasakan. Pastikan Anda mendengarkan penjelasan mereka dengan seksama.

Setelah itu, berilah pemahaman kepada anak bagaimana cara mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang lebih tepat.

Contohnya, Anda bisa memberi penjelasan seperti, “Kalau kakak kesal waktu Rani ambil boneka kakak, jangan dipukul ya, Kak.”

Sampaikan juga cara yang sebaiknya dilakukan anak Anda, “Kakak bisa bicara baik-baik sama Rani untuk gantian atau berdua main bonekanya.”

Selain menanamkan rasa empati, secara tidak langsung Anda juga telah mengajarkan anak untuk berbagi.

3. Tanyakan mengenai perasaan anak saat kondisinya sedang tidak baik

mengatasi stres Anak

Ketika anak tak mau mengalah dan secara tidak sengaja memukul teman atau saudara kandungnya, Anda perlu memberinya pengertian.

Katakan bahwa perilaku anak seperti itu dapat menyakiti orang lain secara fisik atau emosional.

Cobalah mengatakan sesuatu seperti, “Bagaimana perasaanmu jika seseorang mengambil mainanmu?” atau “Bagaimana perasaanmu jika seseorang memukulmu?”

Sebutkan tentang perasaan itu dan bantu anak Anda memahami emosi dan perasaan tersebut.

Jika anak Anda berperilaku baik terhadap seseorang, seperti mencoba menghibur teman yang menangis, katakan hal lain.

Misalnya, “Kakak baik sekali karena sudah khawatir dengan kondisi teman, Bunda yakin teman Kakak pasti merasa senang lagi setelah dihibur.”

Sementara jika anak Anda berperilaku tidak baik atau negatif, katakan hal sebaliknya.

Misalnya, “Bunda tahu Kakak mungkin merasa sangat marah, tapi apa yang Kakak lakukan tadi justru membuat teman Kakak sedih karena mainannya diambil secara paksa. Kakak ngga mau kan liat dia sedih?”

4. Berikan contoh yang baik

belajar membaca anak sd

Anak adalah peniru yang ulung. Berdasarkan Harvard Graduate School of Education, segala hal baik dan buruk yang anak tunjukkan tak terlepas dari caranya meniru perilaku orangtua atau orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan rasa empati anak, pastikan Anda juga memberikan contoh yang baik.

Tunjukkan padanya menjadi orang yang sopan, bersikap baik dan penuh kasih terhadap semua makhluk hidup.

Dengan membantu anggota keluarga, teman, tetangga, dan bahkan orang lain yang mengalami kesulitan, Anda sudah mengajari si kecil bagaimana menjadi orang yang berempati.

5. Mengajak anak melakukan meditasi untuk menumbuhkan rasa empati

manfaat meditasi untuk anak menumbuhkan rasa empati

Manfaat meditasi ternyata bukan hanya sekadar membuat anak merasa tenang. Di sisi lain, meditasi ternyata juga bisa menjadi cara untuk menumbuhkan rasa empati pada anak.

Tak jarang, kepercayaan diri seorang anak tidak tumbuh dengan baik. Hal ini membuat anak memilih untuk mengasingkan diri dari orang lain dan sulit untuk bersosialisasi karena rasa mindernya. 

Supaya rasa percaya diri tersebut tidak tenggelam, meditasi anak dapat menjadi salah satu alternatif untuk membuat hal tersebut tumbuh. 

Selain percaya diri, meditasi yang dilakukan anak juga dapat menumbuhkan rasa empati, aman, dan nyaman.

Anak yang melakukan meditasi cenderung lebih bahagia, memupuk rasa sayang kepada sesama, dan kepercayaan dirinya lebih tinggi. 

Bahkan, melansir dari laman Healthy Children, meditasi baik bagi kesehatan tubuh, pikiran, dan jiwa anak.

6. Sampaikan pada anak bahwa semua orang pada dasarnya sama

cerebral palsy

Menumbuhkan rasa empati pada anak bisa dilakukan dengan beragam cara, salah satunya dengan mengajak anak mengenal orang yang punya keterbatasan.

Meski semua orang pada dasarnya sama, orang difabel atau disabilitas memiliki keterbatasan yang dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan, atau beberapa kombinasi dari ini.

Jika si kecil bertanya dan merasa heran kenapa ada orang-orang yang tampak berbeda dari dirinya, Anda bisa menjelaskan padanya bahwa ada manusia yang dilahirkan berbeda.

Tidak ada manusia yang sama persis, baik rambutnya, kulitnya, mata, tubuhnya, dan lain sebagainya.

Namun bagaimana pun juga, semua manusia sama terlepas dari kekurangan fisik yang dimilikinya.

Katakan juga padanya bahwa semua orang pun melakukan berbagai hal dengan cara yang berbeda. Sebagian orang mungkin bisa berjalan dengan kedua kakinya, ada pula yang menggunakan kursi roda atau tongkat.

Beri tahu bahwa kondisi yang dimiliki penyandang disabilitas tidak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh dirinya sendiri, kakak atau adiknya, orangtua, atau bahkan dokter.

Beri pemahaman bahwa kursi roda bagi penyandang disabilitas membantu mereka agar bisa leluasa bergerak, sama seperti kaki anak yang membantunya berjalan.

Menariknya lagi, berempati pada orang lain yang memiliki kondisi berbeda dengan dirinya di masa perkembangan fisik anak ini, juga mengajarkan anak untuk bersyukur.

Di sisi lain, cara ini juga dapat membantu membentuk jiwa sosial anak sejak kecil.

7. Biasakan anak untuk tidak mengejek dan mem-bully

menjelaskan mimpi basah anak

Menumbuhkan rasa empati pada anak bisa Anda latih juga dengan mengajarkan si kecil agar tidak mengejek temannya.

Berilah pengertian pada anak bahwa sengaja menyakiti perasaan orang lain, entah dalam bentuk apa pun, adalah sebuah tindakan yang salah.

Ajarkan anak Anda untuk segera meminta maaf ketika mereka secara sengaja atau tidak melontarkan kata-kata cacian atau intimidasi pada orang lain.

Penting bagi anak Anda untuk mengetahui bahwa siapa pun, bahkan seseorang yang terlihat atau bertindak berbeda juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. 

Jadi, sejak dini anak bisa memahami bahwa semua orang pantas diperlakukan dengan baik dan terhormat, termasuk dirinya.

Mengajarkan dan menumbuhkan rasa empati di dalam diri anak sejak kecil memang tidaklah mudah.

Anak mungkin kerap kali bertanya terkait berbagai hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Usahakan untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak sampai ia benar-benar mengerti bahwa rasa empati itu perlu ada dan dibawa hingga dewasa.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Cara Efektif Mengatasi Anak Malas Belajar

Saat anak Anda malas belajar, ada cara yang bisa Anda lakukan demi mengatasi rasa malas tersebut. Apa saja? Simak tipsnya secara lengkap di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 13 April 2020 . Waktu baca 6 menit

4 Cara Mengajarkan Anak Menjaga Kebersihan Lingkungan

Kebersihan lingkungan merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia. Lalu, bagaimana mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan lingkungan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Parenting, Tips Parenting 11 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Langkah Orangtua Memberi Hukuman Mengurung Anak?

Saat anak berbuat kesalahan, orangtua terkadang memberi hukuman dengan mengurung anak di kamar untuk merenungi kesalahannya. Apakah hal ini baik dilakukan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Parenting, Tips Parenting 3 April 2020 . Waktu baca 3 menit

Tips Mendidik Anak Tunggal agar Tidak Menjadi Egois dan Manja

Stereotip dari anak tunggal adalah egois dan sombong, padahal karakter anak ditentukan oleh cara mendidik anak yang dilakukan orang tua sejak dini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menjelaskan rasisme kepada anak

Tips Menjelaskan Rasisme kepada Anak Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
agar anak mau mendengarkan orang tua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
menghukum anak berbohong

Menghukum Anak Karena Berbohong Justru Akan Membuatnya Berbohong Lagi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 29 April 2020 . Waktu baca 5 menit
cara mengajari anak menulis

Cara Mengajari Anak Menulis dengan Baik dan Rapi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 27 April 2020 . Waktu baca 8 menit