Ada banyak aspek perkembangan anak yang perlu diperhatikan. Selama perkembangan sesuai dengan usianya, umumnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dari tumbuh kembang buah hati Anda. Lantas, bagaimana dengan perkembangan psikomotorik anak?
Apa saja yang perlu diketahui dari aspek perkembangan ini dan bagaimana orangtua bisa mendukungnya? Ketahui jawabannya pada ulasan berikut.
Apa itu perkembangan psikomotorik?
Perkembangan psikomotorik adalah pengembangan keterampilan yang melibatkan otot dan kemampuan berpikir.
Keterampilan yang dimaksud berarti bagaimana seorang anak mengontrol gerakan-gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara sistem saraf pusat dan otot.
Ini bisa berupa gerakan motorik kasar yang melibatkan bagian besar dari tubuh, seperti duduk, berjalan, berlari, naik dan turun tangga, melompat, serta menari.
Lalu dilanjutkan dengan gerakan atau perkembangan motorik halus, seperti meraih, memegang, dan melempar. Ini juga termasuk kemampuan menulis, menggambar, dan menempel.
Selain pada perkembangan motoriknya, psikomotorik juga bisa mengacu pada kemampuan emosional dan sosial anak.
Perkembangan psikomotorik bisa Anda perhatikan sejak bayi baru lahir. Kemampuan ini terus berkembang mengikuti kematangan serta perkembangan otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) si Kecil.
Bila ada penyimpangan dalam perkembangannya, berbagai kemungkinan penyebab bisa terjadi. Salah satunya adalah adanya gangguan pada sistem saraf anak.
Itulah mengapa perkembangan psikomotorik anak perlu terus dipantau dan dievaluasi. Konsultasikan pada dokter anak jika ada kemungkinan penyimpangan yang terjadi.
Faktor yang memengaruhi perkembangan psikomotorik
- Genetik.
- Pola asuh orangtua.
- Lingkungan.
- Status gizi.
Perkembangan psikomotorik anak sesuai usia
Perkembangan psikomotorik bisa diperhatikan sejak bayi, kemudian memasuki masa balita, kanak-kanak, hingga remaja.
Namun, perkembangan ini perlu dioptimalkan pada masa keemasan atau golden age, yakni saat anak berusia 0—6 tahun.
Apalagi, melansir Fyzio Pedia, sistem saraf pusat akan berkembang secara bertahap hingga tahun keenam kehidupan seorang anak.
Umumnya, kematangan sistem saraf pusat dalam keterampilan motorik kasar akan berakhir pada usia 4 tahun. Sementara pada keterampilan motorik halus berakhir pada tahun ke-6.
Berikut adalah tahap-tahap perkembangan psikomotorik anak sesuai usianya.

Perkembangan psikomotorik anak lebih mengacu pada keterampilan motorik kasar. Namun mulai usia 1 tahun, perkembangannya lebih terlihat pada aspek kepribadian, bahasa, dan motorik halus.
Berikut beberapa tonggak pencapaian psikomotorik yang perlu diperhatikan.
- Motorik kasar: anak semakin lancar berjalan, dapat berdiri sendiri dari posisi duduk, naik tangga, menendang bola, menggosok gigi, serta membantu memakai dan melepas pakaiannya sendiri.
- Motorik halus: anak dapat makan dan minum dari gelas sendiri, menumpuk 3—5 kubus, membuka pintu, serta mencoret-coret atau membuat gambar abstrak di kertas.
- Kepribadian: anak mencoba lebih mandiri serta ingin membantu orang lain.
- Bahasa: perkembangan bahasa anak dilihat dari kosakatanya yang semakin beragam dan bahkan dapat menyusun kalimat sederhana, meski pengucapannya masih belum jelas.
Memasuki usia 2 tahun hingga 3 tahun, perkembangan psikomotorik anak bisa dilihat dari kemampuannya mengendarai sepeda, melompat, serta menuruni tangga.
Ia pun sudah dapat mengancingkan kemeja, membuka dan menutup ritsleting, merangkai manik-manik, serta membawa benda dengan stabil tanpa terjatuh.
Anak juga bisa melukis dengan lebih detail, seperti menggambar kepala dengan mata, hidung, dan mulut, hingga ke jari-jari tangan.
Dari aspek kepribadian, keinginan anak untuk menjadi mandiri dan membantu orang lain semakin tinggi. Perkembangan sosial anak usia 3 tahun pun mulai terlihat karena sudah dapat berkumpul dengan anak lain.
Dari segi perkembangan bahasa, bicara anak semakin jelas dengan kosakata yang lebih beragam. Anda bisa membaca buku bersama anak untuk mengembangkan kemampuannya ini.
Memasuki usia 4 tahun, semakin banyak kemampuan psikomotorik yang si Kecil kuasai, terutama pada perkembangan motorik halus.
Misalnya menggambar dan mewarnai bentuk-bentuk yang lebih beragam, menulis huruf dan angka, memakai pakaiannya sendiri, hingga menggunting.
Si Kecil pun sudah mulai bisa melompat dengan lebih lincah, bahkan lompat dengan satu kaki. Ia juga mulai bisa menggunakan toilet sendiri tanpa bantuan dari orang dewasa.
Dari segi kepribadian, si Kecil menjadi lebih mandiri serta dapat mengikuti peraturan seiring dengan dimulainya masa-masa sekolah.
Pada usia sekolah ini pun, anak lebih banyak melakukan aktivitas sosial, seperti bermain bersama teman, serta bercerita dengan lebih jelas dan mengungkapkan perasaannya.
Cara orangtua mendukung perkembangan psikomotorik anak

Memberikan stimulasi yang tepat dapat membantu mendorong perkembangan psikomotorik anak.
Adapun stimulasi yang diberikan perlu disesuaikan dengan usia si Kecil. Anda juga bisa mengajak si Kecil main bersama, seperti bermain menumpuk balok atau mencoret-coret di kertas jika ia sudah balita.
Apa pun bentuk stimulasi yang diberikan pastikan Anda tidak memaksakan kemampuan anak dalam waktu yang singkat.
Anda perlu paham bahwa perkembangan setiap anak bisa berbeda. Beberapa anak mungkin berkembang lebih cepat, tapi yang lainnya mungkin butuh waktu lebih banyak.
Memaksakan perkembangan psikomotoriknya justru bisa menyebabkan gangguan mental pada anak. Ia sering kali merasa tertekan, canggung, serba salah, dan tidak percaya diri.
Jika memang ada kondisi yang mengkhawatirkan, lebih baik konsultasikan kepada dokter.
Selain itu, upaya lain yang bisa orang tua lakukan untuk mendukung perkembangan psikomotorik anak adalah memberikan asupan nutrisi tepat sesuai yang dibutuhkan anak seusianya.
Memenuhi asupan nutrisi harian si Kecil dapat memberi dampak yang besar untuk kemampuan berpikirnya.
Tahukah Bunda? Salah satu nutrisi yang berperan penting dalam perkembangan otak dan kecerdasan anak adalah zat besi.
Menurut data, 1 dari 3 anak di Indonesia berisiko mengalami anemia defisiensi zat besi.
Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan otaknya, sehingga menimbulkan masalah kognitif seperti penurunan daya konsentrasi dan memori, yang mempengaruhi kemampuan belajar anak.
Penelitian juga menemukan bahwa anak yang asupan zat besi hariannya terpenuhi secara optimal terbukti lebih cerdas dengan daya ingat dan konsentrasinya lebih bagus, jika dibandingkan dengan anak yang kekurangan zat besi.
Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk memastikan kebutuhan zat besi harian si Kecil terpenuhi.
Asupan zat besi dapat diperoleh dengan memberikan asupan gizi seimbang, terutama dari sumber protein hewani yang kaya zat besi.
Salah satunya adalah susu yang terfortifikasi dengan kombinasi unik zat besi dan vitamin C. Kombinasi kedua zat besi dan vitamin Cnutrisi ini dapat membantu penyerapan zat besi hingga 2x lipat
Yuk, dukung perkembangan otak si Kecil dengan melakukan tips-tips di atas dan pastikan kebutuhan zat besi hariannya terpenuhi!