Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tips Mendidik Anak Tunggal agar Tidak Menjadi Egois dan Manja

Tips Mendidik Anak Tunggal agar Tidak Menjadi Egois dan Manja

Memutuskan berapa orang anak pada sebuah keluarga ideal tentu keputusan bersama orang tua. Sebagian besar orang mungkin merasa cukup dengan dua anak. Namun, tak sedikit keluarga yang hanya terdiri dari satu anak. Sayangnya, hal ini menimbulkan beberapa stereotip mengenai anak tunggal. Salah satu contohnya adalah anak tunggal cenderung memiliki sifat manja dan egois. Padahal, karakter anak bergantung pada bagaimana cara orang tua mendidik anak. Apabila Anda memiliki anak tunggal dan tidak ingin anak memiliki karakter seperti yang menjadi stereotip, beberapa cara ini mungkin dapat membantu.

Cara mendidik atau membesarkan anak tunggal

Sebagian besar orang tidak asing dengan stereotip anak tunggal. Bahkan mungkin Anda pernah melihat karakter seseorang lalu mengidentifikasi apakah orang tersebut anak tunggal atau bukan.

Anak tunggal seringkali dinilai memiliki sifat yang cenderung negatif. Agar si kecil kelak tidak memiliki sifat sesuai stereotip anak tunggal, berikut beberapa tips mendidik anak tunggal yang mungkin Anda butuhkan.

1. Ajak dan dorong anak untuk bersosialisasi

Sebuah penelitian pada tahun 2004 yang diterbitkan di Journal of Marriage and Family menemukan bahwa anak tunggal cenderung memiliki kemampuan bersosialisasi yang lebih rendah dibandingkan anak lain dengan usia sebayanya yang memiliki saudara kandung.

Namun, bukan berarti anak tunggal ditakdirkan menjadi orang yang sulit bersosialisasi. Untuk itu, ajak anak untuk mengikuti berbagai kegiatan sosial untuk mendorongnya berinteraksi dengan teman sebaya sejak dini. Cara mendidik anak tunggal ini dapat membantu mengatasi kekosongan akibat tidak memiliki saudara.

2. Jangan terlalu mengekang anak

Orang tua yang memiliki banyak anak cenderung lebih santai atau tidak terlalu mengekang anak. Hal ini dikarenakan fokus dalam mendidik anak tak hanya tertuju pada satu orang saja.

Lakukan juga hal ini pada anak tunggal agar ia dapat lebih mandiri dan lebih mengenali dirinya sendiri. Orang tua perlu memberikan ruang dan kebebasan pada anak untuk mempelajari berbagai hal tanpa selalu mendapat bantuan.

3. Mendidik anak agar mandiri

Bersosialisasi memang penting, tapi terkadang anak tunggal rentan mengalami peer pressure (tekanan teman sebaya). Menurut Susan Newman, penulis dari buku “The Case for the Only Child,” anak tunggal lebih sering mencari pengakuan sosial dan kesempatan untuk berbaur sehingga anak lebih rentan mengalami peer pressure.

Oleh karena itu, ajarkan anak dalam mengatur waktu untuk diri sendiri dan bersosialisasi. Bantu anak tunggal untuk mengerti nilai dari perbedaan dan tidak harus selalu menjadi bagian dari sebuah lingkup sosial.

4. Cari passion atau kesukaan anak

Memperkenalkan berbagai aktivitas atau kegiatan memungkinkan Anda untuk mengetahui potensi dan kesukaan anak, sekaligus menambah kemampuan untuk bersosialisasi juga.

Selain itu, anak juga dapat belajar untuk memuaskan diri sendiri yang bermanfaat bagi pertumbuhan, terutama mungkin pada anak tunggal.

5. Berhenti untuk ikut campur dalam segala hal

Semua orang tua pasti ingin selalu menjaga dan melindungi anak. Namun, salah satu cara mendidik adalah dengan membiarkan anak untuk menyelesaikan sebuah konflik tanpa campur tangan orang tua, terutama pada anak tunggal.

Dengan kata lain, Anda tidak perlu selalu melakukan tindakan ketika menyadari bahwa si kecil sedang bermasalah, contohnya seperti berkelahi dengan teman sekolah. Anda tentu perlu memberikan nasihat mengenai hal tersebut tetapi tidak terlibat lebih jauh lagi.

Sebisa mungkin, biarkan anak untuk menyelesaikan konflik tanpa bantuan, karena ketika ia dewasa, orang tua tidak akan selalu ada untuk membantu.

Tips dalam mendidik tersebut dapat membantu Anda membangun karakter anak dan menyanggah stereotip dari anak tunggal yang cukup umum, seperti manja dan egois. Karakter setiap anak berbeda-beda dan tidak bergantung pada seberapa banyak saudara yang ia miliki.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Campbell, L. (2015). Raising an Only Child: 9 Tips for Parents. Retrieved March 5, 2020, from https://www.healthline.com/health/parenting/raising-an-only-child

Higuera, V. (2019). Only Child Syndrome: Characteristics and If It’s Real. Retrieved March 5, 2020, from https://www.healthline.com/health/parenting/only-child-syndrome#origins

Watson, S. (2012). Why It’s Ok to Have Just One Child. Retrieved March 5, 2020, from https://www.webmd.com/parenting/features/just-one-child#1

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Roby Rizki Diperbarui 26/03/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x