Salbutamol

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Juni 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Salbutamol Obat Apa?

Untuk apa Salbutamol?

Salbutamol adalah obat albuterol yang berfungsi melemaskan otot saluran pernapasan. Obat ini termasuk dalam bronkodilator, yang ditujukan untuk melegakan saluran pernapasan. Salbutamol tersedia dalam bentuk tablet dan inhaler.

Salbutamol biasa digunakan untuk mengobati masalah pernapasan, seperti asma, bronkitis kronis, dan emfisema. Salbutamol termasuk ke dalam golongan obat selective beta-2-adrenergic agonists.

Obat ini bekerja dengan cara merilekskan otot saluran pernapasan, sehingga pasien lebih mudah bernapas. Salbutamol biasanya digunakan untuk meredakan gejala gangguan pernapasan yang muncul yang muncul sewaktu-waktu.

Aturan pakai, dosis, efek samping, serta peringatan pemakaian salbutamol akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

Bagaimana aturan pakai Salbutamol?

Selalu minum tablet dan gunakan inhaler salbutamol tepat seperti apa yang dokter sampaikan. Jika Anda merasa tidak yakin, tanyakan kepada dokter atau apoteker Anda.

Telan tablet dengan air. Jika Anda khawatir tablet tidak bekerja seperti biasanya, hubungi dokter untuk meminta saran.

Untuk inhaler salbutamol, gunakan hanya saat Anda mengalami gejala-gejala gangguan pernapasan, seperti batuk, mengi, sulit bernapas, dan rasa tertekan di dada.

Petunjuk penggunaan inhaler salbutamol umumnya telah tercantum di label kemasan. Maka itu, bacalah petunjuk yang tertera di label secara saksama, agar Anda tidak salah menggunakan inhaler tersebut.

Jika Anda atau anak Anda kesulitan menggunakan inhaler salbutamol biasa, dokter mungkin akan menyarankan pemakaian spacer sebagai alat bantu.

Spacer adalah alat yang menyerupai tabung untuk dipasang di inhaler salbutamol Anda. Dengan menggunakan spacer, obat dari inhaler akan terarah menuju mulut Anda dengan tepat.

Bagaimana cara penyimpanan Salbutamol?

Simpan pada suhu ruangan dan jauhkan dari cahaya langsung dan tempat lembab. Jangan disimpan di dalam kamar mandi. Jangan dibekukan. Merek lain dari obat ini mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda.

Perhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk atau tanyakan pada apoteker Anda. Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran pembuangan kecuali bila diinstruksikan. Buang produk ini bila masa berlakunya telah habis atau bila sudah tidak diperlukan lagi.

Konsultasikan kepada apoteker atau perusahaan limbah lokal mengenai bagaimana cara aman membuang produk Anda.

Dosis Salbutamol

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti dari nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter atau apoteker Anda sebelum memulai pengobatan.

Bagaimana dosis Salbutamol untuk orang dewasa?

Berikut adalah dosis salbutamol yang direkomendasikan untuk orang dewasa, baik dalam bentuk tablet maupun inhaler:

Tablet

Dosis salbutamol dalam bentuk tablet untuk orang dewasa adalah 4 mg sebanyak 3-4 kali sehari.

Dokter Anda mungkin akan menaikkan dosis secara bertahap hingga batas maksimal 8 mg sehari tiga atau empat kali. Beberapa pasien sukses diobati dengan 2 mg sebanyak 3-4 kali sehari.

Dosis untuk orang lanjut usia atau pasien yang terkenal sensitif terhadap produk ini: dimulai dengan 2 mg sebanyak 3-4 kali sehari.

Inhaler

Salbutamol dalam bentuk inhaler hanya digunakan ketika gejala masalah pernapasan muncul.

Dosis yang umum diberikan pada orang dewasa adalah 1-2 semprotan dalam 1 kali pemakaian. Dalam rentang waktu 24 jam, Anda sebaiknya tidak memakai inhaler lebih dari 4 kali.

Apabila Anda mengidap asma dan mengalami serangan asma mendadak, Anda dapat menyemprotkan inhaler salbutamol hingga 10 kali. Beri jeda selama 30 detik di antara setiap semprotan.

Bagaimana dosis Salbutamol untuk anak-anak?

Berikut adalah dosis salbutamol untuk anak-anak:

  • Dosis salbutamol untuk anak 2-6 tahun: 1-2 mg tiga atau empat kali sehari
  • Dosis salbutamol untuk anak 6-12 tahun: 2 mg tiga atau empat kali sehari
  • Dosis salbutamol untuk anak di atas usia 12 tahun: 2-4 mg tiga sampai empat kali sehari
  • Salbutamol sebaiknya tidak diberikan pada anak di bawah 2 tahun.
  • Dosis dan aturan pakai salbutamol dalam bentuk inhaler untuk anak-anak tidak berbeda dengan orang dewasa.

Apa saja bentuk dan dosis sediaan salbutamol?

Salbutamol tersedia dalam bentuk berikut:

  • Solution 1 mg/mL; 2,5 mg/2,5 mL; ; 2 mg/mL; 5 mg/ 2,5 mL
  • Accuhaler 200 mg
  • Tablet 2 mg; 4 mg

Efek samping Salbutamol

Efek samping apa yang dapat dialami karena Salbutamol?

Sebanyak 1 dari 100 orang mengalami efek-efek samping di bawah ini setelah menggunakan obat ini:

  • merasa gemetar
  • detak jantung lebih cepat, tidak disertai nyeri dada
  • sakit kepala
  • kram otot

Efek-efek di atas tidak berbahaya dan biasanya akan membaik dengan sendirinya setelah tubuh Anda terbiasa dengan obat ini.

Namun, jika Anda mengalami gejala-gejala reaksi alergi seperti di bawah, segera hentikan penggunaan obat ini dan hubungi dokter Anda:

  • pembengkakan pada wajah, bibir, tenggorokan, atau lidah
  • muncul ruam atau kemerahan
  • gatal-gatal
  • kesulitan bernapas
  • tekanan darah rendah
  • kesadaran menurun (reaksi alergi parah atau anafilaktik)

Beritahu dokter Anda jika Anda menyadari efek berikut atau jika ada yang tidak terdaftar:

  • Peningkatan asam laktat pada tubuh: napas cepat, merasa sakit, perut nyeri
  • Kalium darah rendah: otot kejang atau lemah, detak jantung tidak teratur
  • Bertambahnya zat asam pada tubuh (ketoasidosis), yang dapat terjadi pada pengidap diabetes
  • Lainnya: sakit kepala, kadar gula dalam darah meningkat, gemetaran (biasanya pada tangan), perasaan tegang, pembuluh darah melebar yang dapat menyebabkan meningkatnya fungsi jantung dan detak jantung, detak jantung tidak beraturan, otot kejang

Tidak semua orang mengalami efek samping berikut ini. Mungkin ada beberapa efek samping yang tidak disebutkan di atas.

Bila Anda memiliki kekhawatiran mengenai efek samping tertentu, konsultasikanlah kepada dokter atau apoteker Anda.

Peringatan dan Perhatian Obat Salbutamol

Apa saja yang harus diketahui sebelum menggunakan Salbutamol?

Jangan gunakan tablet salbutamol dan beritahu dokter Anda jika:

  • Alergi (hipersensitif) terhadap salbutamol atau bahan lainnya yang terkandung dalam tablet
  • rentan keguguran selama enam bulan pertama masa kehamilan
  • menggunakan beta-blocker seperti propranolol.

Periksa dengan dokter Anda atau apoteker sebelum menggunakan obat ini jika Anda memiliki kondisi-kondisi kesehatan berikut:

Hipertiroid

Obat bronkodilator seperti salbutamol dapat meningkatkan aktivitas kelenjar tiroid, sehingga berpotensi memicu terjadinya tirotoksikosis. Maka itu, penderita asma yang juga mengidap masalah kelenjar tiroid atau hipertiroid perlu pengawasan lebih lanjut selama pemakaian obat ini.

Diabetes

Dalam kebanyakan kasus, terjadi peningkatan kadar gula darah selama menggunakan salbutamol. Kondisi ini tentu dapat membahayakan pasien pengidap diabetes. Penggunaan obat ini pada pasien diabetes harus diawasi lebih lanjut karena adanya potensi terjadinya ketoasidosis (bertambahnya asam di dalam tubuh).

Riwayat penyakit jantung

Walaupun tidak diketahui secara pasti seberapa sering ini terjadi, beberapa orang terkadang mengalami nyeri pada dada (disebabkan oleh masalah jantung seperti angina). Bicarakan dengan dokter/bidan jika ada terkena gejala ini selama melakukan pengobatan dengan obat ini, tetapi jangan hentikan penggunaan obat kecuali bila disarankan.

Jika Anda harus menggunakan inhaler salbutamol lebih dari 4 kali dalam 24 jam, itu mungkin berarti kondisi kesehatan Anda mengalami penurunan dan Anda memerlukan pengobatan lebih intensif.

Selain itu, penggunaan salbutamol yang terlalu sering justru meningkatkan risiko terjadinya efek samping, seperti peningkatan detak jantung, gelisah, tubuh gemetar, serta sakit kepala.

Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda:

  • menggunakan inhaler salbutamol lebih dari 4 kali dalam 24 jam
  • lebih dari 2 hari dalam 1 minggu
  • menggunakan inhaler di tengah malam, setidaknya 1 minggu sekali

Apakah Salbutamol aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Tidak ada penelitian yang memadai mengenai risiko penggunaan salbutamol pada ibu hamil atau menyusui. Namun, salbutamol berpotensi terserap ke dalam air susu ibu yang menyusui dan terminum oleh bayi.

Oleh karena itu, selalu konsultasikan kepada dokter Anda untuk mempertimbangkan potensi manfaat dan risiko sebelum menggunakan obat ini.

Obat ini termasuk ke dalam risiko kehamilan kategori C (mungkin berisiko) menurut US Food and Drugs Administration (FDA).

Berikut referensi kategori risiko kehamilan menurut FDA :

  •      A= Tidak berisiko,
  •      B=Tidak berisiko pada beberapa penelitian,
  •      C=Mungkin berisiko,
  •      D=Ada bukti positif dari risiko,
  •      X=Kontraindikasi,
  •      N=Tidak diketahui

Interaksi Obat Salbutamol

Obat-obatan apa yang mungkin berinteraksi dengan Salbutamol?

Walaupun beberapa obat tidak boleh digunakan secara bersamaan, pada kasus lain dua obat berbeda mungkin dapat digunakan secara bersamaan bahkan jika interaksi mungkin terjadi. Dalam kasus ini, dokter Anda mungkin akan mengubah dosis, atau tindakan pencegahan lain mungkin akan diperlukan. Beritahu dokter jika Anda sedang menggunakan resep lain atau obat nonresep, khususnya:

Obat hipertensi

Obat-obatan untuk mengatasi hipertensi atau tekanan darah tinggi, seperti diuretik, guanethidine, atau methyldopa, berpotensi meningkatkan risiko terjadinya pendarahan jika berinteraksi dengan salbutamol.

Obat antidiabetes

Obat-obatan diabetes yang berinteraksi dengan salbutamol juga berisiko meningkatkan kadar gula darah pada pengidap diabetes. Oleh karena itu, pengobatan dengan salbutamol dan obat diabetes secara bersamaan perlu penyesuaian lebih lanjut.

Selain itu, terdapat pula obat-obatan lain yang dapat memicu terjadinya interaksi dengan salbutamol:

  • monoamine oxidase inhibitors (MAOI), seperti tranylcypromine (untuk depresi)
  • tricyclic antidepressants, seperti amitriptyline (untuk depresi)
  • beta-blocker, seperti propranolol
  • obat kortikosteroid
  • theophylline (untuk masalah pernapasan)
  • Obat bius hirup (beri tahu dokter Anda jika Anda akan menjalani operasi)
  • digoxin (untuk masalah jantung)
  • xanthinesseperti theophylline, aminophylline (untuk asma)

Apakah makanan atau alkohol dapat berinteraksi dengan Salbutamol?

Obat-obatan tertentu tidak boleh digunakan pada saat makan atau saat makan makanan tertentu karena interaksi obat dapat terjadi. Mengonsumsi alkohol atau tembakau dengan obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan interaksi terjadi.

Diskusikan penggunaan obat Anda dengan makanan, alkohol, atau tembakau dengan  penyedia layanan kesehatan Anda.

Kondisi kesehatan apa yang dapat berinteraksi dengan Salbutamol?

Adanya masalah kesehatan lain di tubuh Anda dapat mempengaruhi penggunaan salbutamol.

Beritahukan dokter bila Anda memiliki masalah kesehatan lain

Overdosis Salbutamol

Apa yang harus saya lakukan pada keadaan gawat darurat atau overdosis?

Pada kasus gawat darurat atau overdosis, hubungi penyedia layanan gawat darurat (112) atau segera ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat.

Tanda-tanda overdosis termasuk mual, muntah-muntah, pusing, hilang keseimbangan, mati rasa dan kesemutan, atau kejang-kejang.

Apa yang harus saya lakukan bila melewatkan satu dosis?

Apabila Anda melupakan satu dosis obat ini, minum sesegera mungkin. Namun, bila sudah mendekati waktu dosis berikutnya, lewati dosis yang terlupakan dan kembali ke jadwal dosis yang biasa. Jangan menggandakan dosis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Saat udara dingin, asma seseorang bisa lebih rentan kambuh. Apa yang menyebabkan hal ini? Apa kambuhnya asma berhubungan dengan alergi dingin?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Asma, Kesehatan Pernapasan 13 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Pentingnya Membersihkan Ruangan untuk Penderita Sakit Paru Kronis

Membersihkan ruangan dapat menjadi hal yang sedikit sulit untuk penderita PPOK. Namun jangan khawatir, berikut tips untuk bantu Anda.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Tips Sehat 30 Januari 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Prinsip Pola Hidup Sehat yang Harus Dijalani Penderita Asma

Selain pakai obat, penderita asma juga disarankan untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat guna mencegah gejala sering kambuh. Bagaimana memulainya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kebugaran, Tips Sehat 8 Desember 2019 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

efek samping salep obat kortikosteroid

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 28 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
sesak napas dispnea

Sesak Napas

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 24 Juli 2020 . Waktu baca 9 menit
obat herbal paru-paru kronis

Berbagai Pilihan Obat Herbal untuk Atasi Penyakit Paru-Paru Obstruksi Kronis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 23 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Waspada Komplikasi Akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 7 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit