brand logo
Kategori
Cek Kesehatan
Komunitas
Booking Dokter

Iklan

Bagikan

Apakah Obesitas Memengaruhi Kualitas Sperma? Ini Jawabannya

Hubungan antara obesitas dan kualitas sperma penting dipahami karena berat badan berlebih dapat memengaruhi peluang kehamilan.

Apakah Obesitas Memengaruhi Kualitas Sperma? Ini Jawabannya

Bagi pasangan suami istri yang sedang berusaha untuk mendapatkan momongan, mungkin sering bertanya-tanya apakah obesitas dan kualitas sperma saling memengaruhi? 

Pertanyaan ini wajar muncul, terutama ketika program hamil belum juga membuahkan hasil meski berbagai cara sudah ditempuh. Lantas apa jawabannya?

Apakah obesitas memengaruhi kualitas sperma?

Ya, obesitas mempengaruhi kesuburan pria. Obesitas dapat memengaruhi berbagai aspek dalam keberhasilan kehamilan. Bagi pria, obesitas meningkatkan risiko disfungsi ereksi, masalah prostat, hingga masalah pada sperma. 

Tak sedikit pria yang tidak menyadari hal ini, padahal kualitas sperma yang optimal merupakan kunci penting dalam proses pembuahan. 

Oleh karena itu, memahami hubungan antara obesitas dan kesuburan pria menjadi langkah awal yang penting bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.

Secara umum, kaitan obesitas dan kualitas sperma terjadi melalui gangguan hormon, peningkatan suhu testis, dan stres oksidatif.

Berikut ini berbagai penjelasan mengenai obesitas menyebabkan infertilitas pria berbagai penelitian terbaru.

1. Gangguan hormon

Obesitas pada pria berkaitan erat dengan gangguan hormon reproduksi. Indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi dapat menurunkan kadar testosteron dan meningkatkan kadar estrogen. 

Ketidakseimbangan ini mengganggu kerja hormon hipotalamus, hipofisis, gonad, yang berperan penting dalam pembentukan sperma (spermatogenesis). Akibatnya, jumlah dan kualitas sperma bisa menurun. 

Selain itu, hormon lain seperti SHBG, FSH, dan LH juga cenderung lebih rendah pada pria obesitas sehingga fungsi sel yang membantu pematangan sperma ikut terganggu.

2. Peningkatan suhu testis

Proses pembentukan sperma sangat sensitif terhadap suhu. Suhu ideal testis adalah sekitar 34 – 35°C. Pada pria obesitas, penumpukan lemak di sekitar skrotum dapat meningkatkan suhu testis.

Salah satu penelitian dalam jurnal Andrologia mengatakan bahwa peningkatan suhu ini dapat menurunkan pergerakan sperma, meningkatkan kerusakan DNA sperma, dan memicu stres oksidatif.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kualitas dan fungsi sperma akan menurun. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat meningkatkan risiko infertilitas atau kesulitan memiliki keturunan pada pria dengan obesitas.

3. Sindrom metabolik

Sindrom metabolik, seperti obesitas perut, gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, trigliserida tinggi, dan HDL rendah sering terjadi pada pria obesitas. 

Kondisi ini berhubungan dengan hipogonadisme (kadar testosteron rendah). Testosteron berperan penting dalam produksi sperma dan menjaga fungsi seksual. 

Ketika kadarnya menurun, proses spermatogenesis dapat terganggu, libido menurun, hingga terjadi disfungsi ereksi. 

4. Peningkatan hormon estrogen

Salah satu peneltiian dalam jurnal Hormone and Metabolic Research mengatakan bahwa jaringan lemak berlebih meningkatkan aktivitas enzim aromatase. Enzim ini memiliki peran mengubah testosteron menjadi estrogen. 

Akibatnya, kadar estrogen dalam tubuh pria obesitas meningkat. Semakin banyak jaringan lemak yang dimiliki, semakin tinggi pula proses konversi ini terjadi. Akibatnya, kadar estrogen dalam tubuh pria obesitas meningkat, sedangkan kadar testosteron menurun. 

Ketidakseimbangan ini dikenal sebagai hiperestrogenemia. Kondisi ini membuat hormon perangsang sperma seperti FSH dan LH ikut menurun. Dampaknya, proses pembentukan sperma menjadi kurang optimal, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya.

5. Kerusakan DNA sperma

Obesitas dapat meningkatkan stres oksidatif dalam tubuh, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan antioksidan untuk menetralkannya. 

Pada pria dengan BMI tinggi, peningkatan stres oksidatif ini dapat merusak struktur sel sperma, termasuk materi genetik (DNA) di dalamnya. 

Kerusakan DNA sperma membuat kualitas sperma menurun, baik dari segi kemampuan bergerak (motilitas), bentuk (morfologi), maupun daya tahannya.

Selain itu, merujuk pada salah satu penelitian dalam jurnal Reproductive Health mengatakan bahwa pria obesitas dan kelebihan berat badan memiliki jumlah sperma yang lebih rendah daripada pria yang memiliki berat badan normal.

Cara meningkatkan kesuburan pria obesitas

Meski obesitas dapat memengaruhi kualitas sperma dan keseimbangan hormon, kondisi ini umumnya bisa diperbaiki melalui perubahan gaya hidup yang tepat. 

Berikut beberapa cara meningkatkan kualitas sperma yang bisa diterapkan.

  • Turunkan berat badan secara bertahap. Lakukan secara bertahap dengan pola makan sehat dan olahraga rutin, bukan diet ekstrem.
  • Terapkan pola makan seimbang. Pola makan berperan besar dalam meningkatkan kesuburan pria. Konsumsi makanan yang baik untuk sperma, seperti zinc, vitamin D, asam folat, dan omega-3.
  • Rutin berolahraga. Olahraga membantu meningkatkan kadar testosteron dan menurunkan lemak tubuh. Pilih olahraga intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, atau latihan beban ringan.
  • Jaga suhu testis tetap ideal. Hindari kebiasaan yang meningkatkan suhu di area testis, seperti duduk terlalu lama, berendam air panas, memakai celana ketat.
  • Tidur cukup. Tidur 7– 8 jam per malam penting untuk menjaga produksi testosteron. Jika mengalami gejala sleep apnea seperti mendengkur keras atau sering terbangun di malam hari, sebaiknya konsultasikan ke dokter.
  • Hindari rokok dan alokohol. Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan stres oksidatif dan merusak DNA sperma. Menghentikan kebiasaan ini bisa meningkatkan kualitas sperma dalam waktu beberapa bulan.

Meski obesitas dapat memengaruhi kesuburan pria, kondisi ini bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan perbaikan berat badan, pola hidup sehat, dan pengelolaan kondisi metabolik, peluang kehamilan dapat meningkat secara signifikan.

Jika setelah melakukan berbagai upaya kehamilan belum juga terjadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

medical
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Ditinjau secara medis oleh
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro
Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati · Tanggal diperbarui 28/04/2026