home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Perbedaan Mentega dan Margarin: Mana yang Lebih Sehat?

Perbedaan Mentega dan Margarin: Mana yang Lebih Sehat?

Mentega dan margarin sering kali disalahartikan sebagai produk yang sama, hanya sebutannya saja yang berbeda. Padahal, keduanya merupakan produk yang cukup jauh berbeda. Mulai dari bahan dasar hingga kegunaan, mentega dan margarin memiliki sifatnya masing-masing.

Supaya Anda tidak salah pilih dan akhirnya merugikan kesehatan Anda dan keluarga, simak baik-baik informasi lengkap seputar mentega dan margarin berikut ini.

Apa itu mentega?

Mentega adalah produk yang dibuat dari bahan utama krim atau susu sapi, kambing, atau domba. Mentega juga dikenal dengan nama butter. Di Indonesia sendiri, yang biasanya Anda temui di pasar atau supermarket adalah mentega dari susu sapi.

Susu tersebut telah melalui proses pasteurisasi atau dipanaskan untuk membunuh bakteri dan patogen. Dengan demikian, produk yang dihasilkan pun lebih aman dan tidak cepat basi.

Setelah itu, susu akan diaduk sedemikian rupa hingga bagian lemak yang padat terpisah dari yang cair. Mentega biasanya dijual dalam bentuk batangan atau dalam bentuk lebih cair yang dikemas dalam wadah plastik.

Anda bisa merasakan sendiri bahwa tekstur mentega lembek dan mudah leleh jika tidak disimpan dalam kulkas. Karena tingkat kepadatannya yang ringan, mentega biasanya digunakan sebagai bahan pembuat kue kering atau sebagai olesan roti.

Apabila Anda menggunakan mentega sebagai bahan adonan kue, biasanya tekstur kue yang Anda buat pun akan jadi lebih lembut. Rasa mentega sendiri lebih nikmat dari margarin, mirip seperti susu sapi yang gurih.

Apa itu margarin?

Margarin adalah produk yang dibuat dari minyak sayur (lemak nabati) dan dicampur dengan pengemulsi serta bahan-bahan lain sehingga teksturnya lebih padat dari mentega. Apabila dibiarkan di luar kulkas, margarin cenderung lebih tahan lama dan tidak cepat leleh.

Biasanya margarin digunakan untuk membuat kue basah dan cake agar bisa mengikat adonan lebih baik. Karena terbuat dari minyak, produk ini juga kerap digunakan untuk menggoreng atau menumis.

Selain rasanya yang lebih kuat, margarin tak akan menyisakan minyak yang menempel pada makanan jika dibandingkan dengan minyak goreng biasa. Makanan yang digoreng dengan margarin pun akan terasa lebih renyah.

Mana yang lebih sehat?

Setelah mengetahui perbedaan antara mentega dan margarin, kini tugas Anda adalah mempertimbangkan mana yang paling baik. Memilih produk mana yang lebih sehat antara mentega dan margarin bukanlah urusan yang mudah.

Setiap merek memiliki kandungan dan bahan tambahan yang berbeda-beda sehingga Anda tetap harus memerhatikan baik-baik informasi gizi dan komposisi yang tercantum pada kemasan. Akan tetapi jika dilihat dari bahan dasarnya, margarin cenderung lebih aman bagi kesehatan Anda dan keluarga.

Tak seperti mentega yang terbuat dari susu sapi, margarin tidak mengandung lemak hewani. Maka, kolesterol dan lemak yang terkandung dalam margarin tak setinggi mentega.

Sebesar 80% dari mentega sendiri terdiri dari lemak hewani, yaitu lemak jenuh dan lemak trans. Kedua jenis lemak ini bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan berisiko menyebabkan berbagai penyakit jantung.

Selain itu, lemak trans juga akan mengurangi kadar kolesterol baik (HDL) sehingga kadar kolesterol Anda jadi tidak stabil dan seimbang. Satu sendok makan mentega sudah memenuhi sejumlah 35% dari kebutuhan lemak jenuh harian Anda.

Maka, Anda sebaiknya memerhatikan takaran mentega yang Anda konsumsi dalam satu hari, terutama jika Anda memiliki masalah jantung atau sedang berusaha menurunkan berat badan.

Dibandingkan dengan mentega, margarin yang terbuat dari minyak nabati justru kaya akan lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan. Lemak tak jenuh berfungsi untuk menurunkan jumlah kolesterol jahat (LDL).

Lemak yang terdapat dalam margarin juga kaya akan asam lemak omega-3 dan omega-6 yang baik untuk menjaga fungsi otak dan mengurangi faktor risiko untuk berbagai penyakit seperti jantung, diabetes, asma, dan sakit ginjal.

Namun, perlu dicatat bahwa beberapa produk margarin mengandung lemak trans yang jahat bagi kadar kolesterol Anda.

Tips memilih mentega dan margarin terbaik

Karena tiap merek menawarkan kandungan yang berbeda-beda, Anda harus cermat dalam memilih produk yang paling sehat. Semakin padat mentega dan margarin yang Anda beli, semakin tinggi juga kadar lemaknya.

Sebisa mungkin pilihlah mentega dan margarin yang dikemas dalam wadah plastik, bukan dalam bentuk batangan.

Perhatikan apabila ada tulisan “whipped” pada kemasan mentega. Itu berarti mentega tersebut sudah dikocok sehingga teksturnya lebih ringan dan berbusa.

Mentega yang dikocok mengandung lebih banyak udara dan lemak yang lebih sedikit hingga 50%. Namun, mentega jenis ini terkadang tidak bisa digunakan sebagai bahan adonan kue tertentu.

Ketika Anda hendak membeli margarin, carilah produk yang mencantumkan keterangan “bebas lemak trans”. Meskipun masih mengandung lemak tak jenuh dan kolesterol, paling tidak kadarnya lebih sedikit.

Pada akhirnya, memilih mentega dan margarin yang terbaik perlu disesuaikan dengan kebutuhan Anda sendiri. Jika Anda mengidap penyakit jantung atau gangguan serupa, konsultasikan dengan dokter mana pilihan terbaik yang aman dan sehat bagi Anda.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Which spread is better for my health – butter or margarine? http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/expert-answers/butter-vs-margarine/faq-20058152 Diakses pada 7 November 2016.

Butter vs.Margarine: How to Choose. http://www.health.com/health/gallery/0,,20509217,00.html Diakses pada 7 November 2016.

The Difference Between Butter and Margarine. http://www.fitday.com/fitness-articles/nutrition/healthy-eating/the-difference-between-butter-and-margarine.html Diakses pada 7 November 2016.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 25/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan