Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

6 Manfaat Oyong, Melindungi Fungsi Hati hingga Obati Diabetes

6 Manfaat Oyong, Melindungi Fungsi Hati hingga Obati Diabetes

Sayuran hijau memiliki manfaat memenuhi kebutuhan serat harian yang diperlukan oleh tubuh. Gambas atau oyong (Luffa acutangula L.) bisa menjadi salah satu pilihan sayuran hijau itu. Apa saja manfaat oyong? Apa saja zat gizi yang dimiliki oleh gambas? Berikut ini ulasannya.

Kandungan gizi pada gambas

Gambas adalah tanaman yang umumnya tumbuh di wilayah subtropis Asia. Tanaman ini banyak dibudidayakan di India, Asia Tenggara, Cina, Jepang, Mesir, dan bagian lain Afrika.

Gambas ini dapat diolah menjadi masakan seperti dibuat menjadi sayur oyong yang sehat dan lezat.

Selain itu, sayuran ini juga memiliki beragam zat gizi yang bermanfaat bagi kesehatan.

Berdasarkan data dari Data Komposisi Pangan Indonesia yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, setidaknya dalam 100 gram oyong terkandung zat gizi seperti berikut ini.

  • Kalori : 19 kkal
  • Protein : 0,8 gram (g)
  • Lemak : 0,2 g
  • Karbohidrat : 4,1 g
  • Serat : 1,3 g
  • Kalsium : 19 miligram (mg)
  • Fosfor : 33 mg
  • Besi : 0,9 mg
  • Natrium : 23 mg
  • Kalium : 109,1 mg
  • Seng : 0,1 mg
  • Beta-Karoten : 17 mcg
  • Vitamin B1 : 0,03 mg
  • Niasin : 0,4 mg
  • Vitamin C : 8 mg

Kemudian data Kementerian Pertanian menyebut gambas memiliki kandungan Vitamin A sebanyak 380 SI (satuan internasional).

Oleh karena itu, manfaat gambas dapat bervariasi dari mengobati rinitis alergi, antiradang, dan mencegah berbagai penyakit.

Jurnal Frontiers in Pharmacology lebih lanjut menerangkan bahwa sayuran ini juga mengandung sejumlah kecil antioksidan seperti antrakuinon dan flavonoid yang membantu memerangi radikal bebas.

Manfaat oyong bagi kesehatan

manfaat oyong gambas

Gambas adalah salah satu jenis sayuran rendah kalori karena tidak mengandung lemak jenuh atau kolesterol.

Oleh karena itu, gambas kerap direkomendasikan sebagai menu diet untuk menurunkan berat badan.

Manfaat oyong lainnya bisa Anda ketahui dalam penjelasan berikut ini.

1. Melindungi fungsi liver (hati)

Studi dalam Frontiers in Pharmacology melaporkan potensi terapi gambas terhadap penyakit hati (liver). Ekstrak etanol gambas menunjukkan aktivitas pelindung hati yang signifikan.

Sayuran ini secara signifikan mengurangi SGPT dan SGOT (enzim untuk mencerna lemak protein), bilirubin, kolesterol, trigliserida, protein total, dan albumin.

Meski demikian, efek pelindung hati ini masih perlu dipelajari secara lebih luas karena penelitian pada manusia belum dilakukan.

Pengujian baru sebatas kultur sel atau jaringan (in vitro) dan pengujian pada hewan (in vivo) di laboratorium.

Oleh karena itu, manfaat oyong layak dipertimbangkan untuk pengobatan penyakit hati pada manusia.

2. Mengatasi peradangan

Penjelasan dari temuan penelitian di atas juga menyebutkan bahwa oyong memiliki kandungan flavonoid yang berguna sebagai anti-inflamasi atau antiradang.

Flavonoid sendiri termasuk senyawa antioksidan yang biasanya terkandung dalam buah-buahan atau sayuran.

Selain itu, biji gambas juga bersifat analgesik, artinya dapat menghilangkan nyeri.

Dalam percobaan, flavonoid dalam oyong yang diekstrak dalam etanol menunjukkan aktivitas anti-inflamasi yang signifikan pada dosis 300 mg/kg sedangkan aktivitas analgesik pada dosis 400 mg/kg.

3. Melawan infeksi bakteri

fakta seputar antibiotik

Beberapa penelitian terbaru menyoroti manfaat ekstrak oyong untuk mencegah pertumbuhan mikroba.

Penelitian dari International Journal of Pharma and Bio Sciences menemukan nanopartikel yang dibuat dari larutan ekstrak daun gambas memiliki aktivitas antimikroba yang signifikan untuk melawan bakteri.

Potensi antimikroba dari hasil uji in vitro dapat menghambat infeksi bakteri E. coli dan Staphylococcus aureus (penyebab keracunan makanan).

Hasil tersebut didapatkan dari percobaan ekstrak metanol buah, biji, daun, dan akar tanaman gambas.

Hasil penelitian juga menunjukkan ekstrak buah dan daun gambas dapat menghambat perkembangan bakteri Klebsiella pneumoniae (penyebab pneumonia).

4. Menekan perkembangan kanker

Penelitian terbaru dari Biomedicine & Preventive Nutrition memperlihatkan ekstrak metanol oyong mengurangi perkembangan tumor ganas pada tikus secara signifikan.

Peneliti juga mengamati efek penghambatan ekstrak etanol daun gambas juga pada garis sel kanker paru-paru manusia.

Hasil penelitian pada hewan ini menunjukkan secara signifikan meningkatkan kematian sel kanker.

Namun, penelitian belum bisa mengumpulkan bukti yang cukup bahwa gambas punya manfaat mengambat perkembangan kanker.

Riset masih berupa pengujian awal sehingga peneliti belum bisa menarik kesimpulan apa pun.

5. Mengobati rinitis alergi

Penelitian dari Research in Complementary Medicine melakukan uji klinis terhadap 146 pasien rawat jalan rinitis alergi atau hay fever.

Riset ini menguji pemberian obat homeopati (pengobatan herbal) dengan kandungan gambas.

Obat yang digunakan adalah obat semprot hidung (nasal spray) yang juga mengandung Galphimia glauca (Hujan Emas), histamin, dan belerang.

Obat diberikan pada pasien dengan dosis 4 kali sehari selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan efek pengobatan yang cepat dan tahan lama.

Selain itu, pengobatan ini dapat ditoleransi dengan baik seperti terapi konvensional dengan natrium kromolin (obat antialergi).

6. Diabetes

pola makan diabetes tipe 1

Manfaat gambas berikutnya adalah sebagai pengobatan diabetes. Hal ini ditemukan lewat beberapa studi uji laboratorium pada tikus.

Penelitian-penelitian itu menyelidiki efek pemberian oral ekstrak etanol biji gambas pada kadar glukosa darah pada tikus sehat dan tikus dengan diabetes.

Hasil penelitian menunjukkan ekstrak biji oyong mengurangi kadar glukosa dengan potensi yang mirip dengan metformin (obat antidiabetes oral).

Hasil aktivitas antidiabetes mendukung penggunaan gambas sebagai agen antidiabetes.

Meskipun memiliki efek antidiabetes, efeknya pada manusia masih belum memuaskan dan masih harus dipelajari lebih lanjut.

Sayur oyong tidak hanya lezat disajikan sebagai santapan, tetapi juga menyehatkan. Ada beberapa manfaat gambas yang bisa Anda dapatkan dengan mengonsumsi sayuran ini.

Meski demikian, sesuaikan konsumsi oyong dengan kebutuhan kalori Anda agar mendapat zat gizi yang seimbang.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Moideen, R., and Prabha, A. (2014). Green synthesis of silver nano particles using Luffa acutangula roxb. var. amara. lin and its antibacterial activity. Int. J. Pharm. Bio Sci, 5, 1051–1061. E-ISSN 2348-1269, P- ISSN 2349-5138.

Quanico, J., Amor, E., and Perez, G. (2008). Analgesic and hypoglycemic activities of Bixa orellana, Kyllinga monocephala and Luffa acutangula. Philipp. J. Sci. 137, 69–76. ISSN 0031 – 7683.

Pimple, B., Kadam, P., and Patil, M. (2012). Protective effect of Luffa acutangula extracts on gastric ulceration in NIDDM rats: role of gastric mucosal glycolproteins and antioxidants. Asian Pac. J. Trop. Med. 5, 610–615. doi: 10.1016/ S1995-7645(12)60126-6.

S, Manikandaselvi & Vadivel, V. & Brindha, Pemaiah. (2016). Review on Luffa acutangula L.: Ethnobotany, Phytochemistry, Nutritional Value and Pharmacological Properties. International Journal of Current Pharmaceutical Review and Research, 7. 151-155. ISSN: 0976 822X

Sharmin, R., Khan, M., Akhter, M., Alim, A., Islam, M., Anisuzzaman, A., et al. (2013). Hypoglycemic and hypolipidemic effects of cucumber, white pumpkin and ridge gourd in alloxan induced diabetic rats. J. Sci. Res. 5, 161–170. doi: 10.3329/jsr.v5i1.10252.

Shendge, Parshuram Nivrutti; Belemkar, Sateesh  (2018). Therapeutic Potential of Luffa acutangula: A Review on Its Traditional Uses, Phytochemistry, Pharmacology and Toxicological Aspects. Frontiers in Pharmacology, 9, 1177. doi:10.3389/fphar.2018.01177.

Vanajothi, R., Sudhaa, A., Manikandanb, R., Rameshthangamc, P., and Srinivasana, P. (2012). Luffa acutangula and Lippia nodiflora leaf extract induces growth inhibitory effect through induction of apoptosis on human lung cancer cell line. Biomedicine & Preventive Nutrition. 2, 287–293. doi:10.1016/j.bionut.2012.03.002.

Weiser, M.; Gegenheimer, L.H.; Klein, P. (1999). A Randomized Equivalence Trial Comparing the Efficacy and Safety of Luffa comp.-Heel Nasal Spray with Cromolyn Sodium Spray in the Treatment of Seasonal Allergic Rhinitis. Forschende Komplement?rmedizin und Klassische Naturheilkunde / Research in Complementary and Classical Natural Medicine, 6(3), 142–148. doi:10.1159/000021239.

Data Komposisi Pangan Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved March 14, 2022, from http://panganku.org/id-ID/view 

Luffa. (2021). Drugs.com. Retrieved March 14, 2022, from https://www.drugs.com/npp/luffa.html 

Sayuran Indigenous: alternatif sumber pangan bernilai gizi tinggi. (2010). Badan Litbang Kementerian Pertanian.  Retrieved March 14, 2022, from http://hortikultura.litbang.pertanian.go.id/IPTEK/Soetiarso_indigenous.pdf 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui Apr 04
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan