Sebagian orang mengenal daun kelor sebagai bahan makanan dan obat tradisional. Manfaat daun kelor untuk menjaga kesehatan tubuh pun telah dikenal selama ribuan tahun. Simak pembahasan berikut ini untuk mengetahui kandungan dan khasiat selengkapnya.
Sebagian orang mengenal daun kelor sebagai bahan makanan dan obat tradisional. Manfaat daun kelor untuk menjaga kesehatan tubuh pun telah dikenal selama ribuan tahun. Simak pembahasan berikut ini untuk mengetahui kandungan dan khasiat selengkapnya.


Kelor (Moringa oleifera) adalah tanaman yang tumbuh di daerah tropis, termasuk di Indonesia. Tak hanya daunnya, biji kelor juga sering dimanfaatkan untuk tujuan kesehatan.
Khasiat daun kelor berasal dari kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi, terutama vitamin C, zat besi, kalium, dan protein. Berbagai zat gizi ini mendukung pertumbuhan tubuh Anda.
Tidak hanya itu, tanaman kelori juga menjadi salah satu sumber antioksidan yang penting bagi tubuh.
Dikutip dari laman Data Komposisi Pangan Indonesia, dalam 100 gram daun kelor segar terdapat kandungan gizi seperti berikut.

Berkat kandungan zat gizinya yang melimpah, daun kelor memiliki beragam manfaat kesehatan sayang untuk Anda lewatkan. Di bawah ini beberapa contohnya.
Daun kelor kaya antioksidan, yakni senyawa yang akan melawan radikal bebas di dalam tubuh, meningkatkan kekebalan, dan melindungi tubuh dari berbagai masalah kesehatan.
Tingkat radikal bebas yang tinggi bisa memicu stres oksidatif. Kondisi ini juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Moringa oleifera kaya akan antioksidan kuat, seperti kuersetin. Senyawa ini bisa meningkatkan produksi oksida nitrat yang baik untuk kesehatan jantung.
Pengidap diabetes juga bisa merasakan manfaat dari daun kelor. Beberapa studi menemukan bahwa daun kelor dapat mengatur kadar gula darah dan mengatur kerja hormon insulin.
Sebuah studi dalam Journal of Food Science and Technology (2012) menguji kadar gula darah pada 30 wanita yang mengonsumsi 7 gram bubuk daun moringa setiap hari selama tiga bulan.
Hasilnya, kadar gula darah puasa rata-rata menurun 13,5 persen. Para peneliti memperkirakan manfaat ini berasal dari kandungan isotiosianat, senyawa antioksidan dari daun kelor.

Peradangan merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau cedera. Akan tetapi, peradangan yang terjadi dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan bahkan kanker.
Daun kelor memiliki kandungan isotiosianat yang bersifat anti-inflamasi (antiradang). Senyawa ini mungkin dapat membantu meringankan peradangan yang terjadi dalam tubuh.
Meski begitu, sifat anti-inflamasi ini masih terbatas dalam penelitian laboratorium saja. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menilai manfaatnya pada manusia.
Daun kelor memiliki kandungan beta karoten yang penting untuk kesehatan mata. Beta karoten sendiri merupakan senyawa dasar yang akan diubah menjadi vitamin A dalam tubuh.
Vitamin ini merupakan salah satu antioksidan yang bisa menghambat dampak stres oksidatif pada mata.
Khasiat daun kelor untuk mata yang punya beta karoten tinggi ini membantu menurunkan risiko penyakit mata yang berkaitan dengan usia, seperti katarak dan degenerasi makula.
Disfungsi ereksi atau impotensi bisa disebabkan oleh terhambatnya aliran darah menuju penis. Salah satu penyebab gangguan ini ialah tingginya kadar lipid (lemak) darah.
Kadar lipid darah yang berlebihan biasanya ditemukan pada pengidap diabetes atau kolesterol tinggi yang memang berisiko tinggi terkena impotensi.
Daun kelor bermanfaat mengendalikan kadar lipid dalam darah. Tanaman ini juga membantu mencegah penyumbatan pada pembuluh arteri sehingga aliran darah lancar ke seluruh tubuh, termasuk ke penis.

Daun kelor merupakan salah satu makanan ASI booster yang telah banyak digunakan untuk mendorong dan meningkatkan produksi ASI selama periode menyusui.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One (2021) menguji pemberian ekstrak daun kelor untuk mengetahui manfaatnya dalam meningkatkan produksi ASI.
Hasilnya, wanita yang mengonsumsi suplemen ini memiliki lebih banyak ASI pada hari ke-3 hingga ke-10 pascapersalinan dibandingkan wanita yang menggunakan plasebo.
Studi laboratorium telah menunjukkan ekstrak tanaman kelor, baik itu daun, kulit kayu, maupun akarnya, mempunyai sifat antikanker. Ini membantu melawan sel kanker payudara dan kolorektal (usus besar dan rektum).
Manfaat daun kelor ini juga terkait dengan senyawa antioksidan di dalamnya, seperti eugenol dan isotiosianat, yang membantu mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas.
Penelitian ini masih dalam tahap awal. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan tanaman kelor sebagai obat baru dalam pengobatan penyakit kanker.
Selain manfaat tradisional daun kelor yang sudah dibahas, riset ilmiah terbaru (pada 2024-2025) semakin menegaskan bahwa kandungan fitokimia dalam daun kelor (seperti flavonoid, alkaloid, polisakarida, dan karotenoid) memiliki aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, antimikroba, dan perlindungan hati (hepatoprotektif) yang menjanjikan sebagai bagian dari gaya hidup sehat modern.
Studi tinjauan ilmiah menunjukkan bahwa senyawa-senyawa ini bekerja melalui berbagai mekanisme biologis untuk membantu menetralkan radikal bebas, meredakan peradangan, mendukung sistem kekebalan, serta menjaga kesehatan sel dan jaringan tubuh secara umum. Penelitian juga mengamati potensi cardioprotective (menjaga kesehatan jantung) dan sifat antidiabetik dalam model praklinis.
Namun, perlu dicatat bahwa masih diperlukan uji klinis lebih lanjut pada manusia untuk memastikan efek-efek ini dalam konteks kesehatan sehari-hari.

Anda bisa mengonsumsi daun kelor mentah sebagai lalapan. Namun, pastikan untuk mencuci dengan air mengalir sampai benar-benar bersih terlebih dahulu.
Sebagian orang biasanya membuat sayur bening atau menumis daun kelor. Pastikan Anda tidak memasak sayuran ini terlalu lama agar kandungan gizinya tidak terbuang sia-sia.
Daun kelor juga tersedia dalam bentuk bubuk atau kapsul. Dosis harian suplemen yang disarankan ialah 6–10 gram atau setara dengan 1–2 sendok teh per hari.
Apabila Anda berniat memakai ekstrak daun kelor sebagai obat herbal alami, lebih baik konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda terlebih dahulu.
Pasalnya, penggunaan secara berlebihan atau bersamaan dengan obat lain dapat meningkatkan risiko efek samping yang merugikan bagi diri Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Data Komposisi Pangan Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Retrieved 8 September 2022, from https://www.panganku.org/id-ID/view
Fungtammasan, S., & Phupong, V. (2021). The effect of Moringa oleifera capsule in increasing breastmilk volume in early postpartum patients: A double-blind, randomized controlled trial. PLOS ONE, 16(4), e0248950. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0248950
Aekthammarat, D., Tangsucharit, P., Pannangpetch, P., Sriwantana, T., & Sibmooh, N. (2020). Moringa oleifera leaf extract enhances endothelial nitric oxide production leading to relaxation of resistance artery and lowering of arterial blood pressure. Biomedicine & pharmacotherapy = Biomedecine & pharmacotherapies, 130, 110605. https://doi.org/10.1016/j.biopha.2020.110605
Al-Asmari, A., Albalawi, S., Athar, M., Khan, A., Al-Shahrani, H., & Islam, M. (2015). Moringa oleifera as an Anti-Cancer Agent against Breast and Colorectal Cancer Cell Lines. PLOS ONE, 10(8), e0135814. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0135814
Ganeshpurkar, A., Kurmi, R., Bansal, D., Agnihotri, A., & Dubey, N. (2014). Ethanol extract of Moringa oliefera prevents in vitro glucose induced cataract on isolated goat eye lens. Indian Journal Of Ophthalmology, 62(2), 154. https://doi.org/10.4103/0301-4738.116482
Kushwaha, S., Chawla, P., & Kochhar, A. (2012). Effect of supplementation of drumstick (Moringa oleifera) and amaranth (Amaranthus tricolor) leaves powder on antioxidant profile and oxidative status among postmenopausal women. Journal Of Food Science And Technology, 51(11), 3464-3469. https://doi.org/10.1007/s13197-012-0859-9
Mbikay, M. (2012). Therapeutic Potential of Moringa oleifera Leaves in Chronic Hyperglycemia and Dyslipidemia: A Review. Frontiers In Pharmacology, 3. https://doi.org/10.3389/fphar.2012.00024
Cheenpracha, S., Park, E. J., Yoshida, W. Y., Barit, C., Wall, M., Pezzuto, J. M., & Chang, L. C. (2010). Potential anti-inflammatory phenolic glycosides from the medicinal plant Moringa oleifera fruits. Bioorganic & medicinal chemistry, 18(17), 6598–6602. https://doi.org/10.1016/j.bmc.2010.03.057
“Moringa 360: A Comprehensive Review of Its Nutritional …” Phytochemistry Reviews, 2025, https://link.springer.com/article/10.1007/s11101-025-10178-7.
Ravikumar et al. “Pharmacological Investigation and Health Benefits of Moringa oleifera,” VISTAS Research Repository, 2025, https://ir.vistas.ac.in/10009/1/5.47513.pdf.
Versi Terbaru
11/02/2026
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Wicak Hidayat
Ditinjau secara medis oleh
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro