Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Meski Beracun, Ternyata Ikan Buntal Bisa Dikonsumsi

Meski Beracun, Ternyata Ikan Buntal Bisa Dikonsumsi

Satu jenis ikan yang sebenarnya mematikan adalah ikan buntal. Meski merupakan hewan kedua yang paling mematikan, ikan dengan nama lain fugu ini kerap disajikan di restoran Jepang. Lantas, mengapa ikan ini membahayakan bagi kesehatan?

Mengapa ikan buntal mematikan?

Makan ikan buntal bisa mengancam nyawa manusia karena kandungan racunnya, yakni tetrodotoxin (TTX) dan saxitoxin (STX). Kedua racun ini menyerang sistem saraf pusat,

Mengutip buku Encyclopedia of Toxicology (2014), kedua racun ini akan mengikat saluran natrium pada saraf dan otot. Hal ini akan mengganggu sinyal pada saraf.

Gangguan saraf ini membuat otot melemah. Tidak hanya otot pada anggota gerak, otot pada organ lain pun bermasalah.

Lebih jauh, makan ikan buntal bisa menimbulkan bahaya yang mengancam nyawa.

Meski ikan buntal beracun, ada cara pengolahan khusus yang membuatnya aman dikonsumsi.

Derajat keracunan ikan buntal

Sebelum mengetahui pengolahan ikan buntal yang aman, Anda perlu memahami tanda-tanda keracunan ikan buntal.

Ikan fugu yang beracun ini tidak langsung menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Ada beberapa fase yang akan dialami tubuh.

Fase ini akan dibagi menjadi beberapa derajat keparahan. Semakin tinggi kadar racun, semakin tinggi derajat keracunan.

Gejala keracunan ikan fugu bisa muncul dalam waktu 20 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsinya.

Inilah beberapa derajat keracunan ikan buntal.

1. Derajat 1

Gejala yang muncul adalah sebagai berikut.

  • Mati rasa, kesemutan, rasa nyeri tertusuk, dan sensasi terbakar pada bagian mulut dan bibir, lalu menjalar ke bagian tangan dan kaki.
  • Gejala masalah pencernaan.

2. Derajat 2

Pada derajat 2, Anda akan mengalami kondisi berikut setelah mengonsumsi ikan fugul.

  • Mati rasa pada wajah dan area tubuh lainnya.
  • Muncul tanda-tanda kelumpuhan dini.
  • Gerak tubuh terganggu.
  • Sulit berbicara dan terdengar cadel, tetapi refleks tubuh masih normal.

3. Derajat 3

Inilah beberapa gejala keracunan ikan fugu pada derajat 3.

  • Otot semakin melemah dan tidak mampu berkontraksi tanpa alasan jelas.
  • Gagal napas.
  • Tidak bisa bersuara karena gangguan saraf laring.
  • Pupil pada mata melebar dan pasien tetap dalam keadaan sadar.

4. Derajat 4

Kondisi ini merupakan keracunan ikan kembung yang paling parah. Inilah gejala yang harus diwaspadai.

  • Gagal napas berat.
  • Kekurangan oksigen.
  • Tekanan darah rendah.
  • Denyut jantung istirahat yang rendah (bradikardia).
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Kehilangan kesadaran hingga kematian.

Pertolongan Pertama Keracunan Ikan Buntal

  1. Jauhkan ikan buntal dari korban.
  2. Cegah orang lain agar tidak mengonsumsi ikan untuk mencegah korban lainnya.
  3. Jangan membuat korban muntah.
  4. Berikan oksigen tambahan.
  5. Hubungi nomor ambulans dan bawa pasien ke rumah sakit segera.

Bagaimana cara mengolah ikan buntal?

Cara mengolah ikan kembung

Kedua jenis racun ikan fugu ditemukan di liver, usus, kulit, serta kelenjar reproduksi.

Oleh karena itu, cara menghilangkan racunnya hanya dengan membuang bagian-bagian tersebut dengan hati-hati.

Proses menghilangkan racunnya pun hanya bisa dilakukan oleh juru masak andal yang sudah lolos berbagai jenis tes.

Selain itu, juru masak harus memiliki lisensi untuk mengolah ikan buntal beracun ini sehingga hanya bisa menikmatinya di restoran Jepang khusus.

Hal ini berarti bahwa Anda tidak bisa membeli ikan fugu sembarangan dan memasak di rumah.

Jika Anda tetap memaksa mengolahnya di rumah, proses pemanasan pun tidak akan menghilangkan kedua racun mematikan tersebut.

Terlebih, jika Anda menyimpannya di lemari pembeku dan mencairkannya sebelum diolah, racun justru berpindah ke dalam daging ikan.

Apa saja kandungan dan manfaat ikan buntal?

Jika sudah diolah dan siap dikonsumsi dengan aman, ternyata makan ikan buntal memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan tubuh.

Tentu, manfaat ini didapatkan dari kandungan gizinya. Apa saja?

1. Protein

Otot ikan buntal merupakan sumber protein yang melimpah. Asupan protein tentu penting agar tubuh bisa bekerja dengan optimal.

Lantas, mengapa tubuh membutuhkan asupan protein? Inilah alasannya.

  • Membangun tulang, otot, kulit, dan rambut.
  • Memperbaiki jaringan yang rusak.
  • Menjaga produksi enzim pencernaan untuk membantu proses pencernaan asupan makanan.
  • Mengatur kinerja hormon.
  • Memberikan pasokan hemoglobin pada sel darah merah agar bisa membawa oksigen dan zat gizi ke seluruh tubuh.
  • Mengurangi rasa lapar dan meningkatkan sensasi kenyang.

2. Leusin

Ikan buntal juga kaya akan leusin, yakni salah satu jenis asam amino. Ternyata, asam amino merupakan zat yang menyusun pembentukan protein.

Jadi, ada beberapa fungsinya yang menyerupai protein, seperti membangun dan memperbaiki otot.

Asupan leusin yang mencukupi pun membantu mengurangi risiko pengecilan otot pada lansia. Tak hanya itu, leusin pun membantu mengendalikan kadar gula darah.

Dalam hal ini, leusin bekerja dengan cara membantu menyerap glukosa ke dalam sel otot dan membuat tubuh merespons insulin lebih baik.

3. Asam lemak

Asam lemak yang paling banyak ditemukan pada ikan fugu adalah asam butirat. Sebenarnya, asam butirat ini biasanya dihasilkan oleh tubuh setelah mencerna serat dan pati resisten.

Asam butirat memberikan energi untuk sel-sel pada usus besar.

Penelitian terbitan Neuroscience Letters (2017) bahkan menyatakan bahwa asam butirat ini bisa memberikan energi untuk usus besar hingga 70% dari keseluruhan kebutuhan energi.

Jika energi tercukupi, usus besar bisa bekerja dengan optimal, seperti:

  • menyerap air dan mineral elektrolit,
  • memproduksi dan menyerap vitamin, serta
  • mengumpulkan dan mengeluarkan feses.

Ikan fugu pada dasarnya adalah ikan yang membahayakan manusia. Racunnya bisa menyebabkan kegagalan organ hingga menyebabkan kematian.

Ikan ini hanya bisa dikonsumsi jika diolah dengan tepat. Tidak sembarangan, orang yang bisa memasaknya hanyalah juru masak dengan sertifikasi khusus.

Jadi, Anda tidak bisa melakukan proses memasak sendiri di rumah sehingga bisa menikmatinya di restoran Jepang khusus saja.

Verifying...
health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Advisory on Puffer Fish. (2022). Retrieved 6 May 2022, from https://www.fda.gov/food/alerts-advisories-safety-information/advisory-puffer-fish

Gad, S. (2014). Encyclopedia of Toxicology (Third Edition), 218-220. doi: 10.1016/b978-0-12-386454-3.00925-8

Bane, V., Lehane, M., Dikshit, M., O’Riordan, A., & Furey, A. (2014). Tetrodotoxin: Chemistry, Toxicity, Source, Distribution and Detection. Toxins, 6(2), 693-755. doi: 10.3390/toxins6020693

Çaklı, Şükran, Yılmaz, Evren Burcu Şen. (2017). Pufferfish Processing. Natural and Engineering Sciences. Retrieved 6 May 2022, from https://www.nesciences.com/download.php?id=325

Why Is Protein Important In Your Diet? | Piedmont Healthcare. (2022). Retrieved 6 May 2022, from https://www.piedmont.org/living-better/why-is-protein-important-in-your-diet

Farrag, M., El-Far, A., Aly, W., AbouelFadl, K., Nasr-Allah, A., El-Geddawy, M., & Charo-Karisa, H. (2022). Nutritional values vs. Toxicity assessment of pufferfish, Tetraodon lineatus (Linnaeus, 1758), from Lake Nasser, Egypt. The Egyptian Journal of Aquatic Research, 48(1), 53-59. doi: 10.1016/j.ejar.2021.11.009

Casperson, S., Sheffield-Moore, M., Hewlings, S., & Paddon-Jones, D. (2012). Leucine supplementation chronically improves muscle protein synthesis in older adults consuming the RDA for protein. Clinical Nutrition, 31(4), 512-519. doi: 10.1016/j.clnu.2012.01.005

Liu, H., Liu, R., Xiong, Y., Li, X., Wang, X., & Ma, Y. et al. (2014). Leucine facilitates the insulin-stimulated glucose uptake and insulin signaling in skeletal muscle cells: involving mTORC1 and mTORC2. Amino Acids, 46(8), 1971-1979. doi: 10.1007/s00726-014-1752-9

Yang, J., Dolinger, M., Ritaccio, G., Mazurkiewicz, J., Conti, D., Zhu, X., & Huang, Y. (2012). Leucine Stimulates Insulin Secretion via Down-regulation of Surface Expression of Adrenergic α2A Receptor through the mTOR (Mammalian Target of Rapamycin) Pathway. Journal of Biological Chemistry, 287(29), 24795-24806. doi: 10.1074/jbc.m112.344259

Azzouz, L., & Sharma, S. (2021). Physiology, Large Intestine. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507857/

Centers for Disease Control and Prevention. (2011, May 12). Tetrodotoxin: Biotoxin. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved May 6, 2022, from https://www.cdc.gov/niosh/ershdb/emergencyresponsecard_29750019.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui 4 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan