Nutrigenomik: Mengonsumsi Makanan Sesuai Dengan Gen Anda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Ada orang yang sering makan banyak namun tidak mudah gemuk, ada juga yang sebaliknya. Atau ada orang yang sering mengonsumsi suatu bahan makanan kemudian tidak mengalami efek samping akibat makan makanan tersebut, tapi ada juga yang baru makan sedikit saja langsung merasakan efek sampingnya. Mengapa hal itu terjadi?

Setiap manusia berbeda-beda, tidak hanya sifat dan bentuk fisiknya, namun juga gen dan bahkan metabolisme yang terjadi. Oleh karena itu, masing-masing orang memiliki sensitivitas serta daya pencernaan yang berbeda-beda. Suatu ilmu baru yang muncul, mengaitkan diet atau apa yang kita makan, dan hubungannya dengan gen dan DNA yang mengatur fungsi tubuh. Ilmu tersebut disebut dengan nutrigenomik.

Apa itu nutrigenomik?

Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari respon gen terhadap makanan yang Anda makan, yang bertujuan untuk mengetahui secara dini perubahan apa yang akan terjadi setelah makanan itu masuk ke dalam tubuh. Nutrigenomik juga dikaitkan dengan kejadian berbagai penyakit yang dapat disebabkan oleh makanan.

Pada tahun 2001, ilmuwan yang melakukan Human Genome Project menyatakan bahwa gen manusia telah berhasil dipetakan, sehingga dapat diketahui interaksi antara gen dengan makanan dan lingkungan, serta interaksi gen yang berhubungan dengan berbagai penyakit kronis. Nutrigenomik dianggap sebagai kebutuhan zat gizi setiap individu berdasarkan gen yang dimilikinya. Terdapat 5 prinsip yang melandasi ilmu ini, yaitu

  • Zat makanan berpengaruh pada gen manusia, walaupun pengaruhnya terjadi langsung maupun tak langsung.
  • Pada kondisi tertentu, diet atau zat makanan yang dimakan adalah faktor risiko penyebab timbulnya suatu penyakit.
  • Zat gizi yang terdapat pada makanan mempunyai pengaruh besar untuk membuat tubuh sehat atau pun sakit, hal ini tergantung dengan susunan genetik masing-masing individu.
  • Beberapa gen dalam tubuh, yang jumlah serta strukturnya diatur dan dipengaruhi oleh diet, dapat mempengaruhi tingkat keparahan suatu penyakit kronis.
  • Konsumsi makanan yang didasarkan dari kebutuhan masing-masing individu, ternyata dapat digunakan untuk mencegah, mengatasi, serta menyembuhkan berbagai penyakit kronis.

Setiap orang memiliki gen yang berbeda-beda, setidaknya satu dengan yang lain memiliki perbedaan gen sebesar 0,1%. Dalam nutrigenomik, makanan yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai sinyal yang dapat mempengaruhi aktivitas gen pada tubuh. Selain itu, makanan juga diketahui bisa mengubah struktur gen sehingga dapat menimbulkan berbagai gangguan pada tubuh jika gen berubah.

Hubungan makanan dan gen pada metabolisme lemak

Sebuah penelitian telah membuktikan bahwa terdapat hubungan dan interaksi antara zat gizi dengan gen saat melakukan metabolisme lemak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki gen tertentu (gen alel APOA1*A) memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang memiliki gen lain (gen alel APOA1*G) setelah mengonsumsi makanan yang tinggi lemak tidak jenuh tunggal, seperti alpukat, minyak kanola, minyak zaitun, dan beberapa kacang-kacangan.

Pada awalnya, kadar LDL pada orang yang memiliki gen alel APOA1*A hanya 12% kemudian setelah mengonsumsi sumber makanan tersebut, kadar LDLnya meningkat menjadi 22%. Peningkatan kadar LDL pada tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti, diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung koroner, dan penyakit jantung lainnya.Penelitian lain juga membuktikan bahwa dengan mengonsumsi makanan yang mengandung lemak tidak jenuh ganda, seperti minyak ikan, kacang kedelai, dan minyak kelapa, pada individu dengan gen tertentu dapat menurunkan tingkat kolesterol baik (HDL) dalam tubuh, sedangkan pada individu lainnya malah meningkatkan kadar HDL.

Hubungan makanan dan gen pada penderita diabetes melitus tipe 2

Banyak penelitian yang menyebutkan hubungan makanan dan gen pada penderita diabetes, seperti penelitian yang dilakukan di Belanda. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa anak yang lahir dengan kondisi ‘kelaparan’ yang ditandai oleh berat badan lahir rendah, cenderung mempunyai kadar  gula darah post prandrial lebih tinggi. Penelitian lain di India juga menunjukkan hal yang sama yaitu, bayi dengan indeks massa tubuh yang di bawah normal pada dua tahun pertama kehidupan akan memiliki risiko tinggi terkena diabetes. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa keadaan gizi buruk pada kehamilan dan pada masa awal kehidupan menimbulkan pengaruh buruk pada metabolisme karbohidrat dan gula darah, yang akan berakibat pada diabetes melitus tipe 2.

Nutrigenomik sebenarnya masih menjadi kontroversi dalam bidang medis, karena melibatkan gen masing-masing individu. Hal ini bisa menjadi suatu terobosan baru yang dapat membantu serta mengatasi berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan diabetes melitus. Namun di sisi lain, nutrigenomik masih harus diteliti lebih lanjut apakah dapat diterapkan dengan baik, karena masing-masing individu yang berbeda maka kebutuhannya berbeda pula. Walaupun begitu, untuk saat ini menerapkan pola hidup sehat seperti mengatur waktu, jenis, serta porsi makan, melakukan olahraga rutin, serta istirahat yang cukup merupakan saran yang terbaik dan dapat dilakukan oleh semua orang.

BACA JUGA

 

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Berbagai Manfaat Menakjubkan Kunyit untuk Kecantikan dan Kesehatan Tubuh

    Anda mungkin cukup familier dengan manfaat kunyit untuk meredakan mual. Nah, ternyata masih ada khasiat lain dari kunyit yang mungkin belum Anda tahu!

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 25 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    Wabah Kesepian, Fenomena Kekinian yang Menghantui Kesehatan Masyarakat

    Rasa kesepian banyak dialami oleh masyarakat modern. Bahkan, kondisi psikologis ini bisa dianggap sebagai salah satu ancaman kesehatan yang serius.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Perbedaan Mentega dan Margarin: Mana yang Lebih Sehat?

    Tahukah Anda bahwa mentega dan margarin tidaklah sama? Salah satunya ternyata berisiko bagi jantung, kolesterol, dan berat badan Anda. Yang mana?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Fakta Gizi, Nutrisi 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Penyakit pada Kuku yang Perlu Diwaspadai

    Penyakit kuku, mulai dari penampakannya yang aneh atau sekadar mudah patah, bisa berarti ada masalah juga pada kesehatan Anda.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Tiara Putri
    Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 23 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara mengusir semut

    9 Cara Jitu untuk Mengusir Semut Bandel di Rumah

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    lidah terasa pahit saat sakit

    Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
    Seks setelah haid

    Berhubungan Seks Sehari Setelah Haid, Apakah Bisa Hamil?

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 2 menit
    menguji keperawanan wanita

    Bisakah Mengetahui Keperawanan Wanita Lewat Ciri Fisiknya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit