3 Kebiasaan Buruk di Masa Muda yang Bisa Picu Sarkopenia Saat Tua Nanti

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sarkopenia adalah suatu kondisi degenerasi otot seiring bertambahnya usia. Sarkopenia terjadi karena adanya bentrok antara sinyal anabolisme (pembentukan) dan katabolisme (penghancuran) sel otot. Akibatnya, ada lebih banyak sel otot yang dihancurkan daripada yang dibentuk baru. Efek atau gejala sarkopenia sulit dikenali orang lain. Tetapi penderita sarkopenia biasanya mengalami kelemahan tubuh yang meningkat sering berjalannya waktu, berkurang kekuatan genggaman tangan, berkurangnya stamina, bergerak lebih lambat, kehilangan motivasi untuk bergerak, serta hilangnya berat badan tanpa sebab jelas.

Sarkopenia adalah kondisi yang umum terjadi di usia senja. Anda dapat kehilangan 3% dari kekuatan otot tiap tahunnya setelah berusia 50 tahun. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan sarkopenia terjadi lebih dini.

Apa saja faktor pemicu sarkopenia?

1. Malas gerak

Sarkopenia sering kali terjadi pada orang yang tidak aktif berolahraga, alias malas gerak. Akan tetapi sarkopenia juga bisa terjadi pada orang yang aktif. Berikut beberapa alasan mengapa pada beberapa orang dapat terjadi hilangnya masa otot:

  • Berkurangnya sel saraf sehat pada otak yang berfungsi untuk mengirimkan sinyal pembentukan sel otot.
  • Berkurangnya konsentrasi dari beberapa hormon tubuh seperti hormon pertumbuhan, testosteron dan insulin-like growth factor (IGF).
  • Gangguan fungsi tubuh dalam mencerna protein menjadi energi.
  • Tubuh tidak menyerap kalori dan protein yang cukup untuk mempertahankan masa otot.

2. Gaya hidup sedentari

Otot yang tidak pernah digunakan untuk bekerja merupakan faktor yang kuat untuk memicu sarkopenia. Kontraksi otot saat bekerja dengan otot sangat diperlukan untuk mempertahankan masa otot dan memperkuat sel otot. Kondisi sarkopenia dapat muncul dengan sendirinya ketika seseorang tidak pernah berolahraga, atau sedang mengalami penyakit kronis maupun kecelakaan yang menyebabkan ia harus beristirahat di tempat tidur dalam waktu lama.

Jangka waktu dua hingga tiga minggu kurang beraktivitas sudah dapat memicu hilangnya masa otot dan kekuatan otot. Periode tertentu tidak beraktivitas berpotensi menyebabkan otot menjadi lebih lemah dan membuat tubuh mengalami kelelahan kronis. Akibatnya tingkat aktivitas seseorang akan cenderung berkurang dan akan semakin sulit untuk kembali pada tingkat aktivitas normal.

Kurang beraktivitas fisik merupakan penyebab utama yang harus ditangani karena kekuatan otot sangat bergantung dengan pola aktivitas seseorang. Lakukan beberapa jenis olahraga seperti latihan kekuatan otot, seperti angkat beban dan latihan aerobik. Jika Anda mengalami kesulitan memulai aktif beraktivitas cobalah jenis olahraga ringan seperti rutin jalan kaki.

3. Pola makan tidak seimbang

Cara mencegah risiko sarkopenia adalah dengan mengonsumsi lebih banyak makanan tinggi protein. Keseimbangan antara kecukupan kalori dan asupan protein diperlukan tubuh untuk mempertahankan massa otot. Namun sayangnya seiring dengan pertambahan usia, perubahan pola makan dan asupan kalori cenderung sulit dihindari. Hal tersebut disebabkan adanya penurunan sensitivitas lidah untuk merasakan makanan, kesulitan mencerna makanan, gangguan kesehatan gigi dan mulut, ataupun kesulitan untuk mengakses bahan makanan. Sedikitnya orang dewasa dan lansia membutuhkan 25-30 gram protein yang dikonsumsi tiap waktu makan untuk mempertahankan masa otot.

Penyakit kronis juga bisa menjadi faktor risiko sarkopenia

Durasi sakit yang lama tidak hanya mengurangi kualitas kesehatan, namun juga kemampuan seseorang untuk beraktivitas. Kondisi ini dapat memicu hilangnya massa otot akibat adanya peradangan dan stress dalam tubuh.

Peradangan adalah suatu kondisi normal yang biasa terjadi setelah seseorang mengalami penyakit atau cedera. Peradangan berperan mengirimkan sinyal untuk tubuh melakukan proses regenerasi sel. Meskipun demikian kondisi penyakit kronis dapat menyebabkan proses inflamasi dalam jangka panjang yang mengganggu keseimbang pembentukan sel otot yang baru dan memicu hilangnya masa otot. Peradangan kronis yang dapat mengurangi masa otot dapat terjadi pada penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), rheumatoid arthritis, penyakit inflamasi usus, lupus, luka bakar parah, serta TBC kronis.

Penyakit kronis juga dapat memicu sarkopenia akibat stres berat. Stres dapat memperburuk proses peradangan serta menurunkan mood untuk beraktivitas. Stres berat yang dapat memicu sarkopenia cenderung dialami oleh penderita penyakit ginjal, gagal jantung kronis dan penderita kanker.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Fungsi Testis, Anatomi, dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

Fungsi testis sangat penting sebagai salah satu bagian organ reproduksi pria. Kenali anatomi testis normal dan risiko penyakit yang menyertai berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Kesehatan Pria, Kesehatan Penis 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Semua Hal yang Penting Diperhatikan Pasca Operasi Usus Buntu

Pasca operasi usus buntu Anda tidak dianjurkan kembali beraktivitas. Anda juga perlu menghindari beberapa pantangan setelah operasi usus buntu.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Pencernaan, Radang Usus Buntu 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Manfaat Buah Stroberi yang Baik untuk Kesehatan Tubuh

Tahukah Anda, buah stroberi dapat membantu mencegah katarak dan menurunkan tekanan darah? Apalagi manfaat buah merah asam ini untuk kesehatan tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Fakta Gizi, Nutrisi 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara tahan lama

Berbagai Cara Agar Pria Tahan Lama Saat Berhubungan Seks

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
hidung meler

7 Penyebab Hidung Meler serta Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
urat menonjol pada orang muda

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
pertolongan pertama keracunan makanan

Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit