Mengenal Fungsi, Anatomi, dan Masalah pada Tendon

    Mengenal Fungsi, Anatomi, dan Masalah pada Tendon

    Sistem muskuloskeletal merupakan sistem yang bekerja untuk membuat tubuh manusia bisa bergerak. Secara garis besar, sistem gerak ini mencakup sistem rangka dan sistem otot. Setiap bagian rangka dan otot yang melekat saling terhubung dengan tendon. Yuk, ketahui seputar anatomi dan fungsi tendon lewat ulasan berikut ini!

    Apa itu tendon?

    Tendon adalah jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau bagian tubuh lainnya. Jaringan ini mengandung serat kolagen yang tinggi.

    Tendon sangatlah keras dan memiliki kekuatan tarik yang tinggi, namun tetap fleksibel. Setiap tubuh manusia terdiri atas ribuan tendon yang tersebar dari kepala sampai ke jari kaki.

    Ukuran dan bentuk tendon bisa berbeda-beda, tergantung pada otot mana tendon melekat. Tendon yang lebih lebar dan lebih pendek biasanya terhubung dengan otot yang menghasilkan banyak tenaga, seperti tendon Achilles yang menyatukan otot betis ke tulang tumit.

    Sedangkan tendon yang lebih tipis dan panjang biasanya terhubung dengan otot yang lebih sering melakukan gerakan ringan.

    Fungsi utama tendon adalah memberikan kekuatan di antara tulang dan otot. Otot memiliki insersio di ujungnya yang melekat pada tulang. Tendon yang melekat pada otot akan meneruskan gerakan kontraksi otot tersebut. Ketika otot berkontraksi, tendon akan menarik tulang yang menempel, sehingga membuat tulang bergerak.

    Selain itu, sifat fleksibel yang dimiliki tendon juga berfungsi untuk menstabilkan tubuh atau organ tertentu baik selama Anda bergerak maupun ketika sedang berdiam diri.

    Bagian-bagian tendon

    Sebagian besar dari tendon terdiri atas serabut kolagen yang terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu serat Sharpey yang berfungsi untuk menempelkan tendon dan tulang serta bundel serat primer, bundel serat sekunder, dan bundel serat tersier. Selain kolagen, terdapat juga sel fibroblas diantaranya.

    Kolagen merupakan protein yang terdiri dari tiga asam amino. Serat kolagen sangat kuat dan tahan regangan namun fleksibel.

    fungsi tendon

    Tendon memiliki struktur jaringan ikat yang terorganisasi, terdiri dari kumpulan serat kolagen tersusun parallel yang dipisahkan dinding penghubung.

    Bundel serat primer yang terbentuk dari kumpulan fibril kolagen merupakan bagian dasar tendon. Bundel ini dibungkus oleh lapisan endotendineum.

    Kumpulan serat primer ini kemudian terangkai menjadi berkas subfasicles yang membentuk berkas serat sekunder (fascicles) dan terbungkus oleh jaringan ikat yang disebut peritendineum.

    Lalu, beberapa bundel serat sekunder membentuk sekumpulan bundel serat tersier yang akan membentuk tendon itu sendiri. Tendon sendiri ini terdiri dari beberapa fascicle yang dilingkupi oleh jaringan ikat relatif tebal. Jaringan yang bernama epitendineum atau epitenon ini mengandung pembuluh darah, saraf, dan lemak.

    Beberapa tendon yang ada di tangan dan kaki memiliki selubung synovium. Selubung ini adalah penutup luar pelindung tendon yang menghasilkan cairan pelumas bernama sinovial. Sinovial membantu tendon meluncur dengan lancar di tempat pertemuan otot dan tulang.

    Masalah kesehatan yang dapat mengenai tendon

    Sama seperti bagian lainnya dalam tubuh, fungsi tendon juga dapat mengalami gangguan. Tendon tahan terhadap robekan, tetapi tidak melar. Pembuluh darah dalam tendon juga lebih sedikit. Karena kedua alasan ini, tendon rentan terhadap cedera ketika terlalu tegang.

    Bila sudah terjadi, cedera tendon mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh kembali. Berikut adalah berbagai masalah kesehatan yang dapat menimpa jaringan tendon bervariasi sesuai dengan area tendon yang terkena.

    • Strain: strain seringkali terjadi pada otot atau tendon, terjadi saat tendon terpelintir, atau tertarik. Ketegangan ini sering terjadi di lengan dan kaki.
    • Tendonitis: terjadi ketika tendon meradang, biasanya karena aktivitas berulang, olahraga berlebihan, atau penuaan.
    • Tenosinovitis: terjadi ketika tendonitis disertai dengan peradangan pada selubung tendon. Dua jenis yang umum terjadi adalah tenosivitis DeQuervain yang dapat menimbulkan pembengkakan pada tendon ibu jari dan trigger finger yang membuat jari atau ibu jari terjebak dalam posisi bengkok.
    • Ruptur tendon Achilles: kasus yang banyak terjadi di area anggota gerak bawah. Sering terjadi dalam olahraga yang membutuhkan gerakan mendorong kaki secara tiba-tiba seperti squash, badminton, sepakbola, tenis, netball. Pasien biasanya akan merasa adanya sensasi robek atau terdapat suara meletus di belakang tumit.
    • Cedera tendon biseps: terjadi karena robekan kecil pada tendon, bisa mengenai baju atau siku.
    • Ruptur tendon tibialis posterior: peradangan atau robek pada tendon yang menghubungkan otot betis ke tulang bagian dalam kaki yang berfungsi untuk menopang kaki saat berjalan.
    • Robekan rotator cuff: terjadi ketika sebagian tendon pada bahu terlepas sepenuhnya dari bagian atas tulang lengan.
    • Tendinosis: kondisi kronis yang terjadi ketika kolagen di tendon mengalami banyak robekan sehingga tendon menjadi lemah dan strukturnya rusak.

    Berbagai gangguan ini lebih rentan menyerang orang-orang yang sudah berusia lanjut. Seiring bertambahnya usia, tendon yang lebih tipis dan aliran darah yang lebih sedikit dapat menyebabkan kerusakan serat yang akan melemahkan tendon.

    Bagaimana cara menjaga kesehatan tendon?

    Gangguan pada tendon tentunya akan mengganggu fungsi pergerakan tubuh dan dapat berdampak pada aktivitas Anda sehari-hari.

    Agar tidak terjadi, Anda harus senantiasa menjaga kesehatannya dengan melakukan beberapa tips berikut ini.

    1. Olahraga yang teratur

    Olahraga teratur dapat membantu menjaga otot, tulang, dan tendon agar tetap kuat serta mengurangi risiko terhadap cedera dan tendonitis. Mulailah aktivitas baru atau rutinitas olahraga secara perlahan dan bertahap tingkatkan intensitasnya.

    2. Lakukan pemanasan sebelum berolahraga

    Anda juga harus berhati-hati saat berolahraga. Olahraga yang berlebihan atau tanpa pemanasan malah akan membuat Anda terluka.

    Maka dari itu, lakukan persiapan terlebih dahulu sebelum memulai olahraga dengan melakukan beberapa aktivitas aerobik ringan atau berlari di tempat. Pemanasan bantu meningkatkan laju aliran darah dan mengendurkan tendon.

    3. Jangan terpaku pada satu jenis latihan saja

    Seimbangkan latihan kardio, latihan kekuatan, dan fleksibilitas. Bila Anda mulai mengalami sakit selama beraktivitas, berhenti melakukannya dan coba lagi pada hari berikutnya.

    4. Peregangan otot

    Setelah selesai berolahraga, lakukan peregangan otot. Peregangan saat otot berada pada kondisi yang lebih lentur usai olahraga dapat membantu mencegah cedera tendon.

    5. Gunakan sepatu yang sesuai

    Ingat, gunakanlah sepatu yang sesuai dengan ukuran kaki dan olahraga yang akan Anda lakukan. Menggunakan sepatu yang tepat akan menjaga tubuh Anda agar tetap sejajar.

    Posisikan juga tubuh Anda dengan benar saat melakukan tugas sehari-hari. Misalnya saat mengangkat beban berat dan sebagainya.

    Selain itu, sadari pula seberapa kuat daya tahan tubuh Anda. Jangan memaksa tubuh untuk terus bekerja atau beraktivitas ketika Anda lelah atau stres supaya cedera tidak terjadi.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    What Are Tendons and Tendon Sheaths? (2018). Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG). Retrieved 27 December 2021, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK525770/

    Tendon: Function, Anatomy, & Common Injuries. (2021). Cleveland Clinic. Retrieved 27 December 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/body/21738-tendon

    Tendon – Description & Function. (n.d.). Britannica. Retrieved 27 December 2021, from https://www.britannica.com/science/tendon

    Protect Your Tendons. (2014). NIH News in Health. Retrieved 27 December 2021, from https://newsinhealth.nih.gov/2014/06/protect-your-tendons

     

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Jan 06
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa