backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Pedofilia, Ketertarikan Seksual Tak Wajar pada Anak-Anak

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 13/11/2023

Pedofilia, Ketertarikan Seksual Tak Wajar pada Anak-Anak

Ketertarikan seksual terhadap anak-anak bukanlah suatu hal yang wajar. Kelainan seksual ini dikenal sebagai pedofilia. Lantas, apakah pedofilia bisa disembuhkan seperti gangguan mental lainnya?

Untuk mengetahui jawaban selengkapnya, simak pembahasan di bawah ini.

Apa itu pedofilia?

Pedofilia adalah gangguan seksual berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak yang berusia 13 tahun ke bawah. Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil.

Menurut pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), pedofilia termasuk ke dalam kategori gangguan parafilia.

Parafilia sendiri adalah penyimpangan yang ditandai dengan fantasi, gairah, dan hasrat seksual yang tinggi terhadap benda, aktivitas seks, dan situasi lain yang tidak lumrah.

Perlu dipahami bahwa pedofilia dan kekerasan seksual pada anak merupakan dua hal yang berbeda.

Pedofilia adalah kelainan, bukan tindak kejahatan. Pedofil mungkin mempunyai hasrat seksual terhadap anak-anak, tetapi mungkin tidak pernah melakukan pelecehan.

Sebaliknya juga, pelaku kekerasan seksual terhadap anak belum tentu seorang pedofil. Hal ini bisa terjadi karena faktor lain, seperti akibat pengaruh minuman keras dan narkotika.

Pria pada umumnya lebih sering memiliki perilaku menyimpang ini. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi wanita untuk mengidap pedofilia.

Tanda dan gejala pedofilia

apa itu pedofilia

Tanda-tanda pedofilia mulai bisa terdeteksi setelah masa puber, yakni ketika orientasi seksual seseorang tertuju pada anak-anak, bukan pada orang dewasa.

Karena hal ini, sebagian besar pengidap pedofilia mengalami diskriminasi sosial. Mereka pun kesulitan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Ciri-ciri yang mungkin tampak pada atau dialami seorang pedofil antara lain sebagai berikut.

  • Fantasi dan ketertarikan seksual yang kuat pada anak-anak di bawah usia 13 tahun.
  • Perilaku seksual yang tidak pantas pada anak-anak, seperti menyentuh tubuh anak atau menonton konten pornografi anak.
  • Kesulitan mengendalikan dorongan seksual terhadap anak-anak.
  • Rasa bersalah atau kecemasan yang kuat atas perilaku seksual mereka.
  • Tidak mampu menjaga hubungan yang sehat dengan orang dewasa sebaya.
  • Isolasi sosial atau penarikan diri dari lingkungan sekitar karena mungkin merasa malu atau takut perilaku menyimpangnya terungkap.
  • Cenderung terlibat dalam penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Penyebab pedofilia

Alasan mengapa seseorang merupakan pedofil belum sepenuhnya dipahami. Beberapa penelitian masih dilakukan untuk memahami faktor-faktor yang mungkin menimbulkan gangguan ini.

Adapun, sejumlah faktor yang diduga berpotensi menjadi penyebab pedofilia adalah sebagai berikut.

1. Faktor neurobiologis

Perubahan struktur atau kimiawi dalam otak mungkin berperan dalam perkembangan pedofilia.

Beberapa ahli menduga bahwa otak pedofil memiliki perbedaan pada lobus frontal dan temporalnya. Salah satu fungsi kedua bagian ini ialah mengatur perilaku seksual dan memproses emosi.

Penelitian dalam Archives of Sexual Behavior (2015) juga menyebut bahwa materi putih (white matter) pada orang pedofil cenderung lebih sedikit dan tidak berfungsi dengan baik.

2. Faktor genetik

Beberapa ahli juga meyakini bahwa faktor genetik atau keturunan mungkin berkontribusi pada kemungkinan seseorang untuk mengidap pedofilia.

Meski demikian, kaitan antara faktor genetik dan penyimpangan seksual ini masih belum jelas. Apalagi mengingat masih ada faktor lain yang juga berperan banyak.

Bahkan, peneliti dari Hannover Medical School, Jerman menyatakan bahwa pedofilia dua kali lebih kecil kemungkinannya untuk diwariskan daripada gangguan mental lainnya.

3. Faktor hormonal

Pemberian obat-obatan untuk menurunkan kadar hormon testosteron telah terbukti membantu mengurangi pikiran dan hasrat seksual terhadap anak-anak.

Itu sebabnya gangguan hormonal, terutama saat janin masih berada dalam kandungan, diduga berkaitan dengan meningkatnya risiko pedofilia.

4. Gangguan perkembangan

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Acta Psychiatrica Scandinavica (2021) menduga pedofilia berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf, seperti autisme dan ADHD.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa orang dengan gangguan pedofilia mungkin punya kecerdasan intelektual (IQ) yang lebih rendah daripada orang sehat pada umumnya.

5. Trauma masa kecil

Trauma akibat kekerasan pada anak, seperti paparan pornografi, percakapan, dan pelecehan seksual, dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya pedofilia.

Meski begitu, perlu dipahami bahwa tidak semua korban pelecehan seksual anak akan menjadi pedofil saat tumbuh dewasa nantinya.

Dampak Kekerasan Seksual terhadap Kesehatan Reproduksi

Tak hanya pada mental, kekerasan seksual bisa memengaruhi kesehatan fisik, terutama organ reproduksi.

Diagnosis pedofilia

Diagnosis pedofilia cenderung sulit dilakukan karena banyak dari pengidapnya tidak menunjukkan emosi, bahkan saat mereka bertemu langsung dengan dokter.

Pada pertemuan awal, dokter akan menanyakan mengenai riwayat medis, penyalahgunaan zat apa pun, dan hubungan pasien dengan orang terdekat di sekitarnya.

Apabila tidak ditemukan gangguan fisik yang bisa menimbulkan gejala mirip pedofilia, dokter akan langsung merujuk pasien untuk menemui psikolog atau psikiater.

Menurut DSM-5, seseorang dikatakan pedofil bila mempunyai beberapa kriteria di bawah ini.

  • Fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang berulang dan intens dengan anak-anak berusia 13 tahun atau lebih muda dalam jangka waktu minimal enam bulan.
  • Dorongan seksual ini menyebabkan gangguan yang signifikan dalam kehidupan sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  • Orang tersebut setidaknya berusia 16 tahun atau lima tahun lebih tua dari anak yang terlibat dalam perilaku seksual bersamanya.

Penanganan pedofilia

terapi psikologi

Pedofilia sering kali berlangsung seumur hidup. Pengobatan akan berfokus untuk mengubah perilaku dan mencegah terjadinya tindakan kriminal dalam jangka panjang.

Pada umumnya, penanganan melibatkan terapi perilaku kognitif, obat-obatan, atau kombinasi keduanya seperti berikut.

1. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah salah satu psikoterapi yang bertujuan untuk memperbaiki pola pikir dan perilaku seorang pedofil terhadap anak-anak.

Ahli kesehatan mental akan meningkatkan empati klien dengan mengambil sudut pandang dari anak-anak sebagai korban kekerasan seksual.

CBT diharapkan mampu mengurangi dorongan klien dalam melakukan tindakan serupa.

Ia juga akan berlatih cara mengidentifikasi tindakan yang dapat memicu pelecehan dan mengalihkan dorongan seksual menuju tindakan yang lebih positif.

2. Obat-obatan

Dokter atau psikiater terkadang juga menganjurkan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan, seperti medroxyprogesterone acetate (MPA) dan cyproterone acetate (CPA).

Obat-obatan yang digunakan bersamaan dengan psikoterapi ini membantu menurunkan tingkat sirkulasi testosteron dalam tubuh sehingga berpotensi mengurangi gairah seksual.

Bagi pedofil yang juga memiliki kecanduan minuman keras dan obat terlarang, terapi rehabilitasi juga direkomendasikan untuk membantu mengatasi gangguan ini.

Tidak semua pengidap pedofilia nyaman dengan kondisinya. Mereka mungkin merasa frustrasi dan cemas bila perilakunya ini mengganggu hubungan sosial dengan orang lain.

Apabila Anda mencurigai orang terdekat atau bahkan diri sendiri memiliki ketertarikan yang tidak wajar terhadap anak-anak, segera konsultasi untuk memperoleh penanganan yang tepat.

Kesimpulan

  • Pedofilia adalah gangguan seksual yang melibatkan ketertarikan terhadap anak-anak di bawah usia 13 tahun.
  • Meski penyebab gangguan ini belum sepenuhnya dipahami, faktor-faktor seperti gangguan otak, genetik, hormonal, hingga trauma masa kecil diduga berkaitan dengan kemunculannya.
  • Penanganan akan melibatkan terapi perilaku kognitif dan obat-obatan untuk mengubah perilaku dan mencegah munculnya tindakan kriminal dalam jangka panjang.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 13/11/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan