Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Dissociative Identity Disorder (Kepribadian Ganda)

Dissociative Identity Disorder (Kepribadian Ganda)

Anda mungkin pernah mendengar istilah orang dengan kepribadian ganda. Dalam dunia medis, gangguan psikologis ini dikenal sebagai dissociative identity disorder (gangguan identitas disosiatif). Yuk, kenali lebih jauh mengenai definisi, penyebab, dan cara menanganinya melalui ulasan di bawah ini.

Apa itu dissociative identity disorder?

Dissociative identity disorder adalah kondisi yang membuat pengidapnya mengembangkan satu atau lebih kepribadian alternatif yang diketahui secara sadar maupun tidak.

Sebelumnya, gangguan mental ini memiliki banyak sebutan, di antaranya split disorder, multiple personality disorder, dan kepribadian ganda.

Gangguan identitas disosiatif merupakan salah satu jenis utama gangguan disosiatif, menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Gangguan disosiatif sendiri merupakan penyakit mental yang menunjukkan ketidaksesuaian antara memori, pikiran, identitas, dan fungsi mental lain yang mendukung seseorang untuk beraktivitas dengan lancar.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Sebuah studi dalam The Journal of Nervous and Mental Disease (2013) menemukan penyakit DID memengaruhi 1,1–1,5% dalam populasi umum. Meski cukup langka, gangguan mental ini menyerang segala usia. Wanita lebih mungkin mengalami kondisi ini daripada pria.

Tanda dan gejala dissociative identity disorder

disosiasi psikologi

Gejala penyakit DID ialah adanya dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Kepribadian lain ini disebut kepribadian alternatif, sedangkan kepribadian asli disebut kepribadian inti.

Tiap kepribadian alternatif punya perbedaan pada ciri individu dan cara berpikirnya. Kepribadian alternatif mungkin juga memiliki nama, perilaku, dan bahkan jenis kelamin yang berbeda.

Saat kepribadian alternatif muncul, pengidap DID akan mengalami amnesia. Akibatnya, mereka umumnya tidak menyadari adanya kepribadian alternatif maupun ingatan mengenai apa yang dilakukan saat kepribadian tersebut mengambil alih.

Meski begitu, hal ini tidak selamanya berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, orang dengan dissociative identity disorder mengambil keuntungan dari kepribadian alternatifnya.

Sebagai contoh, orang dengan kepribadian inti yang pemalu dapat menggunakan kepribadian alternatif untuk jadi lebih tegas dan mudah bergaul. Pergantian kepribadian ini muncul akibat dipicu oleh stres dan peristiwa traumatis.

Meski begitu, pengidap DID mungkin menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Ia bisa saja menemukan barang-barang di rumah dam tidak punya ingatan kapan membelinya.

Mereka juga kesulitan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya karena tidak mengenal keluarga atau orang terdekat ketika kepribadian alternatif mengambil alih.

Gejala psikologis lain yang mungkin muncul

Selain itu, orang dengan dissociative identity disorder dapat mengalami gejala psikologis yang juga terjadi pada penyakit mental lain, contohnya seperti berikut.

  • Sakit kepala parah dan mengalami nyeri pada tubuh.
  • Derealisasi, yakni perasaan bahwa lingkungan di sekitarnya asing atau tidak nyata.
  • Suasana hati mudah berubah dan depresi.
  • Depersonalisasi, yakni merasa jiwanya terlepas dari raganya.
  • Mudah merasa gelisah hingga mengalami gangguan kecemasan.
  • Disosiasi, yakni perasaan seakan terlepas dari tubuh dan dunia di sekitarnya.
  • Amnesia atau merasakan distorsi waktu.
  • Gangguan tidur, seperti sering mengalami mimpi buruk atau sleepwalking.
  • Cenderung memiliki gangguan makan (eating disorder).
  • Halusinasi atau persepsi palsu terhadap sesuatu, seperti mendengar suara yang sebenarnya tidak ada.
  • Timbul masalah pada kehidupan seksual, misalnya gairah seks menurun.
  • Penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi alkohol berlebihan.
  • Keinginan melukai diri dan bahkan melakukan percobaan bunuh diri.

Kapan harus periksa ke dokter?

Apabila Anda mengalami gejala penyakit DID atau menerima laporan dari orang terdekat mengenai adanya perubahan kepribadian dalam diri Anda, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.

Penyebab dissociative identity disorder

kekerasan diturunkan

Penyebab dissociative identity disorder ialah pernah mengalami peristiwa traumatis. Sekitar 90% pengidapnya memiliki riwayat kekerasan seksual atau emosional yang parah.

Peristiwa traumatis lainnya juga bisa terkait dengan perang, kecelakaan, hingga bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor.

Orang yang mengalami isolasi berkepanjangan karena sakit maupun kehilangan orang yang dicintai juga berisiko lebih tinggi mengalami gangguan mental ini.

Faktor risiko yang memicu episode peralihan kepribadian

Penyakit DID sering dianggap sebagai mekanisme perlindungan diri seseorang terhadap situasi yang membuatnya stres, tertekan, dan trauma.

Saat kepribadian alternatif mengendalikan pengidapnya, akan ada batasan yang tercipta antara dirinya dengan peristiwa atau pengalaman yang menyakitkan.

Batasan tersebut akhirnya bisa membuat pengidapnya mampu mempertahankan fungsi dirinya dalam kehidupan sehari-hari, seolah peristiwa traumatis tidak pernah terjadi.

Episode peralihan kepribadian dapat dipicu oleh berbagai hal, seperti melihat kecelakaan lalu lintas, sedang merasa stres atau tertekan, atau melihat pelecehan seksual dan kekerasan.

Komplikasi dissociative identity disorder

Orang dengan gangguan identitas disosiatif yang tidak mendapatkan perawatan medis dapat mengalami sejumlah komplikasi serius.

Prestasi di sekolah atau tempat kerjanya bisa makin memburuk. Kondisi ini juga bisa memengaruhi kualitas hubungan dengan pasangan maupun orang-orang terdekat.

Selain itu, ada pula risiko kecacatan pada tubuh atau kematian karena melukai diri sendiri, melakukan percobaan bunuh diri, atau overdosis penggunaan obat-obatan tertentu.

Diagnosis dissociative identity disorder

Tidak ada tes laboratorium untuk mendiagnosis penyakit DID. Meski begitu, tes darah, CT scan, maupun MRI mungkin diperlukan untuk menyingkirkan masalah kesehatan tertentu.

Selain itu, dokter ahli kejiwaan mungkin akan meminta Anda menjalani pemeriksaan berikut ini.

  • Pemeriksaan fisik: dokter akan mengajukan pertanyaan tentang riwayat kesehatan dan memerhatikan gejala apa saja yang dialami.
  • Tes psikiatri: psikolog mengajukan pertanyaan tentang pikiran, perasaan, dan perilaku, baik pada diri Anda, anggota keluarga, atau orang terdekat yang mendampingi.

Setelahnya, dokter dan psikolog akan membandingkan catatan kesehatan yang diperoleh dari Anda dengan panduan DSM-5 untuk membantu menegakkan diagnosis.

Pengobatan dissociative identity disorder

risiko kesehatan menjadi psikolog

Tujuan pengobatan dissociative identity disorder ialah untuk meredakan gejala dan memastikan keselamatan pasien dan orang-orang di sekitarnya.

Perawatan yang tepat juga membantu “menghubungkan kembali” kepribadian yang berbeda menjadi satu identitas yang berfungsi dengan baik.

Berikut ini merupakan berbagai pengobatan untuk mengatasi gangguan identitas disosiatif.

1. Terapi perilaku kognitif (CBT)

Terapi perilaku kognitif atau cognitive behaviour therapy (CBT) dilakukan untuk mengubah pola pikir, perasaan, dan perilaku menjadi lebih baik serta kembali berfungsi seperti sedia kala.

2. Terapi perilaku dialektik (DBT)

Jenis psikoterapi ini dilakukan untuk orang dengan gejala dissociative identity disorder yang parah, terutama pada mereka yang mengalami pelecehan seksual.

3. Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR)

EMDR ialah teknik pengobatan yang memadukan terapi perilaku kognitif dan latihan visual untuk mengatasi mimpi buruk terus-menerus dan kilas balik pada peristiwa traumatis.

4. Penggunaan obat-obatan

Tidak ada obat yang secara khusus dapat mengobati gangguan disosiatif. Namun, pengidap DID yang terkait dengan depresi atau gangguan kecemasan bisa diresepkan obat antidepresan atau anticemas.

Pengobatan di rumah untuk dissociative identity disorder

Selain pengobatan dengan dokter, Anda juga perlu mengikuti perawatan di rumah supaya gejala gangguan mental ini tidak muncul. Berikut beberapa di antaranya.

  • Belajar untuk mengelola stres agar Anda bisa mengalihkan pikiran. Coba lakukan aktivitas yang disukai, meditasi, atau mendatangi psikolog untuk konseling.
  • Mintalah bantuan keluarga atau kerabat terdekat untuk membantu mengamati perubahan-perubahan perilaku dan mencatatnya bila perlu. Ini penting dilakukan untuk membantu melaporkan efektivitas pengobatan kepada dokter.
  • Menjalani pola hidup sehat, yakni dengan tidur cukup, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan meringankan stres untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Pencegahan dissociative identity disorder

Tak ada cara yang sepenuhnya bisa mencegah dissociative identity disorder.

Segera lakukan konsultasi bila Anda pernah mengalami peristiwa traumatis, seperti menjadi korban pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kecelakaan, bencana alam, dan perang.

Tujuan dari konseling dengan psikolog ialah untuk meringankan stres dan membantu mengatasi situasi-situasi yang membuat Anda takut serta cemas.

Cobalah untuk membuka diri untuk membicarakan peristiwa traumatis yang pernah Anda alami pada keluarga atau orang terdekat untuk memperoleh dukungan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dissociative Disorders. National Alliance on Mental Illness. (2022). Retrieved 29 July 2022, from https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Dissociative-Disorders

What Are Dissociative Disorders?. American Psychiatric Association. (2018). Retrieved 29 July 2022, from https://www.psychiatry.org/patients-families/dissociative-disorders/what-are-dissociative-disorders

Dissociative Identity Disorder. American Association for Marriage and Family Therapy. (2022). Retrieved 29 July 2022, from https://www.aamft.org/Consumer_Updates/Dissociative_Identity_Disorder.aspx

Dissociative Identity Disorder: What Is It, Symptoms & Treatment. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 29 July 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9792-dissociative-identity-disorder-multiple-personality-disorder

Dissociative disorders – Symptoms & causes. Mayo Clinic. (2017). Retrieved 29 July 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dissociative-disorders/symptoms-causes/syc-20355215

Dissociative disorders – Diagnosis & treatment. Mayo Clinic. (2017). Retrieved 29 July 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dissociative-disorders/diagnosis-treatment/drc-20355221

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders DSM-5. American Psychiatric Association Publishing.

Martínez-Taboas, A., Dorahy, M., Sar, V., Middleton, W., & Krüger, C. (2013). Growing not dwindling: international research on the worldwide phenomenon of dissociative disorders. The Journal of nervous and mental disease, 201(4), 353–354. https://doi.org/10.1097/NMD.0b013e318288d27f

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 5 days ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.