backup og meta

Ciri-Ciri Kecanduan Game Online dan Cara Mengatasinya

Ciri-Ciri Kecanduan Game Online dan Cara Mengatasinya

Gelisah saat tidak bermain game seharian? Marah ketika seseorang meminta Anda berhenti bermain game setelah melakukannya seharian? Jika merasakannya, Anda mungkin sudah kecanduan game online.

Kemudahan dalam bermain game online memang membuat banyak orang lebih mudah merasa bahagia. Di sisi lain, kemudahan ini juga bisa membahayakan, salah satunya menyebabkan kecanduan.

Ciri-ciri kecanduan game online

Kecanduan game online bisa dialami siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Awalnya, Anda mungkin memainkan game untuk mengisi waktu luang. Namun, jika Anda sudah kebanyakan main game hingga mengalami kondisi berikut, ini bisa menandakan kecanduan.

  • Keinginan untuk bermain game muncul setiap waktu.
  • Menghabiskan sebagian besar waktu untuk bermain game sampai mengganggu produktivitas lain, seperti pekerjaan dan sekolah.
  • Marah atau sedih ketika diingatkan untuk berhenti bermain game.
  • Rela berbohong demi mendapatkan alasan bermain game.
  • Stres, murung, atau cemas ketika tidak bisa bermain game.
  • Tetap bermain game meski sadar dampak buruk yang didapatkan.
  • Sulit berkonsentrasi terhadap berbagai hal selain game.
  • Tidak ragu untuk menghabiskan uang demi game.

Selain ciri emosional, terlalu banyak bermain game juga bisa menimbulkan gejala fisik, seperti sakit kepala, nyeri punggung, mudah lelah, hingga mata berkunang-kunang.

Dampak buruk kebanyakan bermain game

efek main game

Tak hanya membuang waktu berharga, kecanduan game juga memberikan dampak buruk pada kondisi fisik, mental, dan bahkan finansial.

Jika dibiarkan, berikut adalah beberapa dampak buruk yang bisa terjadi akibat terlalu sering main game.

1. Gangguan fungsi otak

Asal dilakukan sesuai batasan, sebenarnya bermain game bermanfaat untuk otak. Akan tetapi, kecanduan game online justru bisa menimbulkan efek sebaliknya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Psychiatry (2013) menunjukkan bahwa bermain game online secara berlebihan bisa mengganggu fungsi korteks prefrontal.

Korteks prefrontal adalah bagian otak yang berfungsi menahan perilaku manusia supaya tidak bertindak impulsif.

2. Gangguan mental

Sejak pertengahan tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan kecanduan game sebagai gangguan jiwa yang disebut gaming disorder (GD). 

Gaming disorder terdaftar dalam subkategori gangguan penyalahgunaan zat atau perilaku adiktif.

Artinya, pakar kesehatan telah sepakat bahwa sering main game memberikan akibat yang serupa dengan kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang.

3. Kerugian finansial

Selain modal kuota internet, beberapa jenis game memang membuat Anda harus mengeluarkan uang. Selama uang yang dikeluarkan sudah direncanakan, kondisi ini sebenarnya bukanlah masalah.

Namun, seseorang yang sudah kebanyakan main game bisa saja menggunakan uang untuk kebutuhan primer demi membeli berbagai hal yang mendukung permainan.

Pada kasus yang lebih parah, kecanduan game bahkan bisa membuat seseorang rela berutang.

Cara mengatasi kecanduan game online

Kecanduan game online tergolong sebagai gangguan mental sehingga penanganannya pun perlu melibatkan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Jika Anda merasa bahwa kebiasaan bermain game yang Anda lakukan selama ini sudah berlebihan, berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegahnya berkembang menjadi kecanduan.

1. Batasi waktu bermain game

bermain game dengan pasangan

Untuk mencegah kecanduan, bukan berarti Anda harus benar-benar berhenti bermain game. Jika dilakukan sesuai porsinya, bermain game juga bisa memberikan manfaat.

Oleh karena itu, langkah yang tepat dalam bermain game adalah menentukan durasinya.

Sebagai contoh, batasilah waktu bermain game selama satu atau dua jam dalam sehari. Bila perlu, pasanglah alarm atau pengingat di ponsel Anda.

2. Cari hobi baru

Beberapa orang mungkin menilai bahwa bermain game online adalah hobi. Nah, tidak ada salahnya untuk memiliki lebih dari satu hobi.

Dengan begitu, Anda bisa mengurangi obsesi terhadap game yang biasa Anda mainkan.

Jika kesulitan menemukan hobi baru, Anda juga bisa mencoba bergabung dengan komunitas tertentu, seperti komunitas membaca atau olahraga.

Memiliki teman untuk melakukan hal serupa bisa menciptakan hobi baru yang tak pernah Anda duga sebelumnya.

3. Buat rutinitas yang sehat

Keasyikan bermain game sering kali membuat seseorang lupa waktu istirahat, bekerja, atau bahkan makan.

Oleh karena itu, membangun rutinitas yang sehat merupakan langkah tepat untuk mencegah kecanduan game online.

Dengan begitu, Anda tidak akan menggunakan semua waktu luang untuk bermain game. Sebagai gantinya, Anda bisa membaca buku, berolahraga, menonton film terbaru, atau mencoba kegiatan lainnya.

Seperti halnya kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang, atau berbelanja secara impulsif, kecanduan game online merupakan masalah kesehatan yang perlu diatasi dengan tepat.

Mengingat proses untuk lepas dari kecanduan tidaklah mudah, jangan sungkan untuk mencari dukungan dari orang-orang terdekat Anda.

Selain memberi semangat, mereka juga bisa membantu mengingatkan apabila Anda sudah mulai kembali sibuk bermain game online.

Kesimpulan

  • Sejak tahun 2018, WHO telah menetapkan kecanduan game online sebagai salah satu gangguan mental karena bisa memberikan dampak serupa kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Kecanduan game perlu diatasi karena bisa menyebabkan gangguan mental, gangguan fungsi otak, dan kerugian finansial.
  • Atasi kecanduan game online dengan membatasi waktu bermain game, mencari hobi baru, dan membentuk rutinitas yang sehat.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Addictive behaviours: Gaming disorder. (n.d.). World Health Organization (WHO). Retrieved 03 May 2024 from https://www.who.int/features/qa/gaming-disorder/en/.

Kühn, S., Gleich, T., Lorenz, R. C., Lindenberger, U., & Gallinat, J. (2013). Erratum: Playing super Mario induces structural brain plasticity: gray matter changes resulting from training with a commercial video game. Molecular Psychiatry19(2), 272-272. Retrieved 03 May 2024 from https://doi.org/10.1038/mp.2013.169.

Weinstein, A., & Lejoyeux, M. (2020). Neurobiological mechanisms underlying internet gaming disorder. Dialogues in Clinical Neuroscience22(2), 113-126. Retrieved 03 May 2024 from https://doi.org/10.31887/dcns.2020.22.2/aweinstein.

Luker, E., & L.P.C. (2022, July 1). Video games and screen addiction. Mayo Clinic Health System. Retrieved 03 May 2024 from https://www.mayoclinichealthsystem.org/hometown-health/speaking-of-health/are-video-games-and-screens-another-addiction.

Rokom. (2018, August 2). Inilah Dampak Kecanduan game online. Sehat Negeriku. Retrieved 03 May 2024 from https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180706/4226605/inilah-dampak-kecanduan-game-online/.

Versi Terbaru

05/06/2024

Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

Diperbarui oleh: Edria


Artikel Terkait

7 Games Menarik untuk Melatih Kemampuan Otak Lansia

Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?


Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 05/06/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan