home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Benarkah Suami Paling Rentan Selingkuh Saat Istri Hamil?

Benarkah Suami Paling Rentan Selingkuh Saat Istri Hamil?

Di saat sebagian pria beranggapan wanita hamil itu seksi, banyak juga yang bilang suami paling rentan selingkuh saat istri hamil. Apakah ini hanya mitos yang berakar dari rasa insecure dalam hati atau adakah penjelasan medisnya?

Benarkah suami rentan selingkuh saat istri hamil?

Scott Haltzman, MD, asisten profesor psikiatridi Brown University Medical School menegaskan bahwa tidak benar kehamilan lantas membuat suami jadi lebih tertarik melirik wanita lain. Tidak ada penelitian atau teori medis yang bisa membuktikan bahwa laki-laki paling rentan selingkuh saat istrinya hamil.

Meski begitu, segala macam perubahan fisik, psikologis, dan perilaku yang dialami oleh perempuan saat hamil juga dirasakan oleh sang suami. Berbagai perubahan ini bisa membuatnya merasa “dinomorduakan”.

Contoh paling sederhananya adalah waktu dan perhatian istri yang hampir sebagian besar tercurah untuk menjaga kandungannya. Ini adalah wajar karena sudah menjadi insting seorang calon ibu untuk sebisa mungkin menjaga kesehatan tubuhnya saat sedang hamil demi kesehatan calon anaknya saat ini dan di masa depan.

Di sisi lain, bergesernya fokus perhatian istri ini bisa memicu kecemburuan dalam diri si suami karena ia merasa diabaikan. Banyak pula pria yang merasa takut kalau nanti bayinya sudah lahir, istrinya jadi benar-benar tidak cinta lagi pada mereka. Misalnya, Anda ingin mengajak istri untuk berkencan ke tempat favorit berdua, tapi ia memilih untuk beristirahat saja di rumah karena takut kecapekan. Anda juga mungkin jadi lebih banyak menghabiskan waktu makan sendirian, atau malah makan di luar rumah, karena istri jadi lebih jarang masak selama hamil.

Selain dari segi kebutuhan emosional, pria juga mungkin merasa bahwa kebutuhan seksnya ikut terbengkalai. Banyak suami yang mengaku bahwa mereka semakin jarang berhubungan seks selama istrinya hamil karena gairah seks istri yang menurun. Istri mungkin juga berpikir bahwa tidak seharusnya berhubungan seks saat hamil karena dapat menyakiti bayi. Selain itu, rasa tidak percaya diri karena merasa gemuk dan tidak menarik mungkin menghantui beberapa istri untuk berhubungan seksual.

Namun, Haltzman sekali lagi menegaskan bahwa segala macam perubahan yang terjadi pada hidup wanita dan pria selama masa kehamilan tidak pantas dan tidak dapat dijadikan sebagai alasan pembenaran untuk berselingkuh.

Suami dan istri harus sama-sama saling mengerti

Untuk menghindari konflik dan rasa cemburu buta, baik suami dan istri harus sama-sama saling mengerti dan peduli dengan kondisi masing-masing.

Anda perlu mengubah cara Anda berpikir dan memandang sesuatu. Segala macam perubahan fisik, perilaku, dan emosional yang dialami oleh istri saat hamil adalah hal yang wajar dan hanyalah bersifat sementara. Anda bisa menunjukkan kepedulian pada istri dengan lebih terlibat pada urusan kehamilannya. Misalnya dengan mengajaknya pijat, belanja pakaian bayi, berdiskusi memilih nama bayi, menemani istri spa kehamilan, atau bahkan berangkat babymoon.

Para istri, yakinkan juga pada pasangan bahwa ia masih menjadi prioritas Anda meski lagi hamil. Dorong dan dukung suami untuk menjadi suami SIAGA dan menjadi ayah yang hebat. Di saat yang bersamaan, minta pengertian darinya bahwa segala perubahan yang Anda alami saat ini mungkin membuat Anda tidak nyaman dengan tubuh sendiri. Jika tidak ingin berhubungan seks, Anda berdua masih bisa bermesraan dengan berpelukan, berciuman, atau kelonan.

Secara tidak langsung, cemburu berkaitan dengan komitmen yang Anda buat berdua sejak pertama kali menjalin hubungan dulu. Kalau Anda sudah yakin benar bahwa ia mencintai Anda sepenuh hati (begitu juga Anda padanya), apa lagi yang harus dipermasalahkan?

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 01/07/2018
x