Pasangan Mengidap OCD? Ini Cara Menghadapinya

    Pasangan Mengidap OCD? Ini Cara Menghadapinya

    Berpacaran atau menikah dengan pasangan yang punya gangguan obsesif-kompulsif (OCD) tentu menjadi suatu tantangan bagi Anda yang sedang menjalin hubungan.

    Lantas, apa saja dampak dan bagaimana cara menghadapi pasangan yang mengidap OCD? Simak penjelasannya di bawah ini.

    Dampak gangguan obsesif kompulsif dalam hubungan

    dampak pasangan ocd

    Gangguan obsesif kompulsif adalah salah satu gangguan kecemasan yang terjadi dalam jangka panjang alias kronis. OCD sering kali dapat diatasi, tetapi tidak bisa dihilangkan sepenuhnya.

    Kondisi ini membuat orang yang mengidapnya memiliki obsesi yang berasal pikiran, perasaan, ide, atau sensasi tertentu sehingga memicu perilaku kompulsif (dilakukan secara berulang).

    Pengidap OCD terkadang terobsesi dengan kebersihan dirinya. Mereka bisa jadi selalu khawatir akan kontaminasi kuman sehingga akan sering mencuci tangannya.

    Sementara bagi yang lainnya, mungkin segi keamanan yang menjadi obsesinya. Hal ini menjadikan mereka terus-menerus disibukkan oleh kekhawatiran akan dilukai atau melukai orang lain.

    Punya pasangan dengan OCD tentu menjadi tantangan tersendiri. Anda harus siap saat pasangan memiliki obsesi dan melakukan tindakan kompulsif yang bisa memengaruhi hubungan.

    Bahkan, sebuah studi dalam jurnal Perspectives in Psychiatric Care (2016) menyebutkan OCD juga kemungkinan akan memengaruhi fungsi seksual dalam hubungan asmara.

    Orang yang terobsesi dengan kebersihan mungkin akan memiliki hubungan seksual yang rumit karena merasa jijik dengan kontaminasi kotoran atau kuman dari tubuh pasangannya.

    Sementara itu, beberapa obat OCD juga bisa menimbulkan efek samping, seperti menurunkan libido atau gairah untuk berhubungan seksual.

    Cara menghadapi pasangan yang mengidap OCD

    Setiap perilaku berlebihan yang dilakukan oleh pasangan yang mengidap masalah kesehatan mental mungkin memicu konflik yang bisa berujung pada berakhirnya suatu hubungan.

    Pengidap OCD bisa merasa bersalah akan perilaku, pemikiran, dan perasaan yang dialaminya, tetapi ia tidak bisa menghentikan semua itu dan akan melakukannya lagi.

    OCD bisa dikelola agar gejalanya tidak mengganggu hubungan. Oleh sebab itu, ada baiknya Anda mengetahui cara mengatasi OCD pada diri pasangan seperti di bawah ini.

    1. Pahami kondisi yang pasangan alami

    pasangan depresi

    Saat menjalin hubungan dengan pasangan yang punya OCD, tentunya penting bagi Anda untuk memahami gejala yang mungkin timbul dan perawatan seperti apa yang harus dilakukan.

    Biasanya, perilaku berulang atau kompulsif merupakan gejala OCD yang paling mudah dikenali. Perilaku ini hadir sebagai respons terhadap pikiran obsesif yang dialami pengidapnya.

    Dikutip dari HelpGuide, beberapa jenis perilaku kompulsif yang bisa Anda lihat pada pasangan dengan OCD meliputi:

    • mencuci tangan atau bagian tubuh yang dirasa kotor berulang kali (washer),
    • mengecek berulang kali sesuatu yang dianggap mendatangkan bahaya, seperti kompor dan kunci pintu (checker),
    • mengalami ketakutan bila sesuatu tidak sempurna atau tidak dilakukan dengan benar (doubter and sinner), dan
    • mengatur sesuatu agar selalu berurutan, rapi, dan simetris, terutama berkaitan dengan angka, warna, atau susunan tertentu (counter and arranger).

    2. Jaga komunikasi tetap jelas dan sederhana

    Kebanyakan orang yang mengidap gangguan obsesif kompulsif akan terus-menerus meminta pembenaran atau validasi dari orang-orang di sekitar mereka.

    Jangan heran bila pasangan yang punya OCD akan sering bertanya, “Apakah kamu yakin sudah mengunci pintunya?” atau “Apakah aku sudah benar-benar membersihkannya?”

    OCD sering kali dipicu oleh keraguan terhadap suatu hal. Penting bagi Anda untuk memberikan kepastian yang jelas dan sederhana untuk mencegah pertengkaran dengan pasangan.

    3. Tetapkan batasan dalam hubungan

    Selain menjaga komunikasi, penting juga bagi Anda untuk menetapkan batasan sedari dini. Hal ini dapat membantu mencegah konflik antara Anda dan pasangan di kemudian hari.

    Batasan tersebut mungkin dengan cara memberi tahu bahwa Anda tidak akan terlibat dalam setiap perilaku kompulsif yang mereka lakukan.

    Sebagai contoh, Anda tidak akan mencuci tangan setiap kali mereka mencuci tangan karena sesuatu yang dianggap kotor, padahal sebenarnya sudah bersih.

    4. Berikan waktu pribadi untuk pasangan

    me time

    Beberapa orang mungkin menganggap pasangan yang mengidap kondisi kronis, seperti OCD, membutuhkan perhatian lebih sehingga mengharuskan Anda selalu ada bersamanya.

    Pandangan ini keliru karena pengidap OCD dapat dibiarkan untuk merawat diri mereka sendiri dan memiliki me-time untuk memahami lebih jauh tentang kondisinya.

    Selain itu, tentu Anda pun memiliki kegiatan sendiri selain menemani pasangan. Hal ini mungkin bisa menjadi alasan bagi mereka untuk lebih menikmati banyak hal dalam hidup.

    5. Cobalah terlibat dalam perawatan

    Pada dasarnya gangguan obsesif kompulsif dapat dikelola meski tidak bisa hilang sepenuhnya.

    OCD bisa diatasi dengan melakukan terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi bertujuan untuk membentuk ulang pola pikir sehingga pasien bisa memberikan respons yang baik terhadap pemikiran obsesif.

    Pasien juga dapat menerima resep obat antidepresan yang perlu diminum rutin. Nah, Anda bisa memastikan pasangan telah meminum obat sesuai yang dianjurkan oleh dokter.

    Selain itu, Anda juga bisa ikut bertemu dengan dokter yang menangani pasangan untuk memberikan laporan terkait perkembangan kesehatan mentalnya.

    Kesimpulan

    • Gangguan obsesif kompulsif (OCD) yang dialami pasangan tentu berisiko menimbulkan konflik yang bisa merusak hubungan Anda.
    • Mendukung pasangan OCD bisa dengan cara membantu mereka dalam memperoleh perawatan dan menemukan cara efektif untuk mengatasi gejala yang timbul.
    • Komunikasi yang terbuka, jelas, dan sederhana merupakan kunci utama bagi Anda yang sedang menghadapi pasangan yang punya OCD.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

    General Practitioner · Klinik Chika Medika


    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan