home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Jomblo Bukan Nasib tapi Pilihan, Ini Penyebab Anda Masih Saja Melajang

Jomblo Bukan Nasib tapi Pilihan, Ini Penyebab Anda Masih Saja Melajang

Melajang memang menjadi pilihan bagi sebagian orang. Namun, bagi sebagian orang, status melajang justru menjadi sumber kecemasan. Tak bisa dipungkiri, tak sedikit orang yang takut menyendiri atau jadi jomblo terlalu lama. Terlepas dari stigma sosial yang mengolok-olok para jomblo, keinginan memiliki pasangan sebenarnya hal yang amat normal. Lantas, apa yang menjadi penyebab Anda masih saja melajang dan tak kunjung menemukan pasangan?

Hal ini bisa jadi penyebab seseorang masih melajang

Mencari pasangan yang tepat nyatanya memang tak semudah memasangkan pakaian dengan warna senada. Tak jarang, Anda berkali-kali gagal sampai akhirnya putus asa karena tak tahu di mana letak salahnya. Ujungnya, Anda menyerah begitu saja dan mulai berpikir bahwa menjadi jomblo sejatinya adalah nasib.

Mencari tahu penyebab Anda terus melajang memang membutuhkan refleksi diri. Beberapa poin di bawah ini mungkin bisa membantu Anda menemukan jawaban rasa penasaran Anda.

1. Menilai diri terlalu rendah

Sebagian orang kerap merasa dirinya tidak cukup berharga sehingga tidak pantas mendapatkan pasangan yang baik. Bisa jadi, ini menjadi penyebab Anda tak kunjung mendapat pasangan tanpa Anda sadari.

Menurut psikolog klinis Lisa Firestone, mengkritik diri sendiri terlalu keras dapat menjadi penyebab seseorang masih melajang dalam waktu lama. Terus memiliki pikiran negatif, seperti Anda terlalu gemuk, terlalu tua, atau tak cukup pintar untuk si dia hanya akan membuat Anda menarik diri dari orang lain.

Anda bahkan mungkin berpikir bahwa orang tersebut begitu naif sampai-sampai bisa menyukai Anda, mengingat penampilan Anda yang Anda pikir tak menarik. Padahal, bisa jadi, Andalah yang justru terlalu merendahkan diri sendiri. Mungkin saja, si dia tak masalah dengan kekurangan Anda dan bisa menerimanya, bahkan lebih jauh, ia menganggapnya sebagai daya pikat.

2. Menetapkan standar pasangan ideal terlalu muluk

Sikap menutup diri dari calon pasangan bukan hanya dipicu oleh kurangnya rasa percaya diri. Orang yang terlalu percaya diri juga enggan membuka diri pada orang yang menurutnya tidak memenuhi kriteria pasangan ideal.

Pasalnya, orang dengan kepercayaan diri tinggi kerap menentukan standar yang terlalu muluk atau tidak realistis sehingga membuatnya menjadi sangat pemilih saat mencari pasangan.

Sebagai contoh, Anda sering langsung menolak seseorang secara mentah-mentah karena tampilan fisiknya yang tak sesuai dengan standar Anda. Anda memilih tidak memberikan kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh. Padahal, bisa saja ketika Anda mengenal kepribadiannya lebih dalam justru Anda merasa nyaman berbagi cerita dengannya.

Ya, menetapkan standar yang tidak realsistis, terutama dari tampilan fisik, memang bisa jadi penyebab Anda masih melajang tanpa Anda sadari. Betul bahwa Anda tak bisa mengabaikan sepenuhnya soal tampilan fisik. Namun, di balik itu, mungkin saja ada hal lain yang menarik dalam kepribadiannya, yang bisa menarik hati Anda.

3. Mengharapkan hubungan yang sempurna

Seperti apa pun kriteria pasangan ideal Anda, sebelumnya Anda perlu yakin dengan tujuan menjalin hubungan asmara atau berkomitmen dengan seseorang.

Sebagian besar orang bersandar pada kepercayaan happily ever after dalam menjalani hubungan. Anda berharap pasangan Anda haruslah mereka yang bisa membahagiakan Anda di sepanjang hidup Anda. Biasanya, inilah yang bisa menjadi bumerang dan akhirnya membuat Anda kembali melajang.

Jika berpikir bahwa pasangan Anda haruslah orang yang membuat Anda selalu bahagia, Anda tentu tidak akan pernah menemukan sosok maha sempurna itu. Meskipun terdengar klise, Anda tak pernah bisa menggantungkan kebahagiaan Anda pada orang lain.

Faktanya, tidak ada hubungan yang sempurna. Sekalipun dari mereka yang Anda pikir sempurna. Pasangan yang tampak bahagia juga mengalami pasang surut. Mereka pasti mengalami masa-masa sulit untuk mengusahakan kebahagiaan bersama.

Persiapkanlah diri Anda untuk mengalami masa sulit dalam mengarungi sebuah hubungan, selain tentunya kebahagiaan.

4. Terlalu lama menentukan pilihan

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam mencari pasangan yang tepat. Anda mungkin tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Bisa juga, pengalaman masa lalu pernah dikhianati membuat Anda butuh waktu lama untuk mengenal banyak orang sampai akhirnya menjatuhkan pilihan.

Keuntungan mengenal beberapa orang terlebih dulu memang membuat Anda terhindar dari pilihan yang salah. Namun, hal ini juga dapat menjadi penyebab Anda masih juga berakhir melajang seorang diri.

Proses pendekatan dengan beberapa calon pasangan dalam satu waktu tentunya bisa melelahkan. Tak jarang, Anda kehilangan rasa antusias untuk mengenal setiap pasangan di tengah proses PDKT. Pada akhirnya, Anda berujung tak memilih siapa pun.

Untuk menghindari rasa jenuh selama PDKT dengan beberapa orang, cobalah untuk mengerucutkan pilihan Anda. Jika Anda berprinsip untuk menjalani komitmen yang serius, jangan membuang waktu untuk penjajakan dengan mereka yang hanya ingin menjalani hubungan santai.

Tak masalah untuk mengutarakan keinginan Anda sejelas mungkin di awal dan usahakan untuk bersikap tegas ketika Anda merasa tidak cocok.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Firestone, L. (2013). 8 Reasons You Might Still Be Single. Psychologytoday.com. Retrieved 8 May 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/compassion-matters/201311/8-reasons-you-might-still-be-single

Clark, V. (2018). The 3 Big Reasons You’re Still Single. Psyshcentral.com. Retrieved 8 May 2020, from https://psychcentral.com/blog/3-reasons-youre-still-single/

Kravitz, J. (2018). Why Am I Single? 6 Reasons You Haven’t Found A Relationship Yet, According To Experts. Elitedaily.com. Retrieved 8 May 2020, from https://www.elitedaily.com/p/why-am-i-single-6-reasons-you-havent-found-a-relationship-yet-according-to-experts-8151909

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 27/05/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri