backup og meta

Konten Bersponsor 

10 Penyebab Utama Pertengkaran dalam Keluarga

Pertengkaran dalam keluarga merupakan kondisi yang wajar terjadi, tetapi lebih baik dihindari. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui hal apa saja yang berpotensi menjadi pemicu konflik dalam keluarga.

10 Penyebab Utama Pertengkaran dalam Keluarga

Apa saja penyebab pertengkaran keluarga?

Pada umumnya, pertengkaran dalam keluarga disebabkan oleh perbedaan pendapat atau pandangan antara satu sama lain. Supaya lebih memahaminya dan lebih mudah menghindarinya, simak penjelasan berikut.

1. Perbedaan pola asuh anak

Pola asuh anak yang berbeda dapat menjadi penyebab pertengkaran dalam keluarga. Sebagai contoh, Anda sejak kecil selalu dimanja orangtua, sedangkan pasangan diajarkan untuk mandiri.

Perbedaan pola asuh membuat Anda sering berselisih paham dengan pasangan dalam memperlakukan anak. Ini terjadi karena masing-masing pihak merasa pola asuhnya paling benar.

2. Pendapat atau pandangan yang berbeda

Tak jarang, perbedaan pendapat dalam keluarga lebih mudah memicu amarah dibandingkan perbedaan pendapat dengan teman. Pasalnya, Anda mungkin merasa tidak didukung oleh orang terdekat.

Jika tidak ada yang mau mengalah, pertengkaran menjadi tidak terhindarkan. Bahkan, masalah yang sebenarnya kecil bisa menjadi besar karena keegoisan masing-masing.

3. Masalah keuangan

Masalah keuangan tentu menjadi salah satu penyebab pertengkaran keluarga yang paling umum. Biasanya, konflik terjadi ketika pemasukan tidak sebanding dengan pengeluaran.

Permasalahan keuangan mungkin juga berakar dari pembagian harta warisan. Keinginan untuk mendapatkan bagian yang lebih besar biasanya menjadi awal mula keributan.

4. Perbedaan budaya

Pertengkaran dalam keluarga besar juga bisa disebabkan oleh budaya yang berbeda. Contoh yang sering terjadi, misalnya wanita di keluarga Anda tidak boleh bekerja karena harus mengurus rumah tangga.

Sementara itu, pasangan Anda mempunyai pendirian untuk tetap bekerja setelah menikah. Anda mungkin tidak mempermasalahkannya, tetapi hal tersebut bisa memicu pergunjingan dalam keluarga besar.

5. Hadirnya orang baru

Kehadiran orang baru bisa menyebabkan pertengkaran dalam keluarga. Hal ini dijelaskan dalam studi berjudul Mothers’ attributions for estrangement from their adult children pada 2023 lalu.

Dalam studi tersebut, sebanyak 70% ibu menyebutkan bahwa kehadiran orang baru mengakibatkan keretakan hubungan dengan anaknya. Orang baru di sini bisa berupa pacar anak atau pasangan baru ibu.

6. Persaingan antar saudara

bahaya bullying

Sibling rivalry atau persaingan antarsaudara juga sering memicu konflik. Beberapa anak mungkin ingin selalu terlihat lebih baik dari saudaranya sendiri demi menarik perhatian orangtua.

Situasi tersebut tidak hanya membuat anak sering bertengkar, tetapi juga menyebabkan stres pada orangtua. Kebijaksanaan orangtua diperlukan agar persaingan dalam keluarga tak terjadi lagi.

7. Penyakit yang dimiliki anggota keluarga

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan anggota keluarga yang sakit berpotensi memicu pertikaian. Sebagai contoh, tinggal bersama seseorang yang mengidap masalah mental, seperti gangguan bipolar.

Perubahan emosi pada seseorang dengan bipolar yang tidak menentu mungkin membuat Anda stres dan kewalahan. Jika Anda tidak kuat menghadapinya, keributan dalam keluarga mungkin lebih sering terjadi.

8. Kekerasan dalam rumah tangga

Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dapat membuat keluarga sering bertengkar. Tidak hanya secara fisik, ada pula bentuk kekerasan lain, seperti kekerasan verbal, emosional, hingga finansial.

Sebagai contoh, saat melihat ibu dipukul oleh ayah, Anda akan merasa tidak terima. Sebagai bentuk pembelaan, Anda mungkin terlibat dalam konflik dengan ikut berdebat atau memukul balik.

9. Merasa tidak dihargai

Setiap orang bisa memiliki aturan dan batasan pada suatu hal. Namun, kedekatan dalam keluarga mungkin membuat beberapa orang tidak sengaja sudah melewati batas yang telah disepakati.

Sebagai contoh, membatalkan janji keluarga karena diajak bermain oleh teman. Padahal, Anda sudah terlebih dahulu membuat janji dengan orang tua atau kakak.

Hal tersebut dapat memunculkan perasaan tidak dihargai. Jika terjadi terus-menerus, situasi tersebut berpotensi menjadi penyebab perpecahan keluarga.

10. Kritik dan komentar yang melewati batas

Saat tinggal bersama keluarga pasangan, Anda mungkin sering dikritik oleh mertua. Terkadang, kritik yang diberikan bisa jadi melewati batas dan menyebabkan sakit hati.

Jika mertua memang keras kepala dan suka mengkritik, hindari menanggapinya dengan emosi. Bila kelewat batas, bicarakan hal ini dengan pasangan untuk mencari jalan tengahnya.

Cara mencegah pertengkaran dalam keluarga

Pertengkaran keluarga memang bisa menguras emosi dan kerap menimbulkan stres. Kabar baiknya, sama seperti pertengkaran lain, konflik dalam keluarga adalah hal yang bisa dicegah atau setidaknya diminimalkan frekuensinya.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah pertengkaran dalam keluarga.

  • Luangkan waktu untuk dihabiskan bersama keluarga setiap minggunya.
  • Biasakan untuk menegur secara halus dan jangan membiasakan memendam sesuatu.
  • Saling menghargai, menjadi keluarga bukan berarti bebas melakukan apa yang Anda mau.
  • Usahakan untuk menghindari asumsi, bicarakan apa yang Anda mau karena keluarga belum tentu memahaminya jika disampaikan secara tersirat.

Jika hanya terjadi sesekali, konflik dalam keluarga adalah hal yang normal. Namun, perlu diingat bahwa pertengkaran rumah tangga yang terjadi terus-menerus atau dibiarkan bisa menimbulkan kondisi yang lebih rumit dan sulit ditangani.

Kesimpulan

  • Beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab konflik keluarga adalah perbedaan pendapat, masalah keuangan, kehadiran orang baru, persaingan antarsaudara, hingga kondisi medis anggota keluarga.
  • Demi mencegah perpecahan keluarga, usahakan meluangkan waktu untuk mereka, membiasakan menegur secara halus, alih-alih memendam sesuatu, dan saling menghargai.
  • Perselisihan dan perbedaan pendapat dalam keluarga memang hal wajar. Namun, bukan berarti hal ini bisa dibiarkan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Parental conflict. (n.d.). Barnardo’s Family Space. Retrieved 19 August 2025, from https://families.barnardos.org.uk/families/parental-conflicts

Smith, M. (2018, November 2). Dealing with difficult family relationships. HelpGuide.org. Retrieved 19 August 2025, from https://www.helpguide.org/articles/relationships-communication/dealing-with-difficult-family-relationships.htm

Smart ways to resolve conflicts at home – Health encyclopedia – University of Rochester Medical Center. (n.d.). University of Rochester Medical Center | UR Medicine. Retrieved 19 August 2025, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx

Schoppe-Sullivan, S. J., Coleman, J., Wang, J., & Yan, J. J. (2023). Mothers’ attributions for estrangement from their adult children. Couple and Family Psychology: Research and Practice12(3), 146-154. Retrieved 19 August 2025, from https://doi.org/10.1037/cfp0000198

Sibling rivalry. (n.d.). Nemours KidsHealth – the Web’s most visited site about children’s health. Retrieved 19 August 2025, from https://kidshealth.org/en/parents/sibling-rivalry.html

What causes relationship problems? | APS. (n.d.). Australian Psychological Society | APS. Retrieved 19 August 2025, from https://psychology.org.au/for-the-public/psychology-topics/relationship-problems/what-causes-relationship-problems

Family and relationship problems. (2025, January 31). Information Now. Retrieved 19 August 2025, from https://www.informationnow.org.uk/article/family-and-relationship-problems/

Versi Terbaru

19/08/2025

Ditulis oleh Bayu Galih Permana

Ditinjau secara medis oleh Ririn Nur Abdiah Bahar, S.Psi., M.Psi.

Diperbarui oleh: Hillary Sekar Pawestri


Artikel Terkait

7 Cara Menghadapi Masalah Keluarga dengan Bijak

5 Cara Cepat Mendinginkan Emosi Pasangan yang Sedang Marah


Ditinjau oleh Ririn Nur Abdiah Bahar, S.Psi., M.Psi. · Psikologi · None · Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Diperbarui 19/08/2025

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan