Aromantis, Saat Anda Tak Tertarik pada Hubungan Romantis

Aromantis, Saat Anda Tak Tertarik pada Hubungan Romantis

Perasaan jatuh cinta terkadang mampu membuat dunia seakan jungkir balik. Akan tetapi, orang yang aromantis bisa tidak mengalami ketertarikan romantis dengan orang lain.

Mengapa ada orang yang tidak bisa merasakan cinta, ya? Simak pembahasannya di bawah ini.

Apa itu aromantis?

Aromantis adalah orang yang tidak memiliki dan tidak merasakan ketertarikan untuk menjalani hubungan romantis terhadap orang lain.

Ketika Anda meyukai orang lain sebagai pasangan hidup potensial, kondisi ini disebut sebagai ketertarikan romantis.

Ketertarikan romantis adalah reaksi emosional yang menghasilkan keinginan pada diri seseorang untuk menjalin hubungan asmara dengan orang lain, baik secara fisik maupun emosional.

Hubungan yang dimaksud ini bisa sebagai pacar maupun pasangan dalam hubungan rumah tangga.

Nah, orang aromantis tidak memiliki atau mengalami dorongan untuk menjalin asmara dengan orang lain, sebab mereka memang tidak punya insting untuk terkoneksi lewat hubungan romantis.

Jadi, ini bukan karena mereka tidak mau memiliki koneksi emosional dengan orang lain atau hanya karena “takut jatuh cinta” alias sulit berkomitmen.

Mengapa seseorang bisa menjadi aromantis?

aromantis aromantik

Aromantisme tidak didefinisikan dari apakah seseorang pernah atau belum pernah berpacaran. Namun, ini lebih menekankan pada apakah orang tersebut ingin menjalin hubungan asmara.

Jika seorang aromantik memutuskan untuk menjalin hubungan asmara dengan orang lain, ia masih akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang aromantik saat menyudahi hubungan itu.

Hal ini karena aromantisme merupakan bagian dari jati diri seseorang, bukan sebuah pilihan hidup yang bisa berubah sewaktu-waktu

Melabeli aromantisme sebagai kelainan sebenarnya kurang tepat karena aromantisme seolah dianggap sebagai sebuah kondisi yang menyulitkan orang-orang yang memilikinya.

Ada kesalahpahaman bahwa orang yang tidak mau menjalani hubungan asmara pasti merasa sedih, kesulitan, dan kesepian.

Mereka pun kadang disamakan dengan orang-orang yang sedih karena menjomlo. Kenyataannya, orang yang aromantik pada dasarnya tidak merasa terganggu dengan jati diri mereka.

Menurut definisi, penyakit atau gangguan mental haruslah sesuatu yang menyebabkan penderitaan, kecacatan, dan risiko kesehatan terhadap orang yang memilikinya. Sementara itu, aromantisme tidak demikian.

Orang aromantis masih bisa mencintai orang lain

Banyak masyarakat masih sering mengaitkan daya tarik atau ketertarikan dengan cinta. Akan tetapi, pada dasarnya ketertarikan tidak hanya terbatas sampai di situ.

Cinta nonromantis bisa saja sama bergairahnya dengan cinta romantis untuk orang aromantis.

Daya tarik bukanlah cinta. Ada jenis cinta selain cinta romantis, misalnya cinta kepada orangtua, kakak-adik, orang lain yang murni hanya sebatas teman (platonik), hewan, hingga diri sendiri.

Maka dari itu, aromantis masih bisa merasakan cinta dengan cara yang tidak terlihat romantis.

Selain merasakan jenis cinta yang berbeda, aromantis juga bisa merasakan cinta yang sama kuatnya seperti cinta pada pasangan yang terlibat dalam hubungan asmara.

Pada dasarnya, mereka tetap dapat mencintai teman, keluarga, anak, dan hewan peliharaannya. Mereka hanya tidak memiliki minat atau dorongan terhadap hubungan dan hal-hal yang berbau romantis.

Aromantis tidak selalu aseksual

apa itu aromantis

Aromantisme tidak berkaitan dengan orientasi seksual. Mungkin saja orang yang heteroseksual, homoseksual, atau biseksual mengidentifikasi dirinya sebagai aromantis.

Jadi, bisa saja ada seorang laki-laki gay yang sama sekali tidak ingin menjalin hubungan romantis dengan laki-laki lain.

Gairah dan ketertarikan seksual orang aromantik tidak berbeda dengan orang yang menjalani hubungan romantis. Ia juga tetap menikmati atau menginginkan seks seperti orang lainnya.

Secara garis besar, orang aromantik tidak mengalami daya tarik romantis, sedangkan orang aseksual tidak mengalami daya tarik seksual.

Aseksualitas adalah orientasi seksual, seperti heteroseksualitas atau homoseksualitas. Bedanya, aseksualitas ditandai dengan kurang atau tidak adanya ketertarikan seksual terhadap orang lain.

Seseorang bisa mengidentifikasi dirinya sebagai aromantis, tetapi belum tentu aseksual. Hal ini berarti mereka memiliki ketertarikan seksual terhadap orang lain, tetapi mereka hanya tidak memiliki ketertarikan romantis.

Begitu juga sebaliknya, orang aseksual bisa saja memiliki keinginan untuk menjalin hubungan asmara dengan orang lain tanpa adanya kegiatan seksual.

Tips menjalin hubungan dengan seorang aromantis

Meski tidak berminat terhadap hubungan romantis, bukan berarti orang aromantik tidak ingin berpacaran atau mengarungi rumah tangga.

Aromantisme juga bukan sekadar masalah komitmen. Mereka hanya tidak mampu merasakan ketertarikan emosional yang diperlukan dalam hubungan asmara.

Alih-alih jatuh cinta pada seseorang dan menjadikannya sebagai pasangan romantis, mereka justru lebih menginginkan sebuah hubungan platonik.

Artinya, mereka bisa menginginkan seorang pasangan hidup layaknya sebagai sahabat sejati untuk mendapatkan kepuasan emosional.

Orang-orang aromantis pun masih bisa merasakan ketertarikan fisik dan ketertarikan seksual.

Bahkan mereka bisa merasa tertarik dengan kecerdasan dan kualitas kepribadian orang lain tanpa merasa perlu membangun hubungan mendalam yang penuh keromantisan.

Mereka tetap bisa menjalin hubungan dengan orang lain, baik dalam bentuk pacaran maupun rumah tangga. Namun, hubungan ini tidak melibatkan kualitas emosional cinta romantis pada umumnya.

Kesimpulan

  • Aromantis adalah orang-orang tidak punya dan tidak merasakan ketertarikan romantis terhadap orang lain.
  • Bukan takut berkomitmen, orang yang aromantik tetapi bisa menjalin hubungan secara emosional atau bahkan seksual dengan pasangannya.
  • Jika pasangan Anda ialah seorang aromantis, cobalah hargai pilihannya dan berikan dukungan yang ia butuhkan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 2 hari lalu

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan