Wah, Ternyata Begini 5 Tahap Jatuh Cinta Menurut Sains

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Jatuh cinta adalah sebuah proses alami yang begitu indah tetapi cukup rumit. Jika Anda perhatikan, orang yang sedang jatuh cinta bisa bertingkah aneh dan konyol, bahkan terkadang bisa melakukan hal-hal yang di luar akal sehat.

Cinta memang begitu menakjubkan. Namun, bukan berarti cinta adalah sebuah misteri yang tak bisa dijelaskan sama sekali. Ternyata, para ahli berhasil merumuskan lima tahap penting dalam proses jatuh cinta berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh Anda. Penasaran apa yang terjadi pada tubuh Anda ketika dimabuk cinta? Segera simak tahap jatuh cinta menurut sains berikut ini.

1. Terpikat

Sebelum Anda jatuh cinta pada seseorang, Anda tentu akan merasakan ketertarikan yang hebat pada awal bertemu atau berbicara. Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang tampak memikat di hati Anda, misalnya penampilan, suara, cara berbicara, bahasa tubuh, usia, atau kesamaan sifat dan latar belakang.

Pada tahap pertama ini, hal-hal yang membuat dirinya memikat akan mengaktifkan bagian otak Anda yang bernama reseptor opiod. Reaksi otak ini serupa dengan reaksi yang muncul ketika tubuh menerima obat pereda nyeri yaitu morfin. Bagian opioid bertanggung jawab untuk mengendalikan perasaan suka atau tidak suka akan suatu hal.

BACA JUGA: 13 Hal yang Terjadi Pada Tubuh Saat Jatuh Cinta

Sebuah studi dalam jurnal Molecular Psychiatry tahun 2014 mengungkap bahwa para peserta penelitian yang diberi morfin cenderung lebih mudah merasa terpikat pada orang lain dibandingkan mereka yang tidak diberikan morfin. Ini berarti aktivitas otak memang berperan sangat penting pada proses jatuh cinta.

2. Kasmaran

Setelah Anda merasa terpikat pada seseorang, Anda tentu ingin tahu lebih banyak soal dirinya dan ingin berada di dekatnya. Inilah tahap jatuh cinta kedua yang dikenal dengan fase kasmaran. Tahap jatuh cinta ini ditandai dengan munculnya euforia atau perasaan sangat gembira dan antusias berlebihan. Tubuh akan memicu produksi hormon dopamin, adrenalin, dan norepinefrin.

Akan tetapi, perasaan bahagia yang muncul juga diikuti dengan ketegangan. Ini karena hormon adrenalin adalah salah satu hormon yang diproduksi ketika Anda sedang stres. Maka tak heran jika di saat Anda dan si dia sedang kencan pertama, Anda jadi merasa tegang dan gugup setengah mati. Beberapa orang menunjukkan reaksi tubuh yang berbeda-beda terhadap ketegangan ini. Ada orang yang jadi berkeringat, gelisah, mual, sakit perut, bahkan gatal-gatal. Biasanya jantung Anda juga akan berdegup lebih kencang saat bersama dengan orang yang Anda sukai.

BACA JUGA: Kulit Gatal Tanpa Sebab? Mungkin Anda Sedang Stres

Hormon norepinefrin yang merupakan stimulan juga akan membuat Anda sulit tidur. Selain itu, saat bersama dengan orang yang Anda sukai, Anda tiba-tiba jadi lebih perhatian soal segala hal tentangnya. Mulai dari caranya tersenyum, tawanya, atau ekspresi wajahnya. Ini karena hormon tersebut membuat Anda jadi lebih waspada, sama seperti efek yang dialami setelah Anda mengonsumsi minuman berkafein.

3. Dunia berputar di sekitar Anda

Ketika Anda berusaha untuk mengenal dan mencari tahu soal dirinya lebih dalam, Anda akan masuk dalam tahap jatuh cinta yang ketiga. Dalam tahap ini, peredaran darah menuju bagian otak yang disebut nukleus akumben meningkat jadi lebih deras.

Nukleus akumben adalah bagian otak yang mengendalikan kenikmatan dan penghargaan (reward). Maka, ketika Anda sedang bersama orang yang Anda sukai atau memikirkan soal dirinya, otak akan membacanya sebagai bentuk kenikmatan dan reward bagi diri Anda.

Hal ini mirip dengan reaksi otak terhadap candu. Karena otak sudah menerima informasi seputar kekasih Anda sebagai hal yang memuaskan, otak akan terus memerintahkan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda akan dirinya. Inilah yang membuat Anda selalu mendambakan sosoknya dan tak pernah bosan dengan dirinya di awal masa jatuh cinta. Hidup Anda pun jadi berputar di sekitar kekasih. Apa pun yang Anda lakukan atau pikirkan, sosoknya pasti muncul dalam benak Anda. Anda juga jadi rela melakukan apa saja demi menyenangkan dirinya, bahkan hal-hal yang konyol atau sulit sekalipun.

4. Cinta itu buta

Jatuh cinta membuat kadar zat-zat tertentu dalam otak seperti serotonin berkurang, terutama pada laki-laki. Kondisi ini banyak diamati pada orang-orang yang mengidap gangguan obsesif kompulsif (OCD). Pasalnya, kadar serotonin yang rendah menjadi alasan mengapa Anda jadi merasa begitu terobsesi pada pasangan.

Perasaan ini juga menyebabkan Anda untuk mengabaikan sifat-sifat negatif pasangan dan hanya mau melihat sifat-sifat positifnya saja. Inilah mengapa banyak orang bilang bahwa cinta itu buta. Dalam beberapa kasus, kadar serotonin rendah yang dibarengi dengan naiknya hormon adrenalin dan norepinefrin mampu meningkatkan gairah seksual.

5. Berkomitmen pada satu sama lain

Lama-lama tubuh Anda akan mulai terbiasa dengan berbagai perubahan yang terjadi pada hormon, otak, dan fungsi tubuh lainnya ketika jatuh cinta. Karena itu, Anda pun mulai merasa lebih nyaman, tak lagi gugup sampai keringatan atau sakit perut ketika bersamanya. Inilah tahap jatuh cinta yang terakhir, yaitu membangun komitmen dan ikatan berdua.

BACA JUGA: 5 Tanda Utama Bahwa Anda Sudah Siap Menikah

Dua hormon yang berperan penting dalam tahap ini adalah oksitosin dan vasopresin. Keduanya juga sering disebut sebagai hormon cinta. Meningkatnya oksitosin dan vasopresin dalam tubuh akan membuat Anda merasa tenteram dan aman ketika sedang bersama dengan pasangan atau saat Anda hanya memikirkannya saja. Inilah yang mendorong Anda dan pasangan untuk saling berkomitmen pada satu sama lain.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

    Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
    Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

    4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

    Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

    4 Alasan Psikologis Cinta Bisa Memudar

    Putus cinta bukanlah kalimat yang mudah diterima begitu saja. Cari tahu kenapa cinta Anda atau pasangan bisa hilang dan memudar meski sudah berjalan lama.

    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

    Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    mencium bau

    Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

    Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    penis bengkok

    Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    memotong kuku

    Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit