home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

3 Efek Rasa Cemas Berlebih pada Kesehatan Tubuh

3 Efek Rasa Cemas Berlebih pada Kesehatan Tubuh

Setiap orang dapat merasa cemas dengan alasan yang berbeda-beda. Rasa khawatir ini umumnya dipicu oleh situasi seperti menjelang ujian, sebelum kencan pertama, sebelum berbicara di depan banyak orang, dan sebagainya. Namun bagi penderita gangguan kecemasan alias anxiety disorder, kondisi ini sering kali datang tanpa penyebab yang jelas. Rasa cemas berlebih pun muncul dan hilang berulang kali dalam waktu bertahun-tahun hingga membawa efek buruk pada tubuh.

Apa saja efek cemas berlebih pada tubuh?

Kecemasan dan rasa khawatir wajar dimiliki oleh setiap orang. Namun, tanpa disadari, kecemasan berlebih ternyata dapat mempengaruhi tubuh dan menyebabkan Anda menjadi sakit secara fisik. Tapi, bagaimana caranya?

Pengalaman yang buruk dapat menyebabkan tubuh mengaktifkan respons stres yang akan menyebabkan perubahan emosional dalam tubuh. Perubahan emosional tersebut dapat meningkatkan kemampuan tubuh dalam menangani ancaman, salah satunya berupa stres.

Orang yang mengalami kecemasan berlebih, terutama pada pengidap gangguan kecemasan, biasanya mengalami periode kesedihan dan pesimisme yang berkepanjangan, ketegangan yang tidak pernah usai, dan sinisme atau kecurigaan yang tidak putus-putus.

Nah, jika stres akibat cemas terlalu sering terjadi, tubuh akan memerlukan waktu lebih lama untuk pulih. Hasilnya, tubuh akan berada dalam keadaan “siaga” terus-menerus.

Ketika tubuh sudah dalam keadaan “siaga” terlalu lama, maka kinerja tubuh akan terganggu. Ini dapat menyebabkan berbagai macam masalah fisik, psikologis, dan emosional. Permasalahan tersebut tentunya dapat melibatkan banyak sistem, organ, dan kelenjar yang dipengaruhi oleh respon stres.

Berikut adalah beberapa gangguan kesehatan tubuh sebagai efek nyata dari cemas berlebih.

1. Gangguan pencernaan

Kecemasan dapat membuat terganggunya produksi hormon serotonin dan adrenalin. Akibatnya, ketika merasa khawatir dan cemas berlebih, Anda akan mengalami mual.

Hal tersebut terjadi karena saat cemas, usus akan mengirimkan pesan ke otak bahwa Anda harus merasa takut dan menyebabkan mual. Tanpa disadari, rasa khawatir dapat menyebabkan banyak tekanan pada perut, termasuk asam lambung.

Hal ini dapat berpengaruh terhadap proses pencernaan dalam tubuh. Akibatnya, sering kali ketika Anda merasa cemas, Anda akan merasa ada sesuatu yang salah terjadi pada perut Anda.

Ditambah lagi, menurut laman NHS, rasa cemas dan khawatir juga bisa mengganggu keseimbangan pada sistem pencernaan. Hal ini bisa menyebabkan perut kembung, sembelit, diare, bahkan penurunan nafsu makan.

2. Penyakit infeksi

Setiap harinya, tubuh Anda bertempur melawan kuman, virus, atau bahkan bakteri yang akan dan telah masuk pada tubuh.

Tanpa disadari, cemas berlebih dapat membawa efek negatif pada sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, Anda lebih mudah terkena penyakit infeksi seperti flu, pilek, dan batuk.

Sebenarnya, gejala yang muncul akibat kecemasan tersebut tidak berbahaya. Gejala sakit tersebut terjadi muncul sebagai respons tubuh melawan stres atau rasa khawatir yang sedang dialami. Meskipun begitu, tetap saja gejala sakit yang dialami akan menyebabkan ketidaknyamanan.

3. Penyakit kronis

Selain infeksi akut, efek casa cemas berlebih pada tubuh juga berupa peningkatan risiko terserang penyakit kronis, seperti asma, artritis, sakit kepala, tukak lambung, dan penyakit jantung.

Jadi, sudah jelas bahwa terlalu banyak stres dapat membuat seseorang merasa sakit. Hal tersebut terjadi karena hormon stres dapat memengaruhi sistem saraf tubuh dan sistem lainnya seperti organ dan kelenjar dalam tubuh.

Selain itu, stres yang berkepanjangan akan diikuti oleh penyakit atau flu karena hormon stres dapat menekan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh lebih rentan terhadap kuman, bakteri, ataupun virus.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri