Hipertensi dalam Kehamilan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 12/05/2020 . Waktu baca 14 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu hipertensi dalam kehamilan?

Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi di mana tekanan darah meningkat saat hamil. Tekanan darah tinggi yang tidak segera diatasi dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi kesehatan pada ibu dan janin.

Untungnya, kondisi ini masih dapat diatasi dengan cara melakukan perubahan gaya hidup serta konsumsi obat-obatan tertentu.

Seberapa umumkah hipertensi dalam kehamilan terjadi?

Hipertensi adalah kondisi yang umum terjadi dalam kehamilan. Menurut Medscape, diperkirakan terdapat sekitar 10 persen kasus tekanan darah tinggi yang ditemukan selama kehamilan.

Ibu yang hamil pertama kali, hamil terlalu muda, atau terlalu tua berisiko tinggi mengalami peningkatan tekanan darah saat hamil. Selain itu, wanita yang menderita hipertensi sebelum hamil juga berpeluang menderita kondisi ini.

Lebih lanjut lagi, kondisi ini lebih banyak terjadi pada wanita berkulit hitam dibanding dengan wanita ras lainnya. Pada wanita berkulit hitam, gejala-gejala biasanya muncul pada kehamilan di usia muda.

Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Jenis

Apa saja jenis-jenis hipertensi yang terjadi dalam kehamilan?

Hipertensi yang terjadi selama masa kehamilan dapat dibagi menjadi empat jenis. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing jenis yang ada:

1. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional adalah peningkatan tekanan darah yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Umumnya, kondisi ini tidak disertai dengan gejala-gejala tertentu karena kenaikan tekanan darah tidak cukup besar. Tekanan darah penderita hipertensi gestasional akan kembali normal setelah melahirkan.

Namun, diperkirakan sebanyak sepertiga ibu hamil dengan kondisi ini menunjukkan tanda-tanda dan gejala tertentu dan rentan mengalami preeklampsia. Preeklampsia merupakan jenis lain dari hipertensi yang terjadi saat hamil.

2. Preeklampsia

Preeklampsia adalah kondisi tekanan darah tinggi yang dapat terjadi selama masa-masa akhir kehamilan, yaitu sekitar minggu ke 20 atau lebih. Namun, biasanya gejala-gejala akan muncul pada usia ke-34 minggu kehamilan. Dalam beberapa kasus, gejala justru baru muncul 48 jam setelah melahirkan.

Berbeda dengan hipertensi gestasional, penderita preeklampsia memiliki kadar protein yang tinggi di dalam urinnya. Selain itu, terkadang muncul bengkak di bagian kaki dan tangan.

Kondisi ini diduga berkaitan dengan masalah pada plasenta atau ari-ari bayi. Namun, penyebab pastinya masih belum diketahui. Meski demikian, para ahli meyakini bahwa kurang nutrisi atau tingginya kadar lemak dalam tubuh berpengaruh dalam kondisi ini.

Dalam beberapa kasus, tekanan darah penderita preeklampsia tidak menurun ke tingkat normal 1-6 minggu setelah melahirkan.

3. Hipertensi kronis

Kondisi tekanan darah tinggi kronis merupakan jenis yang paling umum terjadi pada ibu hamil. Sebanyak 90-95% kasus hipertensi dalam kehamilan tergolong dalam jenis ini.

Hipertensi kronis biasanya terjadi ketika kehamilan belum memasuki usia 20 minggu. Tidak seperti hipertensi gestasional, tekanan darah terkadang tidak akan kembali normal setelah melahirkan. Sebanyak 1 dari 4 wanita dengan hipertensi kronis mengalami preeklampsia.

4. Hipertensi kronis dengan preeklampsia

Hipertensi kronis juga terkadang dapat terjadi dengan preeklampsia. Kondisi ini ditunjukkan dengan adanya kenaikan tekanan darah yang parah serta adanya protein di dalam urin.

Umumnya, kondisi ini menimpa ibu hamil dengan hipertensi kronis yang sudah ada sejak sebelum kehamilan.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari hipertensi dalam kehamilan?

Tanda-tanda dan gejala hipertensi, termasuk hipertensi dalam kehamilan, tidak akan selalu terlihat atau muncul. Menurut American Heart Association, tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang dapat “membunuh secara diam-diam” karena kebanyakan penderita tidak menunjukkan tanda-tanda dan gejala apapun.

Maka itu, memeriksa dan mengontrol tekanan darah selama kehamilan wajib untuk dilakukan. Setiap calon ibu harus menyadari bahwa tekanan darah berisiko meningkat sebelum, selama, bahkan setelah kehamilan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda perlu waspada apabila muncul tanda-tanda dan gejala berikut selama Anda hamil:

  • Bengkak di wajah, tangan, dan kaki.
  • Berat badan naik secara drastis dalam 1-2 hari.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Suasana hati memburuk.
  • Napas menjadi lebih pendek.
  • Sakit perut, terutama di bagian atas.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Urine berkurang saat buang air kecil.
  • Penglihatan buram atau berbayang.
  • Lebih sensitif terhadap cahaya.
  • Kejang.

Jika Anda mengalami tanda-tanda dan gejala di atas, ada kemungkinan hipertensi yang Anda alami mungkin sudah memasuki tahapan yang lebih parah, seperti preeklampsia.

Namun, bila muncul tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas selama masa kehamilan, Anda tetap harus waspada. Selalu periksakan apapun kekhawatiran yang Anda miliki ke dokter.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Agar Anda mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang muncul ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab hipertensi dalam kehamilan?

Belum diketahui apa yang menjadi penyebab pasti dari hipertensi dalam kehamilan. Namun, beberapa kondisi kesehatan dapat memicu terjadinya kenaikan tekanan darah selama masa kehamilan.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Berat badan berlebih atau obesitas.
  • Merokok.
  • Minum alkohol.
  • Hamil untuk pertama kalinya.
  • Hamil kembar.
  • Berusia lebih dari 35.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi dalam kehamilan?

Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada hampir setiap wanita. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau mengalami kondisi kesehatan tertentu. Faktor risiko hanya merupakan kondisi yang dapat memperbesar peluang tersebut.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya hipertensi dalam kehamilan:

1. Usia

Faktor usia dapat berpengaruh pada kondisi ini. Wanita yang hamil di atas usia 35 tahun lebih berisiko mengalami peningkatan tekanan darah selama masa kehamilan.

Selain itu, wanita yang menderita tekanan darah tinggi sebelum kehamilan juga lebih berisiko mengalami komplikasi saat hamil.

2. Jenis kehamilan

Jika Anda wanita yang baru pertama kali hamil, besar kemungkinan Anda dapat mengalami tekanan darah tinggi selama masa kehamilan. Peluang tersebut akan mengecil pada kehamilan selanjutnya.

Selain itu, hamil bayi kembar juga dapat meningkatkan risiko Anda menderita hipertensi. Hal ini disebabkan karena tubuh bekerja lebih keras untuk menyediakan nutrisi pada bayi-bayi di dalam kandungan.

Menurut American Society for Reproductive Medicine, menggunakan alat bantu kehamilan (seperti fertilisasi in vitro atau bayi tabung) juga memperbesar kesempatan calon ibu untuk menderita tekanan darah tinggi.

3. Memiliki gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa penyebab utama hipertensi adalah gaya hidup yang tidak sehat, serta mengonsumsi makanan berlemak atau terlalu banyak garam.

Selain itu, memiliki berat badan berlebih atau obesitas juga menjadi salah satu faktor utama pemicu tekanan darah tinggi, termasuk pada ibu hamil.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh hipertensi dalam kehamilan?

Apabila tekanan darah tinggi dalam kehamilan tidak segera ditangani, terdapat beberapa masalah kesehatan yang dapat mengancam ibu dan bayi di dalam kandungan. Berikut adalah komplikasi-komplikasi yang berpotensi terjadi:

1. Abruptio plasenta

Tekanan darah yang meningkat selama kehamilan berisiko menyebabkan putusnya plasenta atau ari-ari bayi dari dinding rahim. Kondisi ini dinamakan dengan abruptio plasenta.

Pada kasus yang parah, dapat terjadi pendarahan berat yang berisiko mengancam nyawa ibu dan bayi di dalam kandungan. Bahkan, ada kemungkinan bayi dapat meninggal di dalam kandungan (stillbirth).

2. Bayi lahir prematur

Dalam beberapa kasus, peningkatan tekanan darah pada ibu mengharuskan bayi lahir secara prematur. Kelahiran dapat dikategorikan sebagai prematur apabila usia janin belum mencapai 37 minggu.

Bayi yang terlahir prematur umumnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai masalah kesehatan

3. Tumbuh kembang dan kesehatan bayi terganggu

Tekanan darah tinggi mengakibatkan plasenta tidak mendapat asupan darah yang cukup. Kondisi ini berpotensi menyebabkan bayi terlahir dengan berat badan kurang.

Selain itu, beberapa masalah pada tumbuh kembang dan kesehatan bayi akan muncul, seperti penurunan kemampuan belajar, epilepsi, cerebral palsy, serta gangguan penglihatan dan pendengaran.

4. Sindrom HELLP

HELLP adalah singkatan dari hemolisis, elevated liver enzyme (peningkatan enzim pada hati), dan low platelet count (penurunan kadar trombosit).

Sindrom HELLP ini termasuk kondisi kesehatan yang berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat memicu terjadinya preeklampsia.

Beberapa tanda dan gejala yang dapat muncul meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Sakit kepala
  • Sakit perut bagian atas

Sindrom ini dapat merusak organ-organ penting dalam tubuh, penderita perlu mendapatkan penanganan medis darurat. Penanganan umumnya berfokus pada menurunkan tekanan darah ibu. Dalam beberapa kasus, bayi di dalam kandungan harus dilahirkan secara prematur.

5. Eklampsia

Eklampsia adalah bentuk preeklampsia yang lebih parah. Kondisi ini terjadi pada 1 dari 200 penderita preeklampsia. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini sangat berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa.

Hal yang membedakan dengan preeklampsia adalah eklampsia disertai dengan kejang. Dalam beberapa kasus, penderita dapat mengalami penurunan kesadaran, bahkan koma.

6. Posterior reversible encephalopathy syndrome (PRES)

Sindrom ini ditandai dengan gejala-gejala kelainan saraf, seperti sakit kepala, kesadaran menurun, gangguan penglihatan, kejang, bahkan koma.

Selain disebabkan oleh peningkatan tekanan darah, sindrom ini juga dapat dipicu oleh masalah kesehatan lainnya, seperti fungsi ginjal yang bermasalah, penyakit autoimun, serta obat-obatan tertentu,

7. Penyakit jantung dan pembuluh darah

Seperti halnya hipertensi biasa, hipertensi dalam kehamilan juga dapat meningkatkan risiko ibu hamil menderita berbagai jenis penyakit jantung dan pembuluh darah.

Tekanan darah yang meningkat menyebabkan pembuluh darah rusak dan fungsi jantung menurun dalam jangka panjang. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya gagal jantung dan serangan jantung.

8. Kerusakan pada organ tubuh penting lainnya

Selain merusak jantung dan pembuluh darah, hipertensi juga dapat mengurangi suplai darah pada organ-organ tubuh vital, seperti otak, paru-paru, dan ginjal.

Apabila dibiarkan, kondisi ini dapat memicu munculnya penyakit-penyakit seperti stroke dan gagal ginjal.

Diagnosis dan pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana dokter mendiagnosis hipertensi dalam kehamilan?

Tekanan darah dapat dikatakan tinggi apabila berada di angka sistolik dan diastolik tertentu. Angka sistolik merupakan angka yang menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah, sedangkan angka diastolik menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat dan tidak memompa darah.

Apabila Anda mengalami hipertensi dalam kehamilan, angka tekanan sistolik Anda mencapai 140 milimeter air raksa (mmHg) atau lebih. Sementara itu, angka tekanan diastolik Anda berada di kisaran 90 mmHg atau lebih.

Penghitungan tekanan darah biasanya dikategorikan sebagai berikut:

  • Tekanan darah naik (prehipertensi): Angka sistolik berada di kisaran 120-129 mmHg, dan angka diastolik di bawah 80 mmHg. Kondisi ini belum tergolong dalam hipertensi.
  • Hipertensi tahap 1: Jika angka sistolik berada di kisaran 130-139 mmHg atau diastolik berada di angka 80-89 mmHg, kemungkinan Anda menderita hipertensi tahap 1.
  • Hipertensi tahap 2: Jika angka sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, dan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, Anda mungkin menderita hipertensi tahap 2.

Apabila Anda hamil lebih dari 20 minggu dan tekanan darah meningkat setelah diperiksa sebanyak 2 kali dalam rentang waktu 4 jam, ada kemungkinan Anda mengidap hipertensi gestasional.

Dokter juga mungkin akan meminta Anda melakukan tes darah dan tes urin untuk mengetahui jenis hipertensi yang Anda derita, serta apakah ada organ yang mengalami kerusakan.

Pada ibu hamil, hipertensi biasanya akan terdeteksi saat sedang melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan.

Bagaimana hipertensi dalam kehamilan diobati?

Umumnya, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan perubahan pada pola makan dan gaya hidup terlebih dahulu sebelum memberikan obat-obatan.

Selain itu, Anda juga diharuskan lebih banyak istirahat di rumah atau bed rest. Beristirahat yang cukup dapat membantu menurunkan tekanan darah, pembuangan cairan berlebih dari ginjal (diuresis), serta mengurangi risiko kelahiran prematur.

Pemberian obat-obatan biasanya berfokus pada hipertensi yang sudah parah serta berisiko menimbulkan komplikasi, baik pada ibu dan bayi. Selama pemberian obat-obatan antihipertensi, dokter akan rutin mengawasi kondisi kesehatan janin Anda.

Berikut adalah obat-obatan antihipertensi yang dapat diberikan pada ibu hamil:

1. Alpha-adrenergic agonist

Jenis obat alpha-adrenergic agonist yang sering diberikan pada ibu hamil adalah methyldopa. Penggunaan obat ini tidak berpotensi menimbulkan masalah kesehatan maupun tumbuh kembang pada bayi, bahkan setelah bayi lahir dan tumbuh.

Obat ini bekerja pada saraf-saraf Anda, sehingga Anda mungkin akan mengalami beberapa efek samping, seperti terganggunya waktu tidur Anda. Selain itu, terdapat pula kemungkinan naiknya enzim hati.

Namun, konsumsi obat ini secara sendirian umumnya kurang efektif. Biasanya, obat methyldopa akan dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya, seperti diuretik.

Selain methyldopa, obat alpha-adrenergic agonist lain yang dapat diresepkan adalah clonidine. Obat ini memiliki efek samping yang lebih kuat apabila dibanding dengan methyldopa, serta terdapat potensi mengganggu pertumbuhan janin.

2. Beta-blocker

Obat beta-blocker umumnya aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Jenis beta-blocker yang sering digunakan untuk mengatasi hipertensi dalam kehamilan adalah labetalol. Efek samping yang mungkin timbul adalah tubuh mudah lelah, serta gangguan pernapasan.

3. Calcium channel blocker

Obat calcium channel blocker, terutama jenis nifedipine dan verapamil, biasanya diberikan pada ibu hamil untuk mengatasi hipertensi. Namun, terdapat beberapa efek samping yang timbul, terutama apabila obat ini dikonsumsi dalam jangka panjang.

Beberapa di antaranya adalah gangguan pernapasan, masalah pada saraf-saraf otot, serta terpengaruhnya tumbuh kembang janin.

Obat-obatan antihipertensi yang umumnya tidak boleh dikonsumsi untuk ibu hamil adalah angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, angiotensin II receptor blocker, serta renin inhibitor.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan di rumah  yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertensi dalam kehamilan?

Cara paling mudah untuk mengatasi hipertensi dalam kehamilan serta mencegah terjadinya komplikasi adalah dengan menjaga gaya hidup yang sehat. Berikut cara-caranya:

  • Rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan selama masa kehamilan.
  • Meminum obat-obatan antihipertensi yang telah diresepkan oleh dokter.
  • Aktif berkegiatan fisik. Namun, pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis olahraga yang sesuai dengan kondisi dan kehamilan Anda.
  • Menjalani pola makan rendah garam.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Paru-Paru Anda

    Menjaga kesehatan paru-paru dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan mudah. Apa saja? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin
    Kesehatan Pernapasan 13/08/2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Tips Mencegah Rumah Menjadi Sarang Nyamuk

    Bingung kenapa banyak nyamuk di rumah? Mungkin Anda "membuka" sarang nyamuk di rumah Anda. Yuk simak cara mencegah sarang nyamuk pada artikel ini.

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 13/08/2020 . Waktu baca 4 menit

    Bladder Outlet Obstruction (Obstruksi Outlet Kandung Kemih)

    Obstruksi outlet kandung kemih (bladder outlet obstruction) adalah penyumbatan yang mengurangi atau menghentikan aliran urine ke uretra.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Urologi, Kandung Kemih 13/08/2020 . Waktu baca 6 menit

    Sistokel (Kandung Kemih Turun)

    Sistokel adalah kondisi ketika kandung kemih turun atau jatuh ke area vagina, akibat melemahnya dinding rahim. Bagaimana pengobatannya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Urologi, Kandung Kemih 13/08/2020 . Waktu baca 8 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    moisturizer dulu atau sunscreen

    Moisturizer Dulu Atau Sunscreen? Ini Urutan Pemakaian yang Benar

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 14/08/2020 . Waktu baca 3 menit
    obat meriang

    4 Jenis Obat Meriang yang Bisa Dibeli di Apotek

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 14/08/2020 . Waktu baca 5 menit
    ingus

    Memahami dari Mana Asal Ingus dan Ciri-Ciri Ingus yang Berbahaya

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 14/08/2020 . Waktu baca 5 menit
    Konten Bersponsor
    manfaat konsumsi kalsium

    4 Alasan Tubuh Tetap Perlu Kalsium di Masa AKB

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 14/08/2020 . Waktu baca 5 menit