Dermatitis Herpetiformis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu dermatitis herpetiformis?

Dermatitis herpetiformis adalah penyakit autoimun yang berdampak pada peradangan kulit. Jenis dermatitis ini memunculkan ruam kemerahan seperti luka bakar yang melepuh, mirip dengan lesi atau luka akibat infeksi virus herpes zoster.

Ruam akibat dermatitis ini menimbulkan rasa gatal yang intens sehingga membutuhkan pengobatan untuk mengatasinya.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Dermatitis herpetiformis adalah penyakit kulit yang jarang terjadi.

Dermatitis ini biasanya ditemukan pada orang dewasa dalam rentang umur 30-40 tahun, tapi lebih sering menyerang laki-laki ketimbang perempuan. Penyakit ini umumnya juga lebih sering memengaruhi orang ras kaukasian dibandingkan keturunan Asia atau Afrika.

Risiko penyakit ini juga lebih umum ditemukan pada orang-orang yang memiliki penyakit Celiac. Menurut Celiac Disease Foundation, 10-15 % orang yang terdampak oleh dermatitis jenis ini juga mengalami penyakit celiac.

Anda dapat mengurangi kemungkinan terjangkit penyakit ini dengan mengurangi beberapa faktor risiko. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dermatitis herpetiformis?

Peradangan pada kulit tidak terjadi dengan seketika.

Kemunculan gejala dermatitis herpetiformis ditandai dengan sensasi terbakar yang menyengat pada permukaan kulit, setelahnya bintik-bintik kemerahan barulah mulai muncul satu per satu.

Gejala umum dari dermatitis herpetiformis adalah sebagai berikut:

  • Bintik-bintik kemerahan yang mengumpul
  • Luka yang melepuh mirip luka bakar (lesi)
  • Luka mirip gigitan serangga
  • Rasa gatal yang tak tertahankan
  • Sensasi terbakar

Gejala dapat muncul di kulit kepala, wajah, siku, lengan bawah, lutut, bahu, punggung, dan bokong. Namun, biasanya gejala tidak langsung muncul pada kedua sisi bagian tubuh.

Selama 1-2 minggu lesi yang melepuh biasanya akan mengerak dan berubah menjadi borok. Bagian yang terkelupas akan meninggalkan bekas keunguan, yang diikuti dengan kemunculan kumpulan bintik-bintik kemerahan baru pada bagian tubuh lainnya.

Beberapa penderita dermatitis herpetiformis yang memiliki penyakit Celiac bisa mengalami cacat permanen pada email gigi.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Dermatitis herpetiformis dapat diobati jika gejalanya masih ringan.

Gejala bisa bertambah parah apabila terus digaruk atau tergores ketika melakukan aktivitas fisik. Apabila hal ini terjadi, maka kulit bisa lebih rentan mengalami iritasi dan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur.

Bahkan dalam beberapa kasus, pertahanan imun dan gangguan hormon dapat memicu dermatitis hingga menjadi infeksi herpes.

Oleh karena itu, jika Anda mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan di atas, segerakan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Penyebab

Apa penyebab dermatitis herpetiformis?

Penyebab dermatitis herpetiformis tidak berkaitan sama sekali dengan infeksi.

Dermatitis herpetiformis termasuk penyakit gangguan autoimun yang menyebabkan penumpukan antibodi immunoglobulin A (IgA) pada pembuluh darah di dalam kulit. Hal ini berkaitan dengan kondisi intoleransi gluten.

Intoleransi gluten adalah masalah pencernaan yang disebabkan oleh sensitivitas tubuh terhadap gluten, jenis protein yang ditemukan pada makanan yang bertepung. Intoleransi gluten sering ditemukan pada pengidap penyakit Celiac.

Penumpukan antibodi IgA akibat konsumsi gluten kemudian dapat mengalir dalam darah dan memicu reaksi sistem imun yang berlebihan. Hal ini akan menyebabkan penyumbatan pada jaringan kulit dan memicu terbentuknya lesi kulit.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk penyakit kulit ini?

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko untuk terkena dermatitis herpetiformis. Namun, penyakit ini cenderung terjadi pada orang-orang dengan:

  • Anggota keluarga menderita penyakit celiac atau intoleransi gluten
  • Keturunan Eropa
  • Diabetes tipe 1
  • Sindrom Down atau sindrom Turner
  • Penyakit kelenjar tiroid
  • Sindrom Sjogren
  • Kolitis

Walaupun Anda tidak memiliki faktor risiko di atas, bukan berarti Anda bisa terbebas dari penyakit ini. Anda bisa mewaspadai kemunculan penyakit ini dengan mengenali gejala-gejalanya.

Diagnosis

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?

Dalam tahap awal mendiagnosis penyakit ini, dokter akan melakukan identifikasi gejala. Dokter juga akan memeriksa riwayat kesehatan Anda, apakah sebelumnya pernah mengalami penyakit kulit lainnya atau tidak.

Gejala dermatitis herpetiformis bisa saja salah dikenali sebagai gejala dermatitis atopik, dermatitis kontak, atau psiorasis. Oleh karena itu, biasanya dokter akan meminta Anda untuk menjalani beberapa tes.

Tes yang digunakan untuk mendiagnosis dermatitis herpetiformis adalah:

  • Biopsi kulit: dokter akan mengambil sampel kulit yang terdampak dan mengalisisnya pada mikroskop. Jika diketahui terdapat antibodi IgA, maka diagnosis menunjukan Anda positif herpetiformis. Jika sebaliknya, diagnosis ini bisa menentukan penyebab atau faktor pemicu dari gejala peradangan kulit yang dialami.
  • Tes darah: pengambilan sampel darah untuk mengidentifikasi keberadaan antibodi IgA pada darah.
  • Patch test: tes uji tempel dilakukan untuk mengetahui apakah ada jenis alergen tertentu yang menyebabkan terjadinya peradangan pada kulit.

Pada penderita penyakit celiac, diagnosis penyakit bisa disertai dengan biopsi pada usus atau saluran pencernaan untuk melihat kerusakan yang terjadi pada bagian usus.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk dermatitis herpetiformis?

Belum terdapat obat yang dapat menyembuhkan dermatitis herpetiformis secara menyeluruh, tapi gejalanya masih bisa dikendalikan.

Proses pengobatan dermatitis herpestiformis bergantung dari beratnya penyakit. Pengobatan yang umum termasuk mengonsumsi obat-obatan, mengoleskan pelembab dan salep, merendam kulit dalam air hangat, serta  melakukan diet gluten.

Obat-obatan untuk dermatitis herpetiformis adalah dapsone untuk mengatasi rasa gatal dengan cepat, tapi biasanya dikonsumsi hanya untuk sementara. Obat ini biasanya akan berekasi dalam waktu 48 hingga 72 jam setelah dikonsumsi.

Untuk penderita yang tidak bisa mengonsumsi dapsone, obat jenis sulfapyridine atau sulfasalazine bisa digunakan, meskipun tidak terlalu efektif.

Selain itu, krim atau salep kortikosteroid, losion kalamina, antihistamin juga dapat mengurangi terjadinya peradangan dan mengendalikan gejala ruam kemerahan yang melepuh.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi dermatitis herpetiformis?

Gaya hidup dan pengobatan rumah di bawah dapat membantu Anda mengatasi penyakit ini

  • Gunakan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter.
  • Hindari makanan yang mengandung gluten (ditemukan pada jenis gandum).
  • Hindari aktivitas yang menyebabkan tubuh berkeringat lebih.
  • Bersihkan kulit untuk mengurangi risiko infeksi.
  • Pemeriksaan ulang sesuai dengan jadwal dokter.
  • Cuci pakaian, haduk dan seprai secara teratur.
  • Hubungi dokter jika lepuhan pada kulit memburuk atau muncul luka baru selama pengobatan.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cacar Api pada Anak: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Penyakit cacar api bisa muncul pada anak dan bayi jika pernah terinfeksi cacar air. Ketahui gejala dan cara mengatasinya di sini!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Anak, Parenting 24 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Kapan Harus Menggunakan Obat Antijamur Saat Muncul Gatal pada Kulit?

Gatal-gatal dapat mengganggu aktivitas harian. Temukan kapan obat oles atau salep berguna untuk mengatasi gatal-gatal karena jamur kulit.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
ilustrasi wanita terkena infeksi jamur kulit yang dapat diatasi dengan obat oles atau salep jamur kulit
Dermatologi, Health Centers 22 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Bahan Alami yang Bisa Dimanfaatkan untuk Obat Kudis Tradisional

Obat kudis tradisional dengan bahan-bahan alami dapat melengkapi pengobatan medis yang dilakukan sehingga penyakit kulit ini teratasi lebih cepat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dermatologi, Health Centers 22 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Setiap Jenis Cacar Berbeda Penyebabnya, Bagaimana Pengobatannya?

Berbeda jenis cacar, maka berbeda pula cara mengobati gejalanya. Pastikan Anda mengenali setiap jenis cacar sehingga tidak salah melakukan penanganan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dermatologi, Health Centers 21 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala psoriasis

Berbagai Gejala Psoriasis, Baik Secara Umum Maupun Sesuai Jenisnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 7 menit
psoriasis

Psoriasis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 12 menit
penyebab penyakit kulit

Penyebab Penyakit Kulit Beserta Faktor yang Meningkatkan Risikonya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 11 menit
skin fasting adalah

Menilik Skin Fasting, Tren ‘Puasa’ Skincare agar Kulit Lebih Cantik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 28 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit